Puisi: Dia yang Tersembunyi (Karya Okto Son)

Puisi “Dia yang Tersembunyi” karya Okto Son bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, terutama ...
Dia yang Tersembunyi

Aku merasakan kehadiran-Nya di lorong gelap hidupku
Ia datang menyapaku
Namun aku tak dapat melihat-Nya
Ia datang membawa kebahagiaan dalam hatiku
Hatiku terharu karena kehadiran-Nya
Rasanya ingin menangis, tetapi air mataku tak mau menetes
Karena dibekukan oleh rasa rindu
Hatiku bersukaria, bila Ia datang menyapaku
Aku sangat merindukan-Nya, bila aku tak merasakan kehadiran-Nya
Aku bertanya seperti apakah Dia ini, sehingga aku mencari-Nya?
Dia tak dapat dilihat oleh mataku
Namun ketika aku tak mencari-Nya hatiku akan dirundung kepiluan
Karena merasa tak ada cinta dalam diriku lagi
Engkau ada, tetapi Engkau tak dapat dilihat dengan mataku
Tetapi aku sangat megetahui keberadan-Mu dalam hatiku
Karena Engkau telah menjadikan aku serupa dengan Dikau
Kini aku mencari aku di dalam aku untuk menemukan aku
Dengan cahaya Ilahi-Mu, sebagai penerang untuk berjumpa dengan-Mu di dalam aku

2023

Analisis Puisi:

Puisi “Dia yang Tersembunyi” karya Okto Son merupakan puisi religius-reflektif yang mengangkat pengalaman spiritual seseorang dalam merasakan kehadiran Tuhan. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh perenungan, puisi ini menyuguhkan perjalanan batin tentang rindu, pencarian, dan penyatuan diri dengan Yang Ilahi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan pencarian Tuhan dalam diri. Puisi ini berbicara tentang relasi personal antara manusia dan Sang Pencipta, yang tidak tampak secara fisik tetapi sangat nyata dalam batin. Selain itu, terdapat subtema tentang kerinduan, kesadaran diri, dan pencarian makna keberadaan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, terutama saat berada dalam “lorong gelap” kehidupan. Ia tidak dapat melihat Tuhan dengan mata fisiknya, tetapi ia mampu merasakan kebahagiaan, keharuan, dan kedamaian ketika Tuhan hadir dalam hatinya.

Penyair juga mengalami kerinduan mendalam ketika merasa jauh dari-Nya. Dalam kondisi itu, hatinya diliputi kepiluan dan kehampaan cinta. Pada akhirnya, puisi ini bergerak menuju kesadaran bahwa pencarian Tuhan sesungguhnya adalah pencarian ke dalam diri sendiri, karena Tuhan hadir melalui “cahaya Ilahi” yang menerangi batin.

Makna Tersirat

Makna Tersirat dalam puisi ini adalah bahwa Tuhan tidak perlu dicari di luar diri secara fisik, sebab keberadaan-Nya dapat ditemukan dalam hati yang sadar dan bersih. Frasa:

“Kini aku mencari aku di dalam aku untuk menemukan aku”

mengandung makna filosofis yang dalam. Penyair ingin menyampaikan bahwa proses menemukan Tuhan adalah proses mengenal diri sendiri. Manusia diciptakan “serupa dengan Dikau”, yang mengisyaratkan bahwa dalam diri manusia terdapat pantulan sifat-sifat Ilahi seperti cinta, cahaya, dan kesadaran.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa krisis spiritual—rasa hampa, kehilangan cinta, atau kepiluan—muncul ketika manusia jauh dari kesadaran akan Tuhan. Sebaliknya, kebahagiaan sejati hadir bukan dari hal-hal material, tetapi dari hubungan batin dengan-Nya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung hening, kontemplatif, dan haru. Pada bagian awal, terasa suasana gelap dan sepi melalui ungkapan “lorong gelap hidupku”. Namun, suasana tersebut berubah menjadi hangat dan penuh sukacita ketika kehadiran-Nya dirasakan.

Ada pula suasana rindu yang mendalam, bahkan menyentuh sisi emosional yang kuat—terlihat dari keinginan menangis tetapi air mata “dibekukan oleh rasa rindu”. Secara keseluruhan, suasana puisi bergerak dari gelap menuju terang, dari kegelisahan menuju ketenangan spiritual.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa manusia hendaknya menyadari kehadiran Tuhan dalam hidupnya, terutama dalam situasi sulit. Tuhan mungkin tidak terlihat oleh mata, tetapi dapat dirasakan melalui hati yang peka.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa pencarian spiritual bukan sekadar ritual luar, melainkan perjalanan batin untuk mengenali diri. Dengan mengenal diri, manusia akan lebih mudah menemukan cahaya Ilahi yang selama ini tersembunyi.

Selain itu, pesan lainnya adalah pentingnya menjaga hubungan batin dengan Tuhan agar hati tidak diliputi kehampaan dan kehilangan cinta.

Puisi “Dia yang Tersembunyi” karya Okto Son adalah puisi religius yang sarat makna spiritual. Puisi ini mengingatkan bahwa “Dia yang Tersembunyi” sesungguhnya tidak pernah jauh—Ia hadir dalam hati yang mau mencari dan mengenali dirinya sendiri.

Oktovianus Son
Puisi: Dia yang Tersembunyi
Karya: Okto Son

Biodata Okto Son:

Oktovianus Son saat ini aktif sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.