Pada Sebuah Lebaran Idulfitri
Setiap kali berpaling, masih ada cerita
pahit biji mahoni, teduh mahkota trembesi
gubuk-gubuk bersahaja, saluran irigasi
melukis ciuman teramat jelas di pipi ini
Antara pergi dan tidak pergi
ratusan tikungan kulalui, tetap saja kembali
mencari restu selamat, menghindari cacat cela
biji benih melupakan asal mula
serupa beringin tumbuh di celah tembok-tembok kota
Bunda, aku hanya anak-anak rumpun pisang
malu berdesak tumbuh menjelma jelatang
hanya kicau burung dalam detak jantung
menjagamu teguh meniti setiap pematang
Hari ini, beri aku lututmu, tanganmu, dadamu
karena engkau tak pernah menuliskan kata salah
di ubun-ubunku
2009
Sumber: Ziarah Tanah Jawa (2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Pada Sebuah Lebaran Idulfitri” karya Iman Budhi Santosa menghadirkan refleksi yang intim tentang Lebaran sebagai momentum pulang—bukan hanya pulang ke kampung halaman, tetapi pulang ke akar, ke ibu, dan ke asal-usul diri. Dengan diksi yang sarat simbol alam dan lanskap pedesaan, puisi ini memadukan nostalgia, kerendahan hati, serta permohonan restu dalam satu tarikan napas yang liris.
Puisi ini tidak semata merayakan hari raya, tetapi menempatkan Idulfitri sebagai ruang perenungan identitas dan hubungan anak dengan bunda.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kepulangan, kerinduan pada ibu, dan pencarian restu di hari Lebaran. Selain itu, terdapat tema tentang asal-usul, kesederhanaan, serta kesadaran diri sebagai bagian dari akar yang tidak boleh dilupakan.
Lebaran dalam puisi ini menjadi momentum kembali kepada nilai-nilai dasar: keluarga, tanah kelahiran, dan kasih ibu.
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seseorang yang setiap kali berpaling selalu menemukan cerita masa lalu—tentang desa, alam, dan kenangan bersama ibu. Gambaran “pahit biji mahoni, teduh mahkota trembesi, gubuk-gubuk bersahaja, saluran irigasi” menghadirkan suasana kampung halaman yang sederhana namun bermakna.
Tokoh lirik berada dalam pergulatan antara pergi dan tidak pergi. Ia telah melalui “ratusan tikungan,” namun akhirnya tetap kembali untuk mencari “restu selamat” dan menghindari “cacat cela.” Kepulangan ini bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual.
Pada bagian akhir, ia menyebut dirinya “anak-anak rumpun pisang,” sebuah metafora kerendahan hati. Ia memohon kepada bunda: “beri aku lututmu, tanganmu, dadamu,” sebagai simbol permintaan maaf dan harapan akan pelukan serta pengampunan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, ia tetap terikat pada akar dan restu ibu. “Biji benih melupakan asal mula” menyiratkan bahaya ketika manusia lupa pada tanah tempat ia tumbuh.
Perbandingan dengan “beringin tumbuh di celah tembok-tembok kota” menggambarkan identitas desa yang bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota. Ada ketegangan antara modernitas dan akar tradisi.
Permohonan agar diberi “lutut, tangan, dan dada” mengandung makna simbolik: lutut sebagai tempat bersimpuh, tangan sebagai simbol bimbingan, dan dada sebagai ruang pelukan. Ini adalah kerinduan akan penerimaan tanpa syarat.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa nostalgik, haru, dan penuh kerendahan hati. Ada nuansa rindu yang dalam, tetapi juga keteguhan untuk kembali dan memperbaiki diri.
Nada puisi lembut, reflektif, dan sarat kehangatan emosional, terutama pada bagian akhir ketika tokoh lirik berbicara langsung kepada bunda.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya kembali kepada asal-usul dan memohon restu orang tua, terutama ibu, pada momen Lebaran. Puisi ini mengingatkan bahwa keberhasilan atau perjalanan hidup tidak boleh membuat seseorang lupa pada akarnya.
Selain itu, ada pesan tentang kerendahan hati: mengakui kesalahan, mencari pengampunan, dan menyadari bahwa kasih ibu adalah fondasi moral yang tak tergantikan.
Puisi “Pada Sebuah Lebaran Idulfitri” karya Iman Budhi Santosa menghadirkan Lebaran sebagai momentum pulang yang sarat makna. Bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi kembali kepada ibu, kepada akar, dan kepada jati diri.
Melalui simbol-simbol alam dan bahasa yang lembut, puisi ini menegaskan bahwa restu dan kasih ibu adalah cahaya yang menuntun setiap perjalanan hidup.
Biodata Iman Budhi Santosa:
- Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
- Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
