Puisi: Jika Rumput Itu Kita Dengar (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Jika Rumput Itu Kita Dengar” karya Dorothea Rosa Herliany mengajarkan bahwa segala sesuatu akan datang dan pergi. Seperti perahu yang ...
Jika Rumput Itu Kita Dengar

jika rumput-rumput itu kita dengar, ia
akan mengaduh karena perangkap musim.

tapi, lihatlah! sekuntum bunga di padang
amat megahnya, "jangan petik!" seru
kupu-kupu.

kita pun menunggunya. tapi jika gugur juga,
kita relakan saja. sebab, tak perlu menangisi
kepergian. seperti perahu, segalanya akan
datang dan bertolak.

1986

Sumber: Nikah Ilalang (1995)

Analisis Puisi:

Puisi “Jika Rumput Itu Kita Dengar” karya Dorothea Rosa Herliany merupakan sajak pendek yang padat makna. Dengan bahasa yang sederhana namun simbolik, puisi ini menghadirkan refleksi tentang kehidupan, kefanaan, dan sikap manusia dalam menghadapi perubahan. Alam—rumput, bunga, kupu-kupu, musim, perahu—menjadi medium untuk menyampaikan renungan filosofis yang dalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kefanaan hidup dan keikhlasan menerima perubahan. Puisi ini juga mengangkat tema tentang kesadaran ekologis dan empati terhadap kehidupan yang sering diabaikan manusia. Selain itu, terdapat tema tentang siklus kehidupan—datang dan pergi—yang tidak dapat dihindari.

Puisi ini bercerita tentang ajakan untuk mendengarkan suara alam, khususnya rumput yang “mengaduh karena perangkap musim.” Penyair membayangkan bahwa jika manusia mau lebih peka, ia akan menyadari penderitaan atau perubahan yang dialami makhluk-makhluk kecil di sekitar.

Kemudian muncul gambaran sekuntum bunga yang megah di padang. Kupu-kupu berseru, “jangan petik!”—seolah ada peringatan agar manusia tidak merusak atau merampas keindahan yang sedang mekar.

Pada bagian akhir, puisi berbicara tentang kerelaan. Jika bunga itu tetap gugur, maka biarlah. Segalanya, seperti perahu, akan datang dan bertolak. Hidup adalah arus yang bergerak.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini cukup dalam, antara lain:
  • Empati terhadap kehidupan yang kecil dan terpinggirkan. Rumput yang “mengaduh” bisa dimaknai sebagai simbol suara-suara lemah yang jarang didengar.
  • Kritik terhadap manusia yang eksploitatif. Seruan “jangan petik!” dapat dibaca sebagai kritik terhadap kecenderungan manusia merusak atau memiliki sesuatu hanya karena keindahannya.
  • Penerimaan atas hukum alam. Gugurnya bunga adalah keniscayaan. Kesedihan yang berlebihan tidak akan mengubah siklus kehidupan.
  • Filosofi hidup tentang ketidakkekalan. Perahu yang “datang dan bertolak” menjadi simbol pertemuan dan perpisahan dalam hidup manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa:
  • Kontemplatif.
  • Lembut.
  • Tenang.
  • Sedikit sendu namun tidak putus asa.
Puisi ini tidak menghadirkan kesedihan yang meledak-ledak, melainkan ketenangan dalam menerima perubahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini antara lain:
  • Belajarlah peka terhadap suara alam dan kehidupan di sekitar.
  • Jangan serakah terhadap keindahan; tidak semua yang indah harus dimiliki.
  • Terimalah perubahan dan perpisahan sebagai bagian alami dari hidup.
  • Tidak semua kehilangan harus ditangisi secara berlebihan.
Puisi “Jika Rumput Itu Kita Dengar” karya Dorothea Rosa Herliany adalah sajak reflektif tentang empati, keindahan, dan kefanaan. Dengan simbol-simbol alam yang sederhana, penyair menyampaikan pesan mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap terhadap kehidupan: peka, tidak serakah, dan rela menerima perubahan.

Puisi ini mengajarkan bahwa segala sesuatu akan datang dan pergi. Seperti perahu yang bertolak dari dermaga, hidup adalah perjalanan yang tidak pernah benar-benar diam.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Jika Rumput Itu Kita Dengar
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.