Puisi: Di Dada, Waktu (Karya Dimas Arika Mihardja)

Puisi “Di Dada, Waktu” karya Dimas Arika Mihardja mengajak pembaca menyadari bahwa setiap pengalaman adalah jejak yang dapat diabadikan—bahwa di ...
Di Dada, Waktu

Di dada, waktu tumbuh menyemak
dan jejak sajak lupa kau simak. Ia
meriwayatkan semesta, merekam
aneka kejadian.

Di dada, waktu terus berbiak
pohon hayat mendedahkan aneka isyarat
ayat-ayat menyayat
atau keluh yang pekat.

Di dada, waktu terus berlalu
jemari tanganku tak lelah menangkap kelebatmu
mengabadikannya di kedalaman mimpi-mimpi indahmu.

Jambi, 2010

Sumber: Dekap Aku, Kekasih (Bengkel Publisher, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi “Di Dada, Waktu” karya Dimas Arika Mihardja adalah sajak reflektif yang mengangkat pergulatan manusia dengan waktu, ingatan, dan penciptaan. Dengan bahasa yang padat simbol dan metafora, puisi ini memosisikan waktu bukan sebagai sesuatu yang eksternal, melainkan sebagai sesuatu yang hidup dan tumbuh di dalam diri manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah waktu dan eksistensi manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ingatan, penciptaan (sajak), serta upaya manusia mengabadikan pengalaman hidup.

Waktu digambarkan bukan sekadar aliran kronologis, tetapi sebagai sesuatu yang organik—tumbuh, berbiak, dan berlalu di dalam dada.

Puisi ini bercerita tentang waktu yang hidup di dalam dada seseorang. Waktu tumbuh “menyemak”, berbiak, dan merekam semesta serta berbagai kejadian. Ia juga diibaratkan sebagai “pohon hayat” yang menyingkap aneka isyarat dan ayat-ayat kehidupan.

Pada bagian akhir, penyair berusaha menangkap kelebat waktu dengan jemarinya dan mengabadikannya dalam mimpi-mimpi indah. Ada usaha sadar untuk menjadikan pengalaman yang fana menjadi sesuatu yang lebih abadi melalui ingatan atau karya.

Makna Tersirat

Puisi ini menunjukkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan dari diri manusia. Ia hidup dalam dada—dalam kesadaran, ingatan, dan perasaan.

Ungkapan “jejak sajak lupa kau simak” menyiratkan bahwa manusia sering mengabaikan pesan-pesan kehidupan yang sebenarnya telah direkam oleh waktu. Sementara itu, “pohon hayat” menjadi simbol kehidupan yang terus berkembang, penuh tanda dan makna.

Upaya menangkap “kelebatmu” menandakan kerinduan manusia untuk mengabadikan yang fana—barangkali melalui puisi, mimpi, atau karya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa kontemplatif dan reflektif. Tidak ada ledakan emosi yang keras, melainkan perenungan yang dalam tentang perjalanan waktu dan makna hidup.

Di beberapa bagian, terasa pula nuansa getir melalui frasa seperti “ayat-ayat menyayat” dan “keluh yang pekat”, yang menghadirkan kesan luka batin dan kepadatan pengalaman hidup.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk lebih peka terhadap waktu dan pengalaman hidup. Waktu bukan hanya sesuatu yang berlalu, tetapi sesuatu yang menyimpan makna dan isyarat.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia perlu mengabadikan pengalaman hidupnya—melalui karya, ingatan, atau refleksi—agar tidak hilang begitu saja dalam arus waktu.

Puisi “Di Dada, Waktu” karya Dimas Arika Mihardja menghadirkan perenungan mendalam tentang waktu sebagai bagian dari eksistensi manusia. Waktu bukan sekadar angka atau hitungan, melainkan entitas hidup yang tumbuh dan berbiak di dalam diri.

Penyair mengajak pembaca menyadari bahwa setiap pengalaman adalah jejak yang dapat diabadikan—bahwa di dada manusia, waktu terus hidup dan berbicara.

"Puisi Dimas Arika Mihardja"
Puisi: Di Dada, Waktu
Karya: Dimas Arika Mihardja
© Sepenuhnya. All rights reserved.