Puisi: Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir (Karya A. Rahim Eltara)

Puisi “Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir” karya A. Rahim Eltara bercerita tentang perjalanan spiritual manusia: dari rutinitas ibadah ...
Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir
(Rinduku buat: D. Zawawi Imran)

Telah sekian sejuk air fardu membeku
menempel kemilau di jeruji waktu
tak terhitung derit daun pintu membuka kelopak kuba cahaya
memancarkan jejak suci, menyebar wangi surga-Mu
mengibas kepak sujud, menumpah rindu putih jernih
merebut ruang pesona-Mu, merakit sarang di ranting iman
melisan aksara firman-Mu yang tak pernah berpaling
dari titah tahta langit ke tujuh

Telah sekian gelembung cermin dai dan kiai pecah di udara
saat mengetuk pintu benak hati, menyolek molek warna sukma
memoles raut wajah batin, membatinkan keyakinan
serta memfasihkan gerak lidah melafazkan ejaan tauhid
menganyam pita suara menjadi kaligrafi zikir
di kampas nurani, sebelum buah iman gugur
ke rahang kegelapan, sebelum pantulan Nur Ilahi
menjauh dari kening hening sujud
dan sebelum kita tersingkir dari halaman firdaus

Telah sekian jasad fana lepas tangkai tanpa maklumat
terbujur dalam penantian panjang di liang genggaman-Mu
dipahat tangan-tangan halus malaikat, melebur tanah liat
menjadi adonan bubur susu atau menjadi bara merah tembaga
tempat bermula tudingan tanya dan interogasi
sebelum melewati titian gerbang taman mekar bunga.

Sumbawa, 2002

Sumber: Kepak Sayap Rasa (Kendi Aksara, 2011)

Analisis Puisi:

Puisi “Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir” karya A. Rahim Eltara merupakan puisi religius yang sarat dengan nuansa spiritual, perenungan iman, serta kesadaran akan kefanaan manusia. Melalui diksi yang padat, simbolik, dan metaforis, penyair menghadirkan pengalaman batin yang dalam—sebuah perjalanan ruhani dari ibadah, kesadaran diri, hingga kematian dan pengadilan Ilahi.

Puisi ini tidak sekadar berbicara tentang praktik keagamaan, melainkan tentang getar batin, rindu, dan kecemasan eksistensial manusia di hadapan Tuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan perenungan iman dalam bingkai kesadaran akan kefanaan hidup. Penyair menekankan pentingnya zikir, tauhid, dan kesucian hati sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang perjalanan spiritual manusia: dari rutinitas ibadah (air fardu/wudu), dakwah para dai dan kiai, penguatan tauhid, hingga akhirnya menghadapi kematian dan alam kubur.

Puisi dibangun dalam tiga bagian besar yang masing-masing diawali dengan repetisi “Telah sekian”, yang memberi kesan waktu yang panjang dan akumulatif.
  • Bagian pertama menggambarkan ibadah dan rindu spiritual yang tumbuh melalui sujud dan zikir.
  • Bagian kedua menampilkan peran dakwah dalam membentuk kesadaran iman serta ajakan untuk menguatkan tauhid sebelum terlambat.
  • Bagian ketiga menghadirkan realitas kematian—jasad fana yang akhirnya terbujur di liang kubur, menghadapi pertanyaan dan konsekuensi amal.
Struktur ini membentuk alur reflektif: dari kehidupan religius → peringatan iman → kematian dan pertanggungjawaban.

Makna Tersirat

Makna Tersirat dalam puisi ini sangat kuat. Penyair seakan menyampaikan bahwa:
  • Ibadah yang dilakukan selama ini belum tentu cukup jika tidak disertai kesadaran batin yang mendalam.
  • Waktu terus berjalan (“jeruji waktu”), dan manusia sering lalai.
  • Zikir bukan hanya lafaz di lidah, tetapi harus menjadi “kaligrafi” yang terukir dalam nurani.
  • Kematian bisa datang tanpa maklumat, tanpa pemberitahuan.
Frasa seperti:

“sebelum buah iman gugur ke rahang kegelapan”

mengandung makna tersirat bahwa iman bisa hilang jika tidak dirawat.
Begitu pula dengan:

“sebelum kita tersingkir dari halaman firdaus”

yang mengisyaratkan kemungkinan manusia gagal meraih surga akibat kelalaian.

Puisi ini adalah peringatan lembut namun tegas tentang urgensi menjaga cahaya iman.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung:
  • Hening.
  • Reflektif.
  • Sakral.
  • Kontemplatif.
  • Sedikit mencekam pada bagian akhir.
Bagian awal menghadirkan kesejukan spiritual melalui simbol “air fardu”, “cahaya”, dan “wangi surga”. Namun menjelang akhir, suasana berubah menjadi lebih serius dan menggugah kesadaran melalui gambaran liang kubur, interogasi, dan bara merah tembaga.

Perubahan suasana ini memperkuat pesan moral yang ingin disampaikan penyair.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini dapat dirangkum sebagai berikut:
  • Jagalah iman sebelum terlambat.
  • Perbanyak zikir dan tauhid bukan sekadar di lisan, tetapi di hati.
  • Sadari bahwa kematian datang tanpa peringatan.
  • Hidup adalah persiapan menuju pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Puisi ini mengingatkan bahwa setiap manusia akan menghadapi fase interogasi spiritual setelah kematian. Karena itu, zikir dan iman harus menjadi bagian dari kepribadian, bukan sekadar ritual formal.

Puisi “Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir” karya A. Rahim Eltara adalah puisi religius yang kuat secara simbolik dan spiritual. Puisi ini tidak hanya mengajak pembaca beribadah, tetapi mengajak merenungkan kualitas iman sebelum kematian menjemput.

Dengan bahasa yang puitis, metaforis, dan kaya imaji, penyair menyampaikan pesan bahwa hidup adalah kesempatan singkat untuk menenun suara menjadi zikir, menanam iman sebelum gugur, dan menjaga cahaya Ilahi agar tidak menjauh dari hati.

Puisi ini pada akhirnya adalah sebuah ajakan kontemplatif: sebelum tubuh terbujur di liang sunyi, pastikan zikir telah benar-benar terukir dalam nurani.

A. Rahim Eltara
Puisi: Menganyam Pita Suara Menjadi Kaligrafi Zikir
Karya: A. Rahim Eltara
© Sepenuhnya. All rights reserved.