Kau
angsana dan gandasoli
yang kau tanam di pekarangan hatiku
tumbuh sudah dengan daun-daunnya yang lebat.
kau bilang,
jika kedua tanaman itu tumbuh subur
itu artinya: cinta kita memuncak
mendaki puting gairah seindah bulan merah.
kini kau dimana? Hanya desir angin
dan guguran dedaunan di pekarangan hatiku
diiringi bebunyian serangga,
sebelum tiba
musim penghujan.
langit kosong dan sepi
seperti sumur tua yang ditinggalkan
dengan sisa air yang nyaris kering
diteguk garang kemarau
yang menghanguskan
akar rumputan.
lalu api sunyi berkobar
dari gerbang langit tak dikenal
menjilat dan membakar angsana
dan gandasoli,
yang dulu kau tanam
di pekarangan hatiku, pada sebuah pagi
yang diberkahi cahaya matahari
dan kicau burung dari syair attar,
hafiz dan sana'i. Cintaku,
kau dimana ketika rindu
menyemak di dada
ketika ajal melepas kata
dalam dadaku.
2002
Sumber: Angsana (2007)
Analisis Puisi:
Puisi “Kau” karya Soni Farid Maulana merupakan puisi liris yang kuat dengan simbol-simbol alam dan spiritualitas. Melalui metafora tanaman, musim, dan api sunyi, penyair membangun lanskap batin tentang cinta yang pernah tumbuh subur, lalu mengering dan terbakar oleh kehilangan.
Puisi ini bergerak dari suasana penuh harapan menuju kesunyian dan kerinduan yang mendalam. Perubahan musim menjadi simbol perubahan perasaan, sementara pekarangan hati menjadi ruang batin tempat cinta pernah bersemi.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah cinta, kehilangan, dan kerinduan yang membakar batin. Puisi ini menggambarkan transformasi cinta: dari puncak gairah menuju kekosongan dan penantian yang menyakitkan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang kekasihnya. Sang kekasih pernah “menanam” angsana dan gandasoli di pekarangan hati—simbol cinta yang tumbuh subur dan memuncak seperti bulan merah.
Namun kini kekasih itu menghilang. Yang tersisa hanyalah desir angin, guguran daun, dan bunyi serangga menjelang musim penghujan. Pekarangan hati yang dahulu hijau kini berubah menjadi langit kosong dan sumur tua yang hampir kering.
Kemarau yang garang menghanguskan akar rumputan, lalu api sunyi membakar tanaman cinta yang dulu ditanam pada pagi yang penuh cahaya dan berkah. Puisi berakhir dengan pertanyaan getir: di mana sang kekasih ketika rindu menyemak di dada dan ajal seperti melepas kata dalam batin?
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta yang pernah tumbuh indah dapat berubah menjadi kesunyian yang menyakitkan ketika kehilangan datang.
Angsana dan gandasoli melambangkan harapan dan janji cinta. Musim kemarau menggambarkan masa kekeringan batin, sementara api sunyi melambangkan penderitaan yang membakar dari dalam.
Referensi pada syair Attar, Hafiz, dan Sana’i—penyair sufi besar—menyiratkan dimensi spiritual. Cinta yang dibicarakan bukan hanya cinta manusiawi, tetapi juga bisa dimaknai sebagai cinta yang mendekati makna eksistensial atau bahkan transendental.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, sepi, dan intens secara emosional. Ada pergeseran dari suasana hangat dan penuh harapan di awal, menuju kegersangan dan kobaran sunyi di bagian akhir.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik adalah bahwa cinta membutuhkan kehadiran dan kesetiaan agar tetap hidup. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kehilangan dapat menjadi ujian paling berat dalam perjalanan cinta, sekaligus ruang untuk memahami kedalaman rindu dan makna keberadaan.
Puisi “Kau” karya Soni Farid Maulana adalah potret perjalanan cinta yang berubah dari kesuburan menjadi kegersangan. Melalui simbol tanaman, musim, dan api, penyair menyampaikan betapa cinta yang tak lagi terjaga dapat berubah menjadi bara sunyi yang membakar batin.
Puisi ini bukan sekadar kisah kehilangan, tetapi juga perenungan mendalam tentang rindu, kehadiran, dan arti cinta dalam kehidupan manusia.
Puisi: Kau
Karya: Soni Farid Maulana
Biodata Soni Farid Maulana:
- Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
- Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
