Puisi: Pagar Saudara (Karya Mansur Samin)

Puisi “Pagar Saudara” karya Mansur Samin bercerita tentang dua saudara kandung bangsawan, Siti Rafiah dan Malik Abdullah, yang tumbuh bersama dan ...
Pagar Saudara

Tersebut di wilayah Angkola
jika burung kulik berpulangan ke sarang
jejaka seharian kluyuran bertandang
sering terucap dari para tua:
Lihat nasib Si Batujunjung
masih terpahat di kaki dua gunung!

Maka risalah tak habis-habisnya
ada dua rupawan remaja
Siti Rafiah, Malik Abdullah
turunan raja Sutan Betara

Dua teruna diasuh di istana
sore menari, berlangir di telaga Cempaka
dilipur dayang dan Pandaicerita
kemana Rafiah di sana Abdullah
dua saudara tak pernah berpisah

Sebuah pagi yang cerah
Abdullah 'kan pergi ke rimba
mengajak Rafiah
berburu rusa

Sibirantulang adik seorang
dituntun jauh menyusup hutan
sepenjuru telah dijelajah
seekorpun tak kunjung jumpa

Tika matari menyingsingkan dirinya
dan angin berkejaran ke baratdaya
di lembah nun berguyanglah rimba
melayang dan melayang sianakpanah
sang kijang tergeletak di tanah
akan di panggang untuk Rafiah

Kijang apa kiranya
jantan atau betina?

Sang kijang disamak dicacah
tiap sayatan Rafiah bertanya

Dari kepala, mulut dan telinga
Rafiah bertanya apa namanya

Selesai Abdullah mengurai nama
Rafiah bertanya ke lain pula

Tika Rafiah menuding dada kijang
Abdullah jadilah binatang
sambil memaling penuh pikir
mencari kata 'tuk mengurai lagi

Pekur Abdullah lama terdiam
Rafiah merajuk lalang,
bagai pelipur siadik manja
Abdullah menuding dada adiknya

Rafiah merasa dioloki
tangan berkicak
hati masih mencari

Tiba-tiba jari Rafiah
menunjuk lebih ke bawah
kembali diam Malik Abdullah

Sibirantulang merengut manja
disangka Abdullah mau bercanda
sambil menunjuk merengek pula:
seputar perut apa namanya?

Abdullah menjawab sungkan
pinggang Rafiah dijentik di kanan

Rafiah tergeli tertawa
menunjuk lagi lebih ke bawah
Abdullah menuding pusat adiknya

Disangka Abdullah ingin jenaka
Rafiah menunjuk lebih ke bawah
ke pusat tanda segala yang bernyawa

Bingung Abdullah mencari nama
memandang jauh ke garis cakrawala
memandang nun ke balik tiap arah
karena ketiadaan basa
karena ketiadaan cara
ia menuding milik adiknya

Selagi mencari mata Rafiah
Abdullah menyingkap kain adiknya
gelaplah bumi, gelaplah jiwa
dan terjadilah semua

Maka dari tiap mata Rafiah
topan dan gluduk menyiga rimba
bumipun gegarlah
dalam seketika
keduanya tak dapat berpisah

Telah terlanggar pagar saudara
telah berkumpul dua sedarah
kutukpun jatuhlah
oleh alam dan Sang Dewata
tubuh keduanya
jadi batu berjunjung
terpahat di kaki dua gunung

Sejak terjadi ini risalah
telah teradat di wilayah Angkola
jika lelaki berangkat dewasa
baik dipisah ke luar rumah

Solo, April 1963

Sumber: Horison (Mei, 1969)

Analisis Puisi:

Puisi “Pagar Saudara” karya Mansur Samin merupakan puisi naratif yang kuat dengan nuansa legenda dan kearifan lokal. Berlatar di wilayah Angkola (Sumatra Utara), puisi ini menghadirkan kisah tragis dua saudara sedarah yang melanggar batas moral, hingga akhirnya dikutuk menjadi batu. Karya ini memadukan tradisi lisan, mitos, serta nilai adat yang dijaga turun-temurun.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pelanggaran batas moral dan hukum adat (inses) serta konsekuensi tragisnya.

Selain itu, terdapat tema tambahan seperti:
  • Larangan hubungan sedarah.
  • Pendidikan moral dalam keluarga.
  • Kutukan dan kepercayaan kosmis.
  • Adat sebagai pagar kehidupan.
“Pagar saudara” sendiri merupakan simbol batas yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan kekerabatan.

Puisi ini bercerita tentang dua saudara kandung bangsawan, Siti Rafiah dan Malik Abdullah, yang tumbuh bersama dan tak pernah terpisah. Suatu hari mereka pergi berburu ke rimba. Dalam perjalanan, percakapan polos Rafiah tentang bagian-bagian tubuh kijang berujung pada pertanyaan tentang tubuh manusia.

Abdullah, yang mulai memasuki usia dewasa, tak mampu menjelaskan dengan bijak batas-batas tubuh dan norma. Ketidaktahuan, rasa ingin tahu, dan situasi yang tanpa pengawasan membuat batas itu terlanggar.

“Telah terlanggar pagar saudara
telah berkumpul dua sedarah”

Akibat pelanggaran tersebut, alam murka. Topan dan petir menyambar, bumi bergetar, dan keduanya dikutuk menjadi batu yang “berjunjung” di kaki dua gunung. Sejak itu, adat di wilayah Angkola menetapkan bahwa anak lelaki yang beranjak dewasa harus dipisahkan dari rumah untuk menghindari kejadian serupa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini sangat dalam dan simbolik.
  • Pagar Saudara sebagai simbol norma adat. Pagar bukan benda fisik, melainkan batas moral dan hukum sosial yang melindungi martabat keluarga.
  • Perubahan dari manusia menjadi batu. Batu melambangkan kekekalan hukuman dan peringatan abadi. Kisah ini menjadi legenda agar masyarakat selalu ingat batas tersebut.
  • Rimba dan kijang. Rimba bisa dimaknai sebagai ruang liar tanpa aturan, tempat naluri lebih dominan daripada norma. Kijang yang dibedah menjadi metafora proses mengenal tubuh dan seksualitas.
  • Kutukan alam dan Dewata. Hukuman tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga dari tatanan kosmis. Artinya, pelanggaran moral dianggap melawan keseimbangan alam.
  • Pemuda dipisah dari rumah. Ini menyiratkan bahwa pendidikan dan pengendalian diri adalah tanggung jawab sosial. Adat hadir sebagai sistem pencegah.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini berkembang secara bertahap:
  • Awalnya tenang dan folkloris, seperti dongeng atau hikayat.
  • Berubah menjadi canggung dan tegang saat percakapan tentang tubuh berlangsung.
  • Mencekam dan tragis ketika pelanggaran terjadi.
  • Diakhiri dengan suasana muram, sakral, dan penuh peringatan.
Perubahan suasana ini memperkuat efek dramatik puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat ditarik:
  • Hormati batas moral dan adat yang berlaku dalam masyarakat.
  • Jangan remehkan rasa ingin tahu tanpa bimbingan nilai.
  • Pendidikan tentang kedewasaan dan tubuh harus disertai kebijaksanaan.
  • Adat dan norma diciptakan sebagai pelindung, bukan pembatas kebebasan semata.
Puisi ini berfungsi sebagai pengingat kolektif bahwa pelanggaran terhadap nilai dasar keluarga akan membawa konsekuensi besar.

Puisi “Pagar Saudara” karya Mansur Samin adalah puisi naratif bernuansa legenda yang sarat nilai adat dan peringatan moral. Melalui kisah tragis dua saudara sedarah, penyair menyampaikan bahwa norma bukan sekadar aturan, melainkan pagar pelindung peradaban.

Dengan gaya penceritaan yang mengingatkan pada hikayat Melayu, puisi ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga medium pewarisan nilai budaya. Kisah batu berjunjung di kaki gunung bukan sekadar mitos, melainkan simbol abadi bahwa batas saudara adalah pagar yang tak boleh dilanggar.

Mansur Samin - Horison
Puisi: Pagar Saudara
Karya: Mansur Samin

Biodata Mansur Samin:
  • Mansur Samin mempunyai nama lengkap Haji Mansur Samin Siregar;
  • Mansur Samin lahir di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara pada tanggal 29 April 1930;
  • Mansur Samin meninggal dunia di Jakarta, 31 Mei 2003;
  • Mansur Samin adalah anak keenam dari dua belas bersaudara dari pasangan Haji Muhammad Samin Siregar dan Hajjah Nurhayati Nasution;
  • Mansur Samin adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.