Puisi: Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia (Karya Darmanto Jatman)

Puisi “Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia” karya Darmanto Jatman mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan bukan hubungan yang ...
Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia

Di kebun kopi di Semarum
Hujan menerjang dengan nekadnya
Dan aku menggigil
Putus asa.

                (Diamlah!
                Kau pun faham
                Ditipu derunya
                Hujan tiada kunjung mengerti
                Lesunya sendiri)

Sementara suatu hari dulu
Orang-orang Yahudi kuna mencatat dalam dongeng-dongengnya
Bahwa Adam bersembunyi dari hadirat Allah
Dengan gentar yang melandaikan ia ke tanah
Yaitu setelah ia makan buah Pengetahuan Buruk Baik.
Waktu Tuhan bertanya:
Adam
Adam
Dimanakah engkau?
Adam pun menjawab:
Di sini Tuhan
Hamba malu
Ternyata hamba telanjang!

Aku pun cepat-cepat berbisik kepadamu:
Nestapaku
Adalah kebijaksanaanku.
Hukuman kita
Adalah hidup kita
Dalam menggigil
Aku menjamahmu
Seperti Ayub
rebah
dan berbisik:
Betapapun
Hanya kepadamu lariku, Tuhanku.
Bahkan ketika Tuhan memperolok-olok dia:
Ayub
Ayub
Dimanakah engkau
Ketika aku meletakkan landasan dunia?

Aku pun meraba wajahmu:
Wah. Alangkah takutku
Akan ketakutanku
Melanggar undang-undang tertulis Allah
Main manipulasi moral:
Ini bukan dosa
Sebab dengan mohon ampun
Kata mengerjakannya.

                (Aku pun meraba wajahmu
                Dalam rinduku
                Aku tahu aku asing darimu
                Dalam rinduku
                Aku kenal padamu).

Sumber: Horison (Juni, 1971)

Analisis Puisi:

Puisi “Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia” karya Darmanto Jatman adalah sajak reflektif yang memadukan pengalaman personal, kisah religius, dan perenungan eksistensial. Puisi ini bergerak antara hujan dan kebun kopi, antara Adam dan Ayub, antara rasa malu dan rasa takut, antara dosa dan kerinduan kepada Tuhan.

Darmanto Jatman dikenal sebagai penyair yang kerap menghadirkan ironi, humor getir, dan kedalaman spiritual sekaligus. Dalam puisi ini, ia menyingkap pergulatan batin manusia yang sadar akan kesalahan, tetapi juga sadar akan ketergantungannya pada Tuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pergulatan eksistensial manusia di hadapan Tuhan—antara dosa, rasa malu, penderitaan, dan kerinduan untuk kembali.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di kebun kopi di Semarum, diterjang hujan, menggigil dan putus asa. Hujan menjadi latar suasana batin yang muram.

Kemudian penyair membawa pembaca pada kisah Adam yang bersembunyi setelah memakan buah pengetahuan. Adam merasa malu karena telanjang di hadapan Tuhan. Setelah itu, muncul rujukan kepada Ayub, tokoh yang tetap setia meski diuji dan dipertanyakan Tuhan.

Penyair menyamakan dirinya dengan Adam dan Ayub. Ia mengakui bahwa “Nestapaku adalah kebijaksanaanku” dan bahwa “Hukuman kita adalah hidup kita”. Dalam ketakutan, ia tetap berbisik kepada Tuhan. Namun ada ironi ketika ia menyadari kecenderungan manusia memanipulasi moral: merasa bebas berbuat salah karena bisa memohon ampun.

Di akhir puisi, ia meraba wajah Tuhan dalam rindu, sekaligus merasa asing—sebuah paradoks antara kedekatan dan keterasingan spiritual.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini sangat kompleks.
  • Hujan dan menggigil → Simbol ketidakberdayaan manusia.
  • Adam dan rasa malu → Kesadaran pertama manusia akan dosa dan moralitas.
  • Ayub dan pertanyaan Tuhan → Ujian iman yang tak selalu terjawab.
  • Nestapa sebagai kebijaksanaan → Penderitaan justru mendewasakan manusia.
  • Manipulasi moral → Kritik terhadap sikap religius yang dangkal: berbuat salah dengan santai karena merasa bisa diampuni.
Puisi ini menyiratkan bahwa hidup itu sendiri adalah hukuman sekaligus anugerah. Penderitaan bukan sekadar akibat dosa, tetapi bagian dari proses menjadi sadar.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi cenderung muram, reflektif, dan penuh kegelisahan. Ada rasa dingin, takut, malu, dan rindu yang bercampur. Namun di balik kegelisahan itu, terdapat nada pasrah dan kerinduan yang tulus kepada Tuhan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini antara lain:
  • Kesadaran akan dosa adalah awal kebijaksanaan.
  • Penderitaan bukan untuk dihindari, melainkan dimaknai.
  • Jangan memanipulasi moral dengan dalih pengampunan.
  • Dalam ketakutan dan kegelisahan, manusia tetap harus kembali kepada Tuhan.
Puisi ini mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan bukan hubungan yang sederhana. Ia penuh pertanyaan, ketakutan, dan rindu.

Puisi “Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia” adalah puisi tentang kegagalan, kesadaran, dan kerinduan spiritual. Darmanto Jatman menampilkan manusia sebagai makhluk yang menggigil di bawah hujan kehidupan, sadar akan dosanya, namun tetap berlari kepada Tuhan.

Puisi ini tidak menawarkan jawaban pasti tetapi justru memelihara pertanyaan: di manakah kita ketika Tuhan memanggil? Dan ketika kita merasa takut akan ketakutan kita sendiri, kepada siapa lagi kita akan kembali?

Dalam ketidakpastian itu, hanya satu yang tersisa: bisikan rindu kepada Tuhan.

Puisi Darmanto Jatman
Puisi: Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia
Karya: Darmanto Jatman

Biodata Darmanto Jatman:
  • Darmanto Jatman lahir pada tanggal 16 Agustus 1942 di Jakarta.
  • Darmanto Jatman meninggal dunia pada tanggal 13 Januari 2018 (pada usia 75) di Semarang, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.