Ode Keteguhan
Engkau tak menemukan Sulaiman
Kapal Nuh telah lama pula karam
Hanya tanah dan sisa keyakinan
Meski itu pun kerap digerus gundah
Engkau menanam rasa pasrah
Sembari berharap esok tak panen air bah
Seperti kerumunan rayap
Orang-orang akan menganggapmu tak ubahnya kurap
Menggerogoti tiang dan dinding diam-diam
Menggelontorkan nanar dan waswas di lantai pualam
Disemprotnya dengan gas dan api
Namun engkau mempersilakan diri
Dan tak selangkah pun berkehendak pergi.
Yogya, 1998
Analisis Puisi:
Puisi “Ode Keteguhan” karya Zainal Arifin Thoha menghadirkan perenungan tentang keteguhan sikap dalam situasi yang tidak ramah. Dengan gaya metaforis yang kuat, penyair menggunakan perumpamaan semut dan rayap untuk menggambarkan posisi seseorang atau sekelompok orang yang tetap bertahan meski diremehkan, disalahpahami, bahkan diserang.
Sebagai sebuah ode—puisi pujian—karya ini bukan sekadar menggambarkan keteguhan, tetapi juga merayakannya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keteguhan dalam keyakinan di tengah tekanan dan prasangka. Puisi ini juga menyentuh tema tentang marginalisasi, kesetiaan pada prinsip, serta kesabaran dalam menghadapi ujian.
Keteguhan yang dimaksud bukan keteguhan yang agresif, melainkan keteguhan yang sunyi, tahan uji, dan tidak mudah goyah oleh hinaan atau ancaman.
Puisi ini bercerita tentang sosok “engkau” yang diibaratkan seperti barisan semut dan kerumunan rayap. Ia hidup dalam kondisi yang tidak ideal—tanpa Sulaiman, tanpa kapal Nuh, tanpa perlindungan besar dari figur-figur agung. Yang tersisa hanyalah “tanah dan sisa keyakinan” yang bahkan kerap digerus oleh kegelisahan.
Sosok ini tetap menanam rasa pasrah dan berharap hari esok tidak mendatangkan bencana. Di sisi lain, orang-orang memandangnya negatif, seperti rayap yang dianggap merusak. Ia diserang, “disemprotnya dengan gas dan api,” namun tetap bertahan dan tidak berkehendak pergi.
Puisi ini menggambarkan perjuangan eksistensial seseorang atau kelompok kecil yang bertahan dalam tekanan sosial dan stigma.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini cukup dalam dan simbolik.
- Semut melambangkan kerja keras, kebersamaan, dan ketekunan.
- Rayap melambangkan sesuatu yang dipandang merusak atau mengancam oleh pihak lain.
- Sulaiman merujuk pada kisah Nabi Sulaiman yang memahami bahasa semut—simbol pemimpin adil dan pelindung.
- Kapal Nuh merujuk pada keselamatan dari bencana besar.
Ketika dikatakan “Engkau tak menemukan Sulaiman” dan “Kapal Nuh telah lama pula karam”, ini menyiratkan ketiadaan figur penyelamat atau perlindungan besar. Manusia harus bertahan sendiri, dengan sisa keyakinan yang ada.
Sementara itu, rayap yang “disemprot dengan gas dan api” menggambarkan upaya penyingkiran atau pemusnahan terhadap pihak yang dianggap mengganggu. Namun, keteguhan justru terletak pada kesediaan untuk tetap ada, tetap bertahan, tanpa melawan secara frontal.
Puisi ini bisa dibaca sebagai refleksi sosial: tentang kelompok minoritas, tentang orang-orang beriman yang diuji, atau tentang individu yang teguh memegang prinsip meski disalahpahami.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa muram dan penuh tekanan, namun sekaligus tenang dan tabah. Ada nuansa kegelisahan (“digurus gundah”, “nanar dan waswas”), tetapi juga ada kedalaman pasrah yang tidak putus harapan.
Di akhir puisi, suasana berubah menjadi kokoh dan tegar. Kalimat “Dan tak selangkah pun berkehendak pergi” menegaskan nada keteguhan yang mantap.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini antara lain:
- Tetaplah teguh meski tidak ada figur besar yang melindungi.
- Keyakinan harus dirawat, meski terus digerus kegelisahan.
- Jangan goyah oleh stigma dan penilaian negatif orang lain.
- Keteguhan sejati tidak selalu keras, tetapi konsisten dan tidak berpaling.
Puisi ini mengajarkan bahwa bertahan dalam prinsip adalah bentuk keberanian yang sunyi.
Puisi “Ode Keteguhan” adalah puisi yang merayakan keberanian dalam bentuk paling sunyi: bertahan. Melalui simbol semut dan rayap, Zainal Arifin Thoha menunjukkan bahwa keteguhan tidak selalu tampak heroik atau megah. Kadang ia hadir dalam wujud kecil, tersembunyi, bahkan diremehkan.
Namun justru di situlah kekuatannya.
Keteguhan adalah keputusan untuk tidak pergi, meski dunia seolah tidak menyediakan tempat.
Puisi: Ode Keteguhan
Karya: Zainal Arifin Thoha
Biodata Zainal Arifin Thoha:
- KH. Zainal Arifin Thoha lahir di Kediri, pada tanggal 5 Agustus 1972.
- KH. Zainal Arifin Thoha meninggal dunia pada 14 Maret 2007.