Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam (Karya Ahmad Nurullah)

Puisi “Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam” karya Ahmad Nurullah menyiratkan bahwa manusia harus berani menghadapi sisi gelap dan rendah dalam ....
Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam

dalam air kencingku yang tergenang
kulihat wajahku
namun setelah matahari datang
wajahku kembali menguap hilang

kugali tanah dengan jemariku dengan kakiku
        dengan kulitku dengan hidungku dengan
                telingaku dengan mataku
sampai akhirnya muncul mataair
wajahku pun kembali hadir

kuciduk wajahku dengan jemariku
namun ia kembali buyar
        dan lenyap dalam lingkaran air

muncul malam
        wajahku melayang
bulan datang
        wajahku ditelan

kuceburkan diriku ke dalam air
kucari wajahku di dasar
dan kusingkap setiap sela daun lumutan
sampai akhirnya kembali kutemukan
        wajahku dalam air yang diam

Juli, 1987

Sumber: Horison (November, 1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam” karya Ahmad Nurullah merupakan puisi reflektif yang sarat simbol pencarian jati diri. Melalui metafora air, wajah, dan gerak alam (matahari, malam, bulan), penyair membangun ruang kontemplasi tentang identitas, keberadaan, dan pergulatan batin manusia.

Puisi ini bergerak dari gambaran yang sangat personal dan bahkan kasar di awal, menuju pengalaman spiritual yang lebih tenang di bagian akhir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri. Wajah menjadi simbol identitas, sementara air menjadi medium refleksi batin. Penyair menggambarkan bagaimana diri manusia kerap tidak stabil, berubah, bahkan menghilang tergantung situasi dan kondisi.

Selain itu, terdapat pula tema tentang kesadaran dan keheningan. Identitas sejati hanya bisa ditemukan dalam “air yang diam”, bukan dalam air yang bergolak atau tercemar.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berusaha menemukan wajahnya sendiri melalui pantulan air. Pada awalnya, ia melihat wajahnya dalam genangan air kencing—sebuah gambaran yang mentah dan tidak ideal. Namun ketika matahari datang, wajah itu menguap dan hilang.

Ia kemudian menggali tanah dengan seluruh inderanya hingga muncul mata air, dan wajahnya kembali hadir. Namun saat berusaha meraih atau menciduknya, wajah itu kembali buyar.

Proses ini berulang dalam siklus waktu: malam datang, bulan datang, wajahnya melayang dan ditelan. Hingga akhirnya, dengan menceburkan diri dan mencari hingga ke dasar, ia menemukan kembali wajahnya “dalam air yang diam”.

Makna Tersirat

Puisi ini berkaitan dengan krisis identitas dan usaha menemukan makna diri. Wajah yang terus muncul dan hilang melambangkan identitas manusia yang rapuh dan mudah terdistorsi oleh keadaan luar—cahaya matahari, datangnya malam, atau pantulan yang terganggu.

Genangan air kencing di awal puisi bisa dimaknai sebagai simbol kondisi diri yang rendah, kotor, atau penuh kelemahan. Namun bahkan di sana, wajah tetap bisa terlihat. Artinya, identitas tidak hilang, hanya tertutup atau terdistorsi.

Sementara “air yang diam” di akhir puisi menyiratkan bahwa hanya dalam ketenangan batin, manusia dapat menemukan dirinya secara utuh. Keheningan menjadi syarat kesadaran.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung gelisah, reflektif, dan kontemplatif. Pada bagian awal hingga tengah, suasana terasa resah dan tidak stabil—wajah yang muncul lalu hilang, usaha menggali, menciduk, dan mencari.

Namun pada bagian akhir, suasana menjadi lebih tenang dan meditatif. Penemuan wajah dalam air yang diam menghadirkan rasa hening dan seolah ada penerimaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa pencarian jati diri membutuhkan proses, kesabaran, dan keberanian menyelami diri sendiri. Identitas tidak bisa diraih dengan tergesa-gesa atau hanya dari permukaan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia harus berani menghadapi sisi gelap dan rendah dalam dirinya. Dari situ, melalui proses perenungan yang dalam, ia dapat menemukan kembali dirinya yang sejati.

Puisi “Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam” karya Ahmad Nurullah menunjukkan bahwa identitas sejati hanya dapat ditemukan dalam ketenangan batin. Pada akhirnya, wajah itu tidak hilang—ia hanya menunggu ditemukan dalam “air yang diam”.

Ahmad Nurullah
Puisi: Kutemukan Wajahku dalam Air yang Diam
Karya: Ahmad Nurullah

Biodata Ahmad Nurullah:
  • Ahmad Nurullah (penulis puisi, cerpen, esai, dan kritik sastra) lahir pada tanggal 10 November 1964 di Sumenep, Madura, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.