Puisi: Lorosae (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Lorosae” karya Wayan Jengki Sunarta bercerita tentang suasana mencekam di sebuah wilayah pantai yang dilanda kekerasan. Alam tidak lagi ...
Lorosae

namun senja
seakan enggan
menghapus air mata
pada cuaca

kudengar lengking camar kehilangan ibu
buih mengeluh
garis pantai cemas
seorang bocah berlari ke arah malam
menyongsong bintang biduk
yang hendak lapuk

(seperti aku mengenal wajahnya yang fana
menyembul dari gundukan candi candi pasir
seakan ingin berucap: jangan biarkan langit kembali merah!)

angin timur mengalir dari pantai
pasir pasir buyar
bau anyir
pembantaian di musim semi
kerang kerang mendadak kering
terbuka dengan daging yang meleleh
dan lokan buta menangis
udara amis

senyummu, maria, seperti bunga bungur
kuntum yang dipatahkan paksa

prahara akan kembali tiba
segera bergegas. berlindung
ke dalam mercusuar di ujung tanjung
di situ mungkin masih tersisa
penawar duka

jerit anak camar
menggigil
melihat kabut pecah
jadi buih darah
pada rongga mata
seorang serdadu tua

dalam udara amis
langit menangis
kata kata kusam
lumer dari grafiti
yang ditera dengan darah
di tembok mercusuar

kau tak akan pernah tahu
di lorosae
waktu yang setia itu
adalah seteru
yang diam diam menyusun
rencana
penghianatan
untukmu

cahaya cinta dari hatimu, maria
telah jadi ragi
hancur seperti remah roti
dan anggur yang dulu kau peras
dari tetes air matamu
telah memabukkan mereka

1999

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Lorosae” menghadirkan lanskap pantai yang muram dan penuh luka sejarah. Kata Lorosae sendiri merujuk pada “matahari terbit” dalam bahasa Tetum (Timor Leste), sehingga sejak judulnya, puisi ini sudah membuka kemungkinan tafsir politis dan historis. Melalui citraan laut, darah, camar, dan mercusuar, penyair membangun gambaran tragedi kemanusiaan yang menyisakan trauma kolektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah tragedi kemanusiaan, pengkhianatan sejarah, dan luka kolektif akibat kekerasan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kehilangan dan cinta yang tercabik oleh konflik.

Konflik yang digambarkan tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi tanda-tanda seperti “pembantaian di musim semi” dan “serdadu tua” mengarah pada peristiwa kekerasan bersenjata yang membekas dalam ingatan sosial.

Secara umum, puisi ini bercerita tentang suasana mencekam di sebuah wilayah pantai yang dilanda kekerasan. Alam tidak lagi netral; ia ikut merekam tragedi.

Baris-baris seperti:

“bau anyir / pembantaian di musim semi”
“kabut pecah / jadi buih darah”

menghadirkan gambaran kekerasan yang begitu nyata. Seorang bocah berlari ke arah malam, camar kehilangan induk, dan seorang serdadu tua dengan rongga mata berdarah—semuanya membentuk narasi tentang kehancuran dan trauma.

Tokoh “Maria” muncul sebagai simbol personalisasi luka. Ia bisa ditafsirkan sebagai figur perempuan, tanah air, atau simbol kemurnian yang direnggut secara paksa.

Makna Tersirat

Puisi ini merujuk pada pengkhianatan sejarah dan ironi waktu. Pada bagian akhir disebutkan:

“waktu yang setia itu / adalah seteru / yang diam diam menyusun / rencana / penghianatan”

Waktu, yang biasanya dianggap penyembuh, justru menjadi pengkhianat. Ini menyiratkan bahwa luka sejarah tidak serta-merta hilang oleh waktu; bahkan bisa jadi semakin mengendap dan menyakitkan.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap kekuasaan dan militerisme. “Serdadu tua” dan “grafiti yang ditera dengan darah” menunjukkan bahwa kekerasan bukan hanya peristiwa sesaat, tetapi jejak yang tertinggal dalam ruang publik dan ingatan kolektif.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sangat muram, mencekam, dan tragis. Diksi seperti “bau anyir”, “udara amis”, “buih darah”, dan “pembantaian” membangun atmosfer horor yang realistis. Ada juga nuansa elegi—ratapan atas sesuatu yang hilang, baik itu cinta, kemanusiaan, maupun harapan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dimaknai sebagai peringatan agar tragedi kemanusiaan tidak dilupakan. Penyair seolah menegaskan bahwa sejarah kekerasan harus diingat, bukan dihapus atau disangkal.

Selain itu, puisi ini juga mengingatkan bahwa cinta dan kemurnian dapat dihancurkan oleh ambisi dan kekuasaan, sehingga nilai-nilai kemanusiaan harus dijaga.

Puisi “Lorosae” karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi yang sarat muatan historis dan emosional. Melalui citraan pantai yang berdarah dan metafora waktu sebagai pengkhianat, penyair menghadirkan refleksi tentang kekerasan, kehilangan, dan luka kolektif yang tak mudah sembuh.

Puisi ini tidak hanya menggambarkan tragedi, tetapi juga menyuarakan ingatan—bahwa di Lorosae, sejarah tidak pernah benar-benar usai.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Lorosae
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.