Kemarau di Kota
Kemarau ini membiarkan kita
menyapu gelisah. Dan kurasa lebih hangat
tubuhnya
Debu. Atau gairah malam
bisik-bisik lewat televisi, sebelum sepi
Matanya yang redup menyaksikan
comedia-comedia yang mengasyikkan
pucuk-pucuk antene yang menangkap
suara-suara, sekuplet ayat dari qur'an
menggeliat
Engkau bermimpi
lalu malam pun segera tidur di sisi
Ranjangmu lembab, tapi hangat
kemarau ini telah membiarkan kita
saling berbisik, menatap, lalu berjabat
dua sunyi dari kawat-kawat telpon. Peluit kereta
tengah malam buta
Kukira kemarau ini akan pergi
membiarkan kita berdua menggigit jari
Debu. Atau gusar malam, comedia demi comedia
segera meninggalkan pembicaraan tentang setia.
Sumber: Horison (April, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi "Kemarau di Kota" karya Abdul Hadi WM adalah refleksi tentang suasana kemarau di dalam kota, di mana cuaca panas dan terik mengubah pola hidup sehari-hari.
Gambaran Kemarau: Puisi ini membuka dengan pernyataan bahwa "kemarau ini membiarkan kita/menyapu gelisah." Penyair menggambarkan suasana panas dan kering yang seringkali dihubungkan dengan kemarau. Kemarau ini mempengaruhi perasaan dan perilaku orang di kota.
Perubahan Suasana Hati: Penyair menyatakan bahwa kemarau tersebut membuat tubuhnya lebih hangat dan menghilangkan gelisah. Ini menunjukkan bahwa meskipun kemarau bisa menjadi situasi yang sulit, penyair merasa lebih nyaman dalam situasinya saat ini. Penyair juga menyinggung tentang gairah malam yang mungkin muncul di tengah suasana kemarau tersebut.
Televisi dan Komunikasi: Puisi ini menciptakan gambaran televisual yang memengaruhi penyair dan menciptakan peluang untuk komunikasi. Penyair menggambarkan matanya yang redup menyaksikan acara televisi yang menghibur dan menangkap suara-suara dari luar. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kemarau bisa menjadi waktu yang cocok untuk bersantai dan menonton televisi.
Komunikasi Jarak Jauh: Penyair mencatat bahwa kemarau ini membiarkan mereka "saling berbisik, menatap, lalu berjabat/dua sunyi dari kawat-kawat telepon." Ini menunjukkan bahwa di tengah kemarau, orang mungkin lebih cenderung menghubungi teman-teman mereka melalui telepon, mungkin untuk mengurangi rasa kesepian dan mengekspresikan perasaan.
Kebersamaan dalam Kesunyian: Puisi ini menciptakan gambaran kebersamaan dalam kesunyian di tengah malam. Meskipun situasi eksternal sedang tidak nyaman, kebersamaan di antara individu masih bisa ditemukan. Keputusan untuk berjabat tangan di tengah keheningan malam menunjukkan dorongan manusia untuk tetap terhubung.
Puisi "Kemarau di Kota" adalah karya yang menggambarkan suasana kemarau di dalam kota dan bagaimana hal itu memengaruhi perasaan dan interaksi manusia. Puisi ini menciptakan gambaran tentang kebersamaan dan keintiman dalam suasana yang keras dan sulit, menggambarkan kerentanan manusia dan kekuatan hubungan manusia.
Puisi: Kemarau di Kota
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
