Puisi: Mengenang Arief Budiman (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Mengenang Arief Budiman” karya Gunoto Saparie bercerita tentang kenangan terhadap Arief Budiman yang memilih tinggal di Salatiga hingga ...
Mengenang Arief Budiman

salatiga mungkin lebih indah dari nirwana
dan kau pun ingin terus di sini saja
selama hayatmu yang fana
bersama koran, majalah, dan buku tua

sampai malaikat mengepakkan sayapnya
membawamu ke dunia sunyi abadi
lebih kekal dari bumi puisi
bait-bait yang mungkin hanya sia-sia

salatiga memang rumah terakhirmu
namun aku ternyata tak pernah siap
ketika kau harus pergi dalam senyap
ketika kupungut kenangan dan ingatan itu…

2020

Analisis Puisi:

Puisi “Mengenang Arief Budiman” karya Gunoto Saparie adalah sajak elegi yang sarat rasa kehilangan dan penghormatan. Melalui bahasa yang sederhana namun menyentuh, penyair menghadirkan kenangan personal terhadap sosok yang telah berpulang. Nama Arief Budiman sendiri merujuk pada Arief Budiman, seorang intelektual yang dikenal luas di Indonesia.

Puisi ini tidak panjang, tetapi memiliki kedalaman emosional yang kuat. Ia berbicara tentang rumah terakhir, dunia sunyi abadi, serta kenangan yang dipungut dengan perasaan tak siap.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehilangan dan penghormatan terhadap seorang tokoh intelektual. Puisi ini juga mengangkat tema kefanaan hidup manusia serta keabadian gagasan dan karya.

Selain itu, terdapat tema tentang rumah—bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang peristirahatan terakhir dan ruang kenangan.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang kenangan terhadap Arief Budiman yang memilih tinggal di Salatiga hingga akhir hayatnya. Kota itu digambarkan begitu indah, bahkan “mungkin lebih indah dari nirwana.” Sosok yang dikenang ingin terus tinggal di sana, hidup sederhana bersama koran, majalah, dan buku tua—simbol dunia intelektual dan perenungan.

Kemudian, datanglah saat ketika “malaikat mengepakkan sayapnya,” membawanya ke “dunia sunyi abadi.” Kematian digambarkan sebagai perjalanan menuju keheningan yang kekal.

Bagian akhir puisi menjadi sangat personal. Penyair mengakui bahwa ia tak pernah siap atas kepergian itu. Ia hanya bisa memungut kenangan dan ingatan yang tersisa.

Makna Tersirat

Makna Tersirat dalam puisi ini menyiratkan bahwa kehidupan seorang intelektual tidak selalu diukur dari gemerlap dunia, melainkan dari kesetiaan pada gagasan dan buku-buku. Koran, majalah, dan buku tua menjadi simbol pengabdian pada pemikiran.

Frasa “lebih kekal dari bumi puisi / bait-bait yang mungkin hanya sia-sia” mengandung refleksi mendalam tentang kefanaan karya. Ada kesadaran bahwa bahkan puisi pun bisa terasa sia-sia dibanding keabadian kematian. Namun, di sisi lain, justru puisi inilah yang mengabadikan kenangan.

“Salatiga memang rumah terakhirmu” menyiratkan penerimaan bahwa setiap manusia memiliki titik akhir. Rumah terakhir bukan hanya makam, tetapi juga tempat di mana kenangan berlabuh.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung sendu, tenang, dan reflektif. Tidak ada ledakan kesedihan yang dramatis, melainkan kesedihan yang lirih dan dalam.

Kata-kata seperti “senyap,” “dunia sunyi abadi,” dan “tak pernah siap” memperkuat nuansa duka yang tertahan. Kesedihan itu terasa personal, intim, dan jujur.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa hidup manusia bersifat fana, tetapi nilai dan kenangan yang ditinggalkan dapat terus hidup dalam ingatan orang lain.

Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang pentingnya menghargai waktu bersama orang-orang terkasih, karena kepergian sering kali datang tanpa kesiapan. Selain itu, ada pesan tentang kesederhanaan hidup—bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam dunia baca dan perenungan.

Puisi “Mengenang Arief Budiman” karya Gunoto Saparie adalah elegi yang lembut dan penuh penghormatan. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, puisi ini menghadirkan potret kehilangan yang jujur dan reflektif.

Melalui gambaran tentang Arief Budiman, tentang Salatiga, serta tentang buku-buku dan dunia sunyi abadi, puisi ini menegaskan bahwa manusia memang fana, tetapi kenangan dan nilai yang ditinggalkan akan terus hidup—dipungut perlahan oleh mereka yang mencintainya.

Foto Gunoto Saparie
Puisi: Mengenang Arief Budiman
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.

Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.