Di Puncak Gunung Bibi
Masih tergenggam erat etika dan tatakrama Jawa
bagi Merapi, hingga setiap kali terbatuk
tak menyemburkan dahak dan liurnya ke timur
arah Gunung Bibi yang lebih tua
di mana tersimpan silsilah asal mula dirinya
"Gunung ini leluhur Merapi." Ujar pencari rencek
di tepian belukar (tanpa bumbu kelakar)
hingga kisah gunung purba ini tak lagi samar.
"Percayalah, gunung pun bisa beranak-pinak
seperti cicak, seperti pohon cemara
juga serupa kita, umat manusia...."
Di puncak Gunung Bibi bersama pemandu mendaki
seperti terhampar kembali peta silaturahmi
yang hampir dilupakan anak cucu sendiri
ketika zaman makin dangkal diterjemahkan
sampai lahar dan awan panas dikatakan bencana
oleh jutaan mata yang gampang terpana
oleh jutaan mulut di negeri ini yang gampang sekali berdusta
2016
Sumber: Sumber: Cincin Api (2019)
Analisis Puisi:
Puisi “Di Puncak Gunung Bibi” karya Iman Budhi Santosa adalah puisi yang memadukan kearifan lokal, mitologi alam, dan kritik sosial. Dengan latar Gunung Bibi dan Merapi, penyair tidak hanya berbicara tentang gunung sebagai bentang geografis, tetapi juga sebagai simbol leluhur, silsilah, dan hubungan manusia dengan alam serta sejarahnya.
Puisi ini kuat dalam nuansa budaya Jawa dan refleksi terhadap cara pandang modern yang kerap dangkal dalam memahami makna alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hubungan antara manusia, alam, dan warisan leluhur. Selain itu, terdapat tema tentang etika budaya Jawa, penghormatan terhadap asal-usul, serta kritik terhadap cara berpikir modern yang reduktif.
Gunung dalam puisi ini bukan sekadar objek alam, melainkan simbol silsilah dan kesinambungan generasi.
Puisi ini bercerita tentang Gunung Bibi sebagai leluhur Merapi. Penyair menggambarkan Merapi yang masih memegang etika dan tata krama Jawa, hingga ketika “terbatuk” pun tidak menyemburkan dahaknya ke arah timur—ke arah Gunung Bibi yang lebih tua.
Seorang pencari rencek (kayu bakar) menjelaskan bahwa Gunung Bibi adalah leluhur Merapi. Gunung pun bisa “beranak-pinak” seperti makhluk hidup. Di puncak Gunung Bibi, bersama pemandu, penyair seperti melihat kembali peta silaturahmi yang hampir dilupakan generasi kini.
Namun di akhir puisi, muncul kritik tajam: zaman yang dangkal menerjemahkan lahar dan awan panas hanya sebagai bencana. Banyak mata mudah terpana dan banyak mulut mudah berdusta.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah pentingnya menghormati asal-usul dan memahami alam tidak hanya sebagai fenomena fisik, tetapi juga sebagai bagian dari warisan spiritual dan budaya.
Merapi yang menjaga etika Jawa menyiratkan bahwa bahkan alam pun memiliki tata krama dalam mitologi dan kepercayaan masyarakat. Gunung Bibi sebagai leluhur menunjukkan pentingnya silsilah dan hubungan genealogis—baik secara alamiah maupun simbolik.
Kritik terhadap “zaman makin dangkal diterjemahkan” mengandung pesan bahwa modernitas sering kali memutus hubungan manusia dengan akar budaya dan makna mendalam alam.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini khidmat, reflektif, sekaligus kritis. Pada bagian awal, suasana terasa sakral dan penuh penghormatan terhadap leluhur. Namun pada bagian akhir, suasana berubah menjadi tajam dan menyindir ketika menyinggung kedangkalan zaman dan kebiasaan berdusta.
Perubahan suasana ini memperkuat pesan bahwa ada jarak antara kebijaksanaan tradisi dan cara pandang masa kini.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah agar manusia tidak melupakan asal-usul dan nilai budaya yang diwariskan leluhur. Alam bukan hanya objek eksploitasi atau sensasi media, tetapi bagian dari silaturahmi panjang antara generasi.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa:
- Tradisi dan mitologi mengandung kebijaksanaan yang patut dihargai.
- Zaman yang dangkal bisa mengaburkan makna mendalam suatu peristiwa.
- Kejujuran dan kedalaman berpikir sangat diperlukan dalam memahami realitas.
Puisi “Di Puncak Gunung Bibi” karya Iman Budhi Santosa adalah puisi yang memadukan mitologi, budaya Jawa, dan kritik terhadap modernitas. Gunung Bibi dan Merapi menjadi simbol hubungan leluhur dan generasi yang seharusnya dijaga.
Melalui suasana sakral dan nada kritis, puisi ini mengajak pembaca untuk kembali memahami alam dan sejarah dengan kedalaman, bukan sekadar sebagai bencana atau sensasi. Dalam puncak gunung itu, tersimpan silaturahmi panjang yang menunggu untuk kembali diingat.
