Puisi: Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu (Karya Ahmad Nurullah) Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu Seseorang berdiri di tepi sajakmu. Wajahnya sepi, seperti sebuah kuil terpa…
Puisi: Barito (Karya Ahmad Nurullah) Barito ( 1 ) (- catatan perjalanan) Di tengah kelucak sungai Murung-Barito Di tengah guncangan riam lawang ha…
Puisi: Homo Textualis (Karya Ahmad Nurullah) Homo Textualis Telah kulayari laut, sungai. Telah kuceburi kali, selokan, parit-parit, yang mengalir dalam tubuhmu. Kupelajari segala jenis …
Puisi: Pada Tidur di Sebuah Sore (Karya Ahmad Nurullah) Pada Tidur di Sebuah Sore "Izinkan aku berteduh di dalam mimpimu, Nak," kataku, beberapa menit setelah ia lelap. Aku melangkah. Di lu…
Puisi: Melewati Jembatan Kesunyian (Karya Ahmad Nurullah) Melewati Jembatan Kesunyian Melewati jembatan kesunyian yang kubangun dengan seribu helai nafas Kudatangi anakku terbaring di sungai sumsum Lelah ten…
Puisi: Di Tebing Waktu, Meditasi (Karya Ahmad Nurullah) Di Tebing Waktu: Meditasi (1) Sebelum jagat raya diciptakan, apa yang dilakukan Tuhan? Sunyi. Di teras: waktu merayap Malam mengalir. A…
Puisi: Burung-Burung Bersarang di dalam Sajakku (Karya Ahmad Nurullah) Burung-Burung Bersarang di Dalam Sajakku Itulah peristiwa paling penting yang amat menentukan jalan hidupku. …
Puisi: Di Tikungan Sajak Ini Akan Kautemukan Sebuah Sungai (Karya Ahmad Nurullah) Di Tikungan Sajak Ini Akan Kautemukan Sebuah Sungai Di tikungan sajak ini akan kautemukan sebuah sungai - kata…
Puisi: Pada Sebuah Makan Sore (Karya Ahmad Nurullah) Pada Sebuah Makan Sore: Intermezo (- Untuk Arie MP Tamba) Tidak. Kita tidak betul-betul tahu apa yang kita tun…