Puisi: Hal-Hal yang Lahir dari Rindu (Karya Moh. Ghufron Cholid)

Puisi “Hal-Hal yang Lahir dari Rindu” karya Moh. Ghufron Cholid menghadirkan perenungan yang lembut sekaligus intim tentang rindu, kenangan, dan ...

Hal-Hal yang Lahir dari Rindu

Sudah berapa lama kau memandu cinta
Seumur pelangi
Atau sudah hitungan windu

Ada hal-hal yang lahir dari rindu
Yang tak bisa kau sangkal meski sedetik waktu

Kesendirian yang begitu karib
Pada akhirnya bertekuk lutut pada ingatan yang begitu hizib

Seketika senyummu yang pernah disembunyikan waktu
Berangsur kembali bisa kita lacak

Kenangan mengepungmu lalu mendekapmu begitu mesra
Yang kau ingat hanya kebersamaan yang tertata

Kaupun lupa deras airmata
Yang pernah menjadi tanda

Junglorong, 8 Januari 2023

Analisis Puisi:

Puisi “Hal-Hal yang Lahir dari Rindu” karya Moh. Ghufron Cholid menghadirkan perenungan yang lembut sekaligus intim tentang rindu, kenangan, dan cara waktu membentuk ulang perasaan manusia. Dengan diksi yang sederhana namun padat makna, puisi ini menempatkan rindu sebagai pusat pengalaman batin yang terus tumbuh, bahkan ketika waktu telah berlalu cukup lama.

Tema

Tema utama puisi ini adalah rindu dan ingatan dalam perjalanan waktu. Penyair menyoroti bagaimana rindu bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan sesuatu yang melahirkan pengalaman batin baru: kenangan, penyesalan, pengampunan, bahkan pelupaan terhadap luka.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang cinta di masa lalu. Pertanyaan pada larik awal, “Sudah berapa lama kau memandu cinta / Seumur pelangi / Atau sudah hitungan windu”, menunjukkan jarak waktu yang panjang. Ada jeda, ada pemisahan, ada masa yang telah lewat.

Namun di tengah waktu yang berlalu, ada “hal-hal yang lahir dari rindu”—yakni kenangan-kenangan yang kembali muncul. Kesendirian yang semula terasa kuat akhirnya kalah oleh ingatan. Kenangan itu mengepung dan mendekap, menghadirkan kembali senyum yang pernah tersembunyi oleh waktu.

Menariknya, pada akhir puisi, tokoh lirik justru melupakan air mata. Yang tersisa hanya kebersamaan yang tertata rapi dalam ingatan. Seolah-olah rindu telah menyaring pengalaman: menyimpan yang indah, mengaburkan yang perih.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa waktu tidak selalu menghapus perasaan. Justru dalam jarak dan kesendirian, rindu dapat menumbuhkan bentuk baru dari cinta—yakni kenangan yang lebih lembut dan terkurasi.

Beberapa makna tersirat yang bisa ditafsirkan:
  • Rindu sebagai proses pemurnian emosi. Luka dan air mata perlahan dilupakan, sementara kenangan indah tetap tinggal.
  • Ingatan lebih kuat dari kesendirian. “Kesendirian yang begitu karib / Pada akhirnya bertekuk lutut pada ingatan yang begitu hizib” menunjukkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri selama ia masih memiliki kenangan.
  • Waktu tidak selalu mematikan cinta. Bahkan setelah “hitungan windu”, rindu tetap mampu melahirkan kembali perasaan.
Puisi ini menyiratkan bahwa kenangan memiliki selektivitas emosional: ia menyimpan yang manis dan meredam yang pahit.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi cenderung:
  • Melankolis.
  • Reflektif.
  • Lembut.
  • Romantis dengan nuansa nostalgia.
Tidak ada kemarahan atau penyesalan yang eksplisit. Yang hadir adalah keheningan batin, seperti seseorang yang duduk sendirian, menelusuri ulang album kenangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai berikut:
  • Jangan menafikan rindu, karena darinya lahir pemahaman baru tentang cinta.
  • Waktu memang berjalan, tetapi perasaan yang tulus tidak sepenuhnya hilang.
  • Kenangan dapat menjadi ruang rekonsiliasi antara masa lalu dan masa kini.
Puisi ini seolah mengajak pembaca untuk menerima bahwa rindu bukan kelemahan, melainkan bagian alami dari pengalaman mencintai.

Puisi “Hal-Hal yang Lahir dari Rindu” memperlihatkan bagaimana rindu bukan hanya tentang kehilangan, melainkan tentang kelahiran kembali ingatan dan makna. Puisi ini menunjukkan bahwa dalam kesendirian sekalipun, manusia tetap ditemani oleh kenangan yang hidup.

Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah air mata, melainkan kebersamaan yang tertata dalam ingatan. Dan mungkin, di situlah rindu menemukan bentuknya yang paling jujur: bukan lagi luka, melainkan kenangan yang menghangatkan.

Moh. Ghufron Cholid
Puisi: Hal-Hal yang Lahir dari Rindu
Karya: Moh. Ghufron Cholid

Biodata Moh. Ghufron Cholid:
  • Moh. Ghufron Cholid (adalah nama pena Moh. Gufron, S. Sos. I) lahir pada tanggal 7 Januari 1986 di Bangkalan.
  • Setelah menempuh pendidikan di SDN Blega 03 (tamat tahun 1999), ia melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 01 Blega (tamat tahun 2002). Ia adalah salah satu alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 2006. Ia merupakan lulusan IDIA Prenduan fakultas Dakwah jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
  • Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) memiliki peranan penting dalam proses dunia tulis menulisnya.
  • Moh. Ghufron Cholid suka menulis puisi, cerpen, pantun dan esai. Karya-karyanya dimuat diberbagai media baik di dalam maupun di luar negeri, juga dimuat di dalam Antologi Bersama terbit di dalam dan luar negeri.
  • Penerima Anugerah Kedua Hescom2015 Vlog dan Rubaiyat (5 Desember 2015) di Malaysia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.