Puisi: Kalimat Allah (Karya Asep S. Sambodja)

Puisi “Kalimat Allah” karya Asep S. Sambodja mengangkat kebesaran, keluasan ilmu, dan kekuasaan Allah melalui ungkapan puitis yang mengingatkan ...
Kalimat Allah

seandainya pohon-pohon di bumi
menjadi pena
dan laut menjadi tinta
ditambah tujuh laut lagi
sebagai tinta
niscaya tak kan ada habisnya
menulis kalimat allah
—ilmu dan hikmahnya

kepunyaan allah
yang di langit dan di bumi
allah maha kaya
maha terpuji
maha perkasa
maha bijaksana

allah menciptakan manusia
dan membangkitkannya dari kubur
seperti menciptakan dan membangkitkan
satu jiwa saja

yang demikian itu
amat mudah baginya

Sumber: Ballada Para Nabi (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Kalimat Allah” karya Asep S. Sambodja merupakan sajak religius yang sarat dengan nuansa spiritual dan ketauhidan. Puisi ini mengangkat kebesaran, keluasan ilmu, dan kekuasaan Allah melalui ungkapan puitis yang mengingatkan pada gaya ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan bahasa yang sederhana namun agung, penyair menegaskan keterbatasan manusia di hadapan kebesaran Ilahi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kebesaran dan keluasan ilmu serta kekuasaan Allah. Puisi ini menggarisbawahi bahwa ilmu dan hikmah Allah tidak terbatas, serta bahwa seluruh langit dan bumi berada dalam kepemilikan-Nya. Selain itu, puisi juga menyinggung kekuasaan Allah dalam menciptakan dan membangkitkan manusia.

Puisi ini bercerita tentang keluasan kalimat Allah—yakni ilmu, hikmah, dan firman-Nya—yang tidak akan pernah habis untuk ditulis, bahkan jika seluruh pohon dijadikan pena dan seluruh laut dijadikan tinta.

Larik pembuka:

seandainya pohon-pohon di bumi
menjadi pena
dan laut menjadi tinta

menghadirkan gambaran hiperbolik tentang tak terhingga luasnya kalimat Allah.

Kemudian ditegaskan bahwa Allah adalah pemilik segala yang di langit dan di bumi, serta memiliki sifat-sifat kesempurnaan: Maha Kaya, Maha Terpuji, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana.

Bagian akhir puisi menegaskan kekuasaan Allah dalam penciptaan dan kebangkitan manusia. Membangkitkan seluruh manusia dari kubur diibaratkan seperti membangkitkan satu jiwa saja—mudah bagi-Nya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada penegasan akan keterbatasan manusia dan ketidakterbatasan Tuhan.

Beberapa makna yang dapat ditafsirkan:
  • Ilmu manusia sangat terbatas. Sebanyak apa pun usaha manusia memahami, ilmu Allah tetap melampaui segalanya.
  • Kesombongan manusia tidak beralasan. Ketika menyadari keluasan hikmah Allah, manusia seharusnya rendah hati.
  • Keyakinan akan hari kebangkitan. Penciptaan dan kebangkitan bukan hal sulit bagi Allah, sehingga manusia diingatkan untuk bersiap mempertanggungjawabkan hidupnya.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kebesaran Ilahi dan memperkuat iman.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa:
  • Khusyuk.
  • Agung.
  • Penuh kekaguman.
  • Reflektif.
Nuansa spiritual sangat dominan, terutama melalui pengulangan sifat-sifat Allah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini antara lain:
  • Manusia harus menyadari kebesaran dan keluasan ilmu Allah.
  • Bersikap rendah hati di hadapan Tuhan.
  • Mengimani kekuasaan Allah atas penciptaan dan kebangkitan.
  • Menghargai ilmu dan hikmah sebagai bagian dari kalimat Allah yang tak terbatas.
Puisi “Kalimat Allah” adalah puisi religius yang kuat dalam pesan tauhid dan kekaguman terhadap kebesaran Tuhan. Dengan memanfaatkan citraan alam yang luas dan gaya bahasa hiperbolik, puisi ini menegaskan bahwa ilmu dan hikmah Allah tidak akan pernah habis untuk ditulis maupun dipahami sepenuhnya.

Melalui sajak ini, Asep S. Sambodja mengajak pembaca untuk merenungkan keterbatasan diri dan mengakui kebesaran Allah yang Maha Kaya, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana.

Asep S. Sambodja
Puisi: Kalimat Allah
Karya: Asep S. Sambodja

Biodata Asep S. Sambodja:
  • Asep S. Sambodja lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 15 September 1967.
  • Karya-karyanya banyak dimuat di media massa, seperti Horison, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Jurnal Puisi dan lain sebagainya.
  • Asep S. Sambodja meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 9 Desember 2010 (pada usia 43 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.