Sumber: Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
Analisis Puisi:
Puisi “Di Gumuk Candi” menghadirkan suasana pedesaan yang kental dengan aroma tradisi, alam, dan mitos lokal. D. Zawawi Imron merangkai percakapan puitis antara tokoh-tokoh dengan latar gunung berkabut, makanan tradisional, serta figur perempuan yang sarat simbol.
Puisi ini memadukan unsur budaya, cinta, dan kehilangan dalam bahasa yang liris serta penuh metafora.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan pencarian cinta dalam lanskap tradisi dan kenangan. Selain itu, puisi ini juga memuat tema:
- Dialog antara pendatang dan penjaga tradisi.
- Ingatan masa lalu.
- Bayangan dan kehilangan.
- Mistisisme alam.
Secara umum, puisi ini bercerita tentang percakapan antara seorang “anak dari pulau seberang” dengan sosok perempuan tua (Mbok Randa Dadapan). Penyair seakan mencari “kolam jernih berpagar rindu”—sebuah simbol tempat pertemuan atau refleksi cinta.
Awal puisi menggambarkan suasana lembut dan akrab melalui citra kuliner tradisional:
“sesendok garam meresap ke lalap semanggi ke dalam rempeyek teri oleh tangan Si Minah perawan sunti”
Detail ini menegaskan akar budaya dan keseharian desa.
Kemudian muncul dialog yang memperdalam misteri. Sang anak dari pulau seberang ingin “bercermin” di kolam jernih itu, terlebih bila bertemu “cundrik di sanggul Sayut Wiwit”—simbol perempuan atau masa lalu yang memikat.
Namun jawaban yang datang justru bernuansa ganjil dan muram. Disebutkan bahwa seorang wanita menggali kubur di bawah pohon kemadu, mencari bayang-bayangnya. Gambaran ini menghadirkan kesan kehilangan, penyesalan, atau cinta yang tak tersampaikan.
Makna Tersirat
Puisi ini sangat kaya dan terbuka untuk tafsir.
- “Kolam jernih berpagar rindu” melambangkan tempat kenangan atau hati yang menyimpan cinta lama.
- “Bercermin” bisa dimaknai sebagai usaha memahami diri melalui ingatan akan masa lalu.
- Wanita yang menggali kubur mencari bayang-bayang menunjukkan cinta yang telah hilang atau tak terbalas.
- Anak dari pulau seberang mungkin simbol pendatang yang membawa cerita lama dan meninggalkan luka.
Puisi ini menyiratkan bahwa cinta dan perpisahan sering kali meninggalkan jejak mendalam di ruang dan waktu tertentu.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini berlapis:
- Lembut dan hangat di awal.
- Nostalgis.
- Mistis.
- Melankolis pada bagian akhir.
Awalnya pembaca diajak menikmati suasana desa yang akrab. Namun menjelang akhir, suasana berubah menjadi sendu dan sedikit menyeramkan dengan gambaran kubur dan bayang-bayang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini antara lain:
- Setiap pertemuan dan perpisahan meninggalkan jejak dalam ingatan.
- Jangan abaikan perasaan yang tulus, karena kehilangan dapat menjadi penyesalan panjang.
- Tradisi dan tempat menyimpan cerita yang tak lekang oleh waktu.
- Masa lalu tidak pernah sepenuhnya hilang; ia bisa muncul kembali sebagai bayang-bayang.
Puisi ini mengingatkan bahwa cinta dan kenangan tidak hanya hidup dalam diri, tetapi juga melekat pada ruang dan alam.
Puisi “Di Gumuk Candi” karya D. Zawawi Imron memadukan keindahan lanskap desa, kekayaan tradisi, dan misteri cinta yang hilang. Dengan bahasa simbolik dan dialog puitis, penyair menghadirkan kisah tentang pencarian, rindu, dan bayang-bayang masa lalu.
Puisi ini bukan sekadar tentang tempat bernama Gumuk Candi, melainkan tentang ruang batin tempat kenangan dan kehilangan terus hidup—kadang selembut salam, kadang semuram kubur yang digali di bawah cahaya bulan.

Puisi: Di Gumuk Candi
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.