Puisi: Loksado (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi “Loksado” karya Korrie Layun Rampan mengingatkan bahwa keseimbangan alam dan spiritualitas adalah fondasi kehidupan masyarakat adat.

Loksado


Huuuuuu, erai dua tolu opat
Balian menari di lantai balai
Bau depa perapenan akar wangi
Asap memenuhi udara

"Segala penjaga hunjur Meratus
Segala utus," seru balian raja. "Penghuni gunung
Keseratus tak terlihat mata. "Datanglah datang
Menghalau penyakit kutil racun disentri….

Yang mematikan. Datanglah datang
Menuruni rentilui tabuhan gendang
Dan gong selepukng besar suaranya
Datanglah bersama suara."

Suasana dalam betang riuh getang
Mantra diucapkan dengan kata-kata Lawangan
Sakaw makin sakaw
Meraja udara bau dupa

"Raja pegunungan apa salah dan dosa
Menjadikan hutan kami tanpa sisa
Huma tak menjadi dan langit menularkan
Hama," kata kata balian menekan

"Penyakit bisul rajasinga
Pergi, penyakit kulit dan panu
Penyakit kanker serta lever
Diabetes penyakit darah tinggi!"

Tegang riuh. "Penyakit pusing asam urat
Malaria. Penyakit hernia masuk angin
Patah tulang. Penyakit lepra.
Pergi semua," seru balian mengenyahkan

"Segala penyakit mata, pergi," serunya
"Jangan lagi ditipu India. Jangan membuang uang
Percuma. Orang dalam orang siluman beri tangan
Jari-jari kuasa mengobati…"

Suasana hening genting
Balian membanting
Getang nyaring
Sreeeeengngng suaranya suara batang garing

Gelap betang terang
Mata damar menyinar
Bau dupa harum dupa

Samarinda, 5/9/2013

Sumber: Dayak! Dayak! Di manakah Kamu? (2014)
Catatan:
  1. Erai dua tolu opat = satu dua tiga empat.
  2. Rentilui = tempat naik-turunnya roh-roh yang dipanggil.
  3. Selepukng = gong yang diameternya paling lebar.
  4. Betang = rumah panjang orang Dayak, sebutan dalam bahasa Ngaju.
  5. Batang garing = pohon kehidupan dalam filsafat Dayak Ngaju.

Analisis Puisi:

Puisi “Loksado” karya Korrie Layun Rampan merupakan representasi kuat tradisi spiritual dan kebudayaan masyarakat Dayak, khususnya yang hidup di wilayah Meratus, Kalimantan. Melalui ritme mantra, bunyi gong, dan suasana sakral dalam betang, puisi ini menghadirkan dunia ritual balian (dukun) sebagai pusat perlawanan terhadap penyakit sekaligus kegelisahan ekologis.

Puisi ini bukan sekadar potret upacara penyembuhan, tetapi juga cermin identitas budaya yang bergulat dengan perubahan zaman.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ritual penyembuhan dan relasi spiritual manusia Dayak dengan alam serta dunia roh. Di dalamnya juga tersirat tema kerusakan hutan dan krisis ekologis yang berdampak pada kehidupan masyarakat adat.

Selain itu, puisi ini mengangkat tema kepercayaan tradisional sebagai benteng terakhir ketika manusia menghadapi penyakit, bencana, dan ketidakpastian hidup.

Puisi ini bercerita tentang sebuah upacara balian di wilayah Loksado, Pegunungan Meratus. Ritual dimulai dengan seruan:

“Huuuuuu, erai dua tolu opat”

(era dua tolu opat berarti satu dua tiga empat)

Balian menari di balai, asap dupa dan akar wangi memenuhi udara. Ia memanggil para penjaga gunung dan roh-roh agar turun melalui rentilui (tempat naik-turunnya roh yang dipanggil), diiringi tabuhan gendang dan gong selepukng (gong berdiameter paling besar).

Suasana dalam betang (rumah panjang Dayak Ngaju) riuh oleh mantra. Balian menyeru agar segala penyakit—dari kutil, disentri, kanker, diabetes, hingga lepra—pergi. Ritual ini bukan hanya penyembuhan medis tradisional, tetapi juga dialog spiritual dengan kekuatan alam dan leluhur.

Menariknya, puisi juga memuat kritik sosial:

“Raja pegunungan apa salah dan dosa
Menjadikan hutan kami tanpa sisa”

Baris ini menyiratkan kehancuran hutan yang berdampak pada huma (ladang) dan kehidupan masyarakat.

Ritual memuncak ketika bunyi getang dan suara batang garing (pohon kehidupan dalam filsafat Dayak Ngaju) bergema. Betang yang gelap menjadi terang oleh damar, menandai klimaks spiritual.

Makna Tersirat

  • Perlawanan terhadap penyakit dan modernitas. Penyebutan berbagai penyakit modern menunjukkan bahwa masyarakat adat tidak terlepas dari persoalan kontemporer. Ritual menjadi bentuk resistensi kultural.
  • Kritik ekologis. Hutan yang “tanpa sisa” mengisyaratkan eksploitasi alam. Penyakit bisa dimaknai bukan hanya secara fisik, tetapi juga sebagai metafora kerusakan lingkungan.
  • Kepercayaan sebagai identitas. Ritual balian bukan sekadar praktik penyembuhan, melainkan simbol keberlangsungan budaya Dayak di tengah perubahan zaman.
  • Batang garing sebagai simbol kehidupan. Dentingnya menjadi metafora harapan dan kesinambungan hidup.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi bergerak dinamis:
  • Awal: magis dan ritualistik (asap, mantra, tabuhan gong).
  • Tengah: tegang dan penuh intensitas ketika penyakit satu per satu diusir.
  • Akhir: hening, sakral, dan mencerahkan—“Gelap betang terang.”
Perubahan suasana ini menciptakan pengalaman dramatis seolah pembaca ikut hadir dalam ritual tersebut.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini dapat ditafsirkan sebagai:
  • Pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam dan roh leluhur.
  • Kepercayaan tradisional adalah warisan yang harus dihormati.
  • Kerusakan hutan membawa penderitaan kolektif.
  • Penyakit tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan ekologis.
Puisi ini mengingatkan bahwa keseimbangan alam dan spiritualitas adalah fondasi kehidupan masyarakat adat.

Puisi “Loksado” karya Korrie Layun Rampan menjadi karya yang bukan hanya menggambarkan ritual, tetapi juga menyuarakan identitas dan ketahanan budaya Dayak di tengah arus perubahan zaman.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Loksado
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.