Monolog Nihilis
luruhkan semua cahaya ke bumi
jadikan neraka
masukkan semua gatal ke hati
jadikan siksa
ketimbang kepergok
lanjurkan ia jadi sekutumu
dan gulati bagai setubuhmu
: inilah dunia
yang berhenti dalam gravitasi
dan runyam dalam bara api
lenyapkan pikir jadikan mati!
hapuskan pertimbangan
jadikan ngeri
dan ngeri adalah nestapa
: itulah kehidupan
yang sudah terencana
maka,
seperti kuburan rumah kita
setiap ruangan
tanpa furnitur
penuh gelimpangan anak-anak catur
zaman akhirnya memang
begitu nihil
begitu sepi
begitu muskil
begitu basi
Sumber: Tonggak 4 (1987)
Analisis Puisi:
Puisi "Monolog Nihilis" karya Agus Dermawan T. menggambarkan pandangan dunia yang penuh dengan ketidakpastian, kehampaan, dan nihilisme.
Kehampaan dan Nihilisme: Puisi menggambarkan pandangan dunia yang nihilis, di mana segala sesuatu terlihat hampa dan kehidupan dilihat sebagai sesuatu yang tidak memiliki makna. Sentimen nihilis tampak dalam ungkapan "luruhkan semua cahaya ke bumi, jadikan neraka."
Penderitaan dan Siksaan: Bahasa puisi memberikan nuansa gelap dengan menyatakan untuk "masukkan semua gatal ke hati, jadikan siksa." Ini menciptakan gambaran siksaan dan penderitaan batin yang terjadi dalam kehidupan.
Sikap Apatis terhadap Kehidupan: Puisi menciptakan suasana sikap apatis terhadap kehidupan dengan mengatakan "seperti kuburan rumah kita, setiap ruangan tanpa furnitur, penuh gelimpangan anak-anak catur." Hal ini bisa diartikan sebagai ketidakpedulian terhadap nilai-nilai dan makna kehidupan.
Dunia yang Berhenti dan Runyam: Ungkapan "dunia yang berhenti dalam gravitasi dan runyam dalam bara api" menggambarkan keadaan dunia yang stagnan dan penuh dengan konflik dan kekacauan.
Pembentukan Citra Melalui Bahasa Kuat: Agus Dermawan T. menggunakan bahasa yang kuat dan imaji yang tajam untuk menciptakan citra yang menakutkan dan suram. Kata-kata seperti "neraka," "siksa," "gelimpangan anak-anak catur," dan "runyam dalam bara api" menyuguhkan suasana gelap dan penuh ketidakpastian.
Kematian sebagai Pembebasan: Puisi menyiratkan gagasan bahwa "hapuskan pertimbangan, jadikan ngeri" dan "lenyapkan pikir jadikan mati" dapat diartikan sebagai pandangan bahwa kematian bisa dianggap sebagai pembebasan dari penderitaan dan hampa kehidupan.
Zaman yang Nihil dan Sepi: Ungkapan "zaman akhirnya memang begitu nihil, begitu sepi, begitu muskil, begitu basi" menciptakan gambaran zaman yang penuh kekosongan, kesepian, dan kekeringan.
Puisi "Monolog Nihilis" adalah karya puisi yang menghadirkan pandangan dunia yang pesimis dan hampa. Melalui bahasa yang kuat dan imaji yang tajam, Agus Dermawan T. menciptakan citra kehidupan yang suram dan kehampaan yang mencekam.
Karya: Agus Dermawan T.
Biodata Agus Dermawan T.:
- Agus Dermawan T. lahir pada tanggal 29 April 1952 di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur.
