Puisi: Kepak Sayap Rasa (Karya A. Rahim Eltara)

Puisi “Kepak Sayap Rasa” karya A. Rahim Eltara mengajarkan bahwa ketika rasa menjauh dan hati terasa kosong, manusia sedang berada dalam fase ...
Kepak Sayap Rasa

Saat gayut tak lagi mampu bertahan
berayunan di leher jenjang putih sukma
kepak sayap rasa terasa menjauh
dari dahan gelantungan batin
Gua kalbu sepi
dari kicau kelelawar.

Nangatallo, 2003

Sumber: Kepak Sayap Rasa (Kendi Aksara, 2011)

Analisis Puisi:

Puisi “Kepak Sayap Rasa” karya A. Rahim Eltara merupakan sajak pendek yang sarat simbol dan nuansa batin. Dengan larik-larik metaforis yang padat, penyair menghadirkan pengalaman emosional yang terasa sunyi, rapuh, dan penuh perenungan. Puisi ini mengandung kedalaman makna yang kuat melalui pilihan diksi yang sugestif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keguncangan batin dan keterasingan rasa. Puisi ini berbicara tentang kondisi emosional ketika perasaan tak lagi mampu bertahan pada sandarannya. Ada nuansa kehilangan, keletihan jiwa, atau bahkan patahnya harapan yang selama ini bergayut dalam diri.

Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kesepian eksistensial—yakni kesunyian yang bukan sekadar fisik, tetapi menyangkut ruang terdalam jiwa manusia.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang kondisi batin seseorang yang tengah mengalami keruntuhan rasa. Larik pembuka, “Saat gayut tak lagi mampu bertahan”, memberi kesan bahwa ada sesuatu yang selama ini bergantung—mungkin harapan, cinta, atau keyakinan—yang kini tak lagi kuat.

Ungkapan “berayunan di leher jenjang putih sukma” mempertegas gambaran pergulatan batin yang halus dan spiritual. Rasa yang sebelumnya hidup kini “menjauh dari dahan gelantungan batin”. Artinya, perasaan yang dulu bertumpu pada hati kini tercerabut atau lepas.

Puisi ditutup dengan larik:

“Gua kalbu sepi / dari kicau kelelawar.”

Penutup ini menegaskan suasana kehampaan. Bahkan gema atau suara dalam gua hati pun telah hilang.

Makna Tersirat

Puisi ini dapat dimaknai sebagai pengalaman kehilangan makna atau kegagalan mempertahankan sesuatu yang penting dalam hidup. “Gayut” dan “gelantungan” bisa dimaknai sebagai simbol ketergantungan emosional. Ketika itu tak lagi mampu bertahan, yang tersisa adalah kehampaan.

“Kepak sayap rasa terasa menjauh” menyiratkan bahwa kepekaan atau getaran hati mulai pudar. Rasa tidak lagi hidup atau bergerak dekat dengan pusat batin.

Sementara itu, “gua kalbu” adalah simbol ruang terdalam jiwa. Jika gua itu sepi bahkan dari “kicau kelelawar”—yang biasanya identik dengan gema dan suara dalam kegelapan—maka kesunyian yang dimaksud adalah kesunyian total.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, sunyi, dan reflektif. Tidak ada ledakan emosi yang dramatis, melainkan kesunyian yang mengendap perlahan. Suasana ini seperti ruang gelap yang hening, tempat seseorang merenungkan luka batinnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya menyadari kondisi batin sendiri. Ketika rasa mulai menjauh dan hati terasa kosong, manusia perlu menghadapi kesunyian itu dengan kesadaran, bukan penyangkalan.

Puisi ini juga seolah mengingatkan bahwa ketergantungan emosional yang terlalu rapuh bisa membawa kehampaan ketika ia runtuh. Ada ajakan tersirat untuk membangun keteguhan batin agar tidak mudah tercerabut dari “dahan” jiwa sendiri.

Puisi “Kepak Sayap Rasa” karya A. Rahim Eltara adalah puisi reflektif yang menyoroti keguncangan batin dan kesunyian jiwa. Dengan simbol-simbol alam seperti dahan, sayap, dan gua, penyair membangun lanskap emosional yang dalam.

Puisi ini mengajarkan bahwa ketika rasa menjauh dan hati terasa kosong, manusia sedang berada dalam fase perenungan yang sunyi. Dari kesunyian itulah, mungkin, kesadaran baru dapat tumbuh.

A. Rahim Eltara
Puisi: Kepak Sayap Rasa
Karya: A. Rahim Eltara
© Sepenuhnya. All rights reserved.