Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Kidung Rembang Malam (Karya Ahmad Nurullah)

Puisi “Kidung Rembang Malam” karya Ahmad Nurullah menyampaikan pesan bahwa harapan yang ditanam dengan tulus seharusnya dirawat, bukan disia-siakan.

Kidung Rembang Malam

Inilah kebun mawar tempat keluarga bernyanyi
Kau telah menyulapnya jadi kilauan pelangi mimpi
Hei, ke mana anjing-anjing liar yang tadi menyolong
kau punya hati? Aku telah geram melihatnya

Tak lagi terhitung
Telah berapa kali kutabur mulutku
Pada gemerisik daunan
Pada seekor ayam yang berkokok di bibir malam
Juga pada balik gaun ombak di balik hatikau
Tapi bolamatakau selalu saja jauh kaulempar

Inilah kolam air tempat keluarga burung mandi
Mengasah pedang dengan kau punya hati
Tapi kau telah menyulapnya jadi gelanggang judi
Menambal luka lambung dengan daging leher sendiri

Mana biji anggur yang kutanam di jantungkau dulu
Berbuah lebatkah? Aku harus ingin meminumnya

Sumber: Horison (Oktober, 1989)

Analisis Puisi:

Puisi “Kidung Rembang Malam” karya Ahmad Nurullah menghadirkan lanskap puitik yang penuh simbol, kemarahan batin, dan kekecewaan yang tersirat. Sajak ini bergerak antara keindahan dan kerusakan, antara harapan yang ditanam dan kenyataan yang berubah. Dengan bahasa metaforis dan citraan yang kuat, penyair membangun dunia yang semula harmonis namun kemudian mengalami pergeseran makna.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekecewaan terhadap perubahan nilai dan pengkhianatan terhadap kepercayaan. Puisi ini menyoroti transformasi ruang yang semula sakral, harmonis, dan penuh kehidupan menjadi tempat yang kehilangan makna.

Selain itu, ada tema tentang cinta dan pengharapan yang tidak berbalas, serta kritik terhadap degradasi moral.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan perubahan tempat-tempat simbolik: kebun mawar dan kolam air. Kedua tempat itu awalnya menjadi ruang keluarga bernyanyi dan burung mandi—lambang kedamaian dan keselarasan.

Namun, sosok “kau” telah “menyulapnya” menjadi sesuatu yang berbeda: kilauan pelangi mimpi yang semu dan bahkan gelanggang judi. Transformasi ini menunjukkan pergeseran dari kemurnian menjadi kepalsuan atau kehancuran nilai.

Penyair juga mempertanyakan biji anggur yang pernah ditanam di “jantungkau”—sebuah simbol harapan atau cinta—apakah kini telah berbuah. Pertanyaan itu menunjukkan adanya harapan lama yang belum jelas nasibnya.

Makna Tersirat

  • Kebun mawar dan kolam air dapat dimaknai sebagai simbol hati atau kehidupan yang semula damai.
  • Gelanggang judi melambangkan kerusakan moral atau pilihan hidup yang menyimpang.
  • Anjing-anjing liar bisa menjadi simbol ancaman, kerakusan, atau gangguan terhadap nilai-nilai kebaikan.
  • Biji anggur di jantung menyiratkan cinta, kepercayaan, atau cita-cita yang pernah ditanam dengan harapan akan tumbuh subur.
Puisi ini seakan menjadi kritik halus terhadap seseorang atau suatu keadaan yang telah merusak sesuatu yang sebelumnya indah dan bermakna.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung muram, getir, dan penuh kegelisahan. Ada nada geram dan kecewa yang terasa jelas, terutama dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penyair.

Namun di balik kegelisahan itu, tersimpan juga kerinduan dan harapan agar sesuatu yang pernah ditanam dapat kembali berbuah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditafsirkan adalah pentingnya menjaga nilai, kepercayaan, dan kesucian hati. Perubahan memang tak terhindarkan, tetapi tidak semua perubahan membawa kebaikan.

Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa harapan yang ditanam dengan tulus seharusnya dirawat, bukan disia-siakan. Ketika nilai-nilai kebaikan dirusak, yang tersisa hanyalah kegelisahan dan pertanyaan.

Puisi “Kidung Rembang Malam” karya Ahmad Nurullah adalah refleksi puitik tentang perubahan, kekecewaan, dan harapan yang dipertanyakan. Puisi ini adalah kidung kegelisahan—nyanyian malam tentang sesuatu yang dulu indah, namun kini dipertanyakan keberlanjutannya.

Ahmad Nurullah
Puisi: Kidung Rembang Malam
Karya: Ahmad Nurullah

Biodata Ahmad Nurullah:
  • Ahmad Nurullah (penulis puisi, cerpen, esai, dan kritik sastra) lahir pada tanggal 10 November 1964 di Sumenep, Madura, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.