Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi Ahmad Nurullah

Puisi: Pada Tapal Batas Waktu (Karya Ahmad Nurullah)

Pada Tapal Batas Waktu Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok - Horatius Tapi, kita selalu lan…

Puisi: Mitologi Kata (Karya Ahmad Nurullah)

Mitologi Kata Di dalam kata-katamu yang indah kutemukan sarang ular: ia melingkar mengerami telur-telurnya di bawah sisik-sisiknya yang be…

Puisi: Burung-Burung Bersarang di Dalam Sajakku (Karya Ahmad Nurullah)

Burung-Burung Bersarang di Dalam Sajakku Itulah peristiwa paling penting yang amat menentukan jalan hidupku. …

Puisi: Selat Kamal, Mengupas Nostalgia (Karya Ahmad Nurullah)

Selat Kamal: Mengupas Nostalgia Kita tak mungkin mencebur ke sungai yang sama - Herakleitos Tak mungkin, …

Puisi: Kidung Rembang Malam (Karya Ahmad Nurullah)

Kidung Rembang Malam Inilah kebun mawar tempat keluarga bernyanyi Kau telah menyulapnya jadi kilauan pelangi mimpi Hei, ke mana anjing-anjing liar ya…

Puisi: Ke Dalam Biji Asam Ini Kutanam Rohku (Karya Ahmad Nurullah)

Ke Dalam Biji Asam Ini Kutanam Rohku ke dalam biji asam ini kutanam rohku biarlah ia tumbuh jadi tunas jadi pohon dalam asuhan musim kalau saja angin…

Puisi: Pantai Penyatuan (Karya Ahmad Nurullah)

Pantai Penyatuan Dari sebutir air langit yang jatuh menetes ke pinggang daun sidratul muntaha, aku menetes. Dalam setiap helai nafas terbentang serib…

Puisi: Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam (Karya Ahmad Nurullah)

Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam dalam air kencingku yang tergenang kulihat wajahku namun setelah matahari datang wajahku kembali menguap hilang…

Puisi: Setelah Hari Keenam (Karya Ahmad Nurullah)

Setelah Hari Keenam Jika bumi, langit, dan seisinya dicipta selama enam hari, apa yang dilakukan Tuhan sejak jauh sebelum hari pertama, dan …

Puisi: Aku Berjalan dengan Jantung Menyala (Karya Ahmad Nurullah)

Aku Berjalan dengan Jantung Menyala Keledai yang kini bersarang di dalam kepala membuat aku lupa Mengapa dulu kutersenyum menatapkau dengan jantung m…

Puisi: Menimang Sejarah, Menangisi Airmata (Karya Ahmad Nurullah)

Menimang Sejarah, Menangisi Airmata (- Kepada Orang Lain) (1) Sungguh adakah cinta, jika perang adalah fakta…

Puisi: Perkampungan Ilahi (Karya Ahmad Nurullah)

Perkampungan Ilahi Berjalan di halaman perkampungan Ilahi Butiran mimpi yang tercecer hanyalah debu Tak ada tawa tak ada airmata Cuma seul…
© Sepenuhnya. All rights reserved.