Kabare Yogyakarta
Jika kau pandang lukisan-lukisan Kau akan
mendengar derap kaki kuda
yang menapak,
tembang kinanti di kejauhan
Mengiringi lentik jari perempuan
memegang canthing memoles kanvas sunyi
dari tiupan potret kini dan riuh tradisi
gerak tangan penari mendendang cinta
dibalik gemulai dan senyum purnama
Jika kau baca kisah dari kabar yang terdengar
derit pedal sepeda,
mencatatkan beragam kata
Kawruh, lakon dan laku kami
adalah magma dari budi pekerti
Bila kau berjalan, menapak pelan,
gendhing, gerak kaki dan tautan tangan Adalah penyatuan
"Pepanggihan kita bukan sekedar wicara.
Kau lihat, pendopo yang kita bangun ini
Adalah pertemuan ruh yang memahat abadi.
Pada namamu aku terukir. Bukalah regol ini.
Dan saksikan sesrawungan kami."
Jika kau pandang lukisan-lukisan
Engkau tahu, Jonggrang bermukim di dirimu, di setiap
sudut lintang memancarbunyi gamelan mendendang jaman.
Jogja, 2009
Sumber: Mencintaimu (Isac Book, 2010)
Analisis Puisi:
Puisi “Kabare Yogyakarta” karya Evi Idawati merupakan karya yang menghadirkan potret kebudayaan dan kehidupan di kota Yogyakarta melalui bahasa puitis yang kaya simbol. Dalam puisi ini, penyair tidak hanya menggambarkan sebuah kota secara fisik, tetapi juga menghadirkan ruh budaya, tradisi, serta nilai-nilai kehidupan yang hidup di dalamnya.
Melalui berbagai gambaran seperti tembang, penari, gamelan, hingga suasana pendopo, puisi ini memperlihatkan bagaimana Yogyakarta dipahami sebagai ruang pertemuan antara tradisi, seni, dan kehidupan masyarakatnya.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kebudayaan dan kehidupan tradisional Yogyakarta. Puisi ini menonjolkan bagaimana seni, tradisi, dan nilai-nilai budaya menjadi bagian penting dari identitas masyarakat. Yogyakarta tidak hanya digambarkan sebagai tempat, tetapi juga sebagai ruang yang hidup dengan berbagai aktivitas seni dan tradisi yang terus berlangsung.
Puisi ini bercerita tentang gambaran kehidupan budaya di Yogyakarta yang dapat dirasakan melalui berbagai pengalaman indrawi. Penyair mengajak pembaca seolah-olah melihat lukisan, mendengar suara kuda, tembang, gamelan, hingga derit pedal sepeda yang melintas di jalan.
Di dalam puisi ini juga muncul gambaran perempuan yang memegang canting, penari yang bergerak gemulai, serta suasana pendopo yang menjadi tempat pertemuan masyarakat. Semua unsur tersebut menggambarkan kehidupan sosial dan budaya yang sangat erat dengan tradisi Jawa.
Selain itu, puisi ini juga menyinggung konsep kawruh, lakon, dan laku, yang dapat dipahami sebagai pengetahuan, peran hidup, serta perjalanan spiritual dalam budaya Jawa.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam benda atau bangunan, tetapi juga dalam perilaku, tradisi, dan interaksi sosial masyarakat.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa Yogyakarta merupakan ruang yang menyatukan berbagai nilai kehidupan—baik seni, etika, maupun spiritualitas. Tradisi tidak sekadar diwariskan, tetapi terus dihidupkan melalui aktivitas sehari-hari masyarakat.
Selain itu, kehadiran tokoh Jonggrang dalam puisi ini dapat dimaknai sebagai simbol keindahan dan kekuatan budaya yang terus hidup dalam diri manusia.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa hangat, artistik, dan penuh kekaguman terhadap tradisi. Pembaca diajak merasakan suasana kota yang sarat dengan nilai budaya. Kehadiran musik gamelan, gerak tari, serta aktivitas seni menciptakan atmosfer yang hidup dan penuh warna.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa kebudayaan harus dipahami, dijaga, dan dihargai sebagai bagian dari identitas masyarakat.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sesuatu yang terus hidup melalui interaksi manusia, seni, dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari.
Puisi “Kabare Yogyakarta” karya Evi Idawati memperlihatkan bagaimana sebuah kota dapat digambarkan melalui keindahan bahasa puisi. Melalui simbol-simbol budaya seperti tembang, batik, tari, dan gamelan, penyair menghadirkan Yogyakarta sebagai ruang yang hidup dengan tradisi, seni, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang terus tumbuh dan hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Karya: Evi Idawati
Biodata Evi Idawati:
- Evi Idawati lahir pada tanggal 9 Desember 1973 di Demak, Jawa Tengah, Indonesia.