Kita Bisu Saja Seperti Patung
Kita bisu saja seperti patung melihat tragedi sekarang
Kita tak bisa percayai diri kita sendiri — dari sekian makna
Makna ganda, setia yang ditukar dengan benda
Agama dibungkus sorban, petua-petua kecil dan kering
Ah, kau berlagak dengan ayat-ayatmu saja!
Aku terkutuk saja dalam gunjingmu
Gunjing pisah kita dulu dari jalan datar ini
Jalan ke Surga
1967
Sumber: Horison (Mei, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Kita Bisu Saja Seperti Patung” karya Rusli Marzuki Saria adalah sajak kritik sosial yang lugas dan tajam. Dengan bahasa yang langsung dan metafora yang kuat, penyair menggambarkan masyarakat yang memilih diam di tengah tragedi, serta kemunafikan yang mengatasnamakan agama dan moralitas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kebisuan masyarakat dalam menghadapi tragedi dan kemunafikan moral. Tema pendukungnya meliputi:
- Krisis kepercayaan terhadap diri sendiri.
- Penyimpangan makna nilai dan kesetiaan.
- Penyalahgunaan agama.
- Perpecahan akibat gunjingan dan prasangka.
Puisi ini memotret situasi sosial yang penuh ironi: banyak bicara soal moral, tetapi diam terhadap ketidakadilan.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok orang (ditandai dengan kata “kita”) yang memilih diam seperti patung ketika menyaksikan tragedi yang terjadi di sekitar mereka.
“Kita tak bisa percayai diri kita sendiri — dari sekian maknaMakna ganda, setia yang ditukar dengan benda”
Baris ini menunjukkan kebingungan nilai: makna menjadi ganda, kesetiaan ditukar dengan materi. Agama pun hanya menjadi simbol luar:
“Agama dibungkus sorban, petua-petua kecil dan kering”
Di bagian akhir, penyair mengkritik seseorang yang berlagak dengan ayat-ayat agama, sementara dirinya sendiri dicemooh. Gunjingan dan saling tuduh akhirnya memisahkan mereka dari “jalan datar ini / Jalan ke Surga”.
Puisi ini menggambarkan perpecahan moral dan spiritual dalam masyarakat.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa:
- Tegang.
- Sinis.
- Ironis.
- Kritis.
- Sedikit getir.
Nada puisinya tegas dan konfrontatif, terutama pada bagian:
“Ah, kau berlagak dengan ayat-ayatmu saja!”
Ini menunjukkan kekecewaan dan kemarahan yang terpendam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Beberapa amanat yang dapat ditangkap:
- Jangan menjadi bisu terhadap ketidakadilan.
- Nilai moral dan agama harus diwujudkan dalam tindakan, bukan sekadar simbol.
- Hindari kemunafikan dan manipulasi makna demi kepentingan pribadi.
- Gunjingan dan prasangka hanya akan menjauhkan manusia dari kebaikan sejati.
Puisi ini mengajak pembaca untuk berani bersuara dan kembali pada integritas diri.
Puisi “Kita Bisu Saja Seperti Patung” karya Rusli Marzuki Saria adalah refleksi tajam tentang kebisuan sosial dan kemunafikan moral. Dengan bahasa yang lugas dan metafora yang kuat, penyair mengingatkan bahwa diam terhadap tragedi adalah bentuk keterlibatan pasif.
Puisi ini menjadi cermin bagi masyarakat: apakah kita hanya menjadi patung yang menyaksikan, atau berani bersuara demi kebenaran? Dalam dunia yang penuh “makna ganda”, sajak ini mengajak kembali pada integritas dan keberanian moral.
Puisi: Kita Bisu Saja Seperti Patung
Karya: Rusli Marzuki Saria
Biodata Rusli Marzuki Saria:
- Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.