Puisi: Pelaut (Karya F.L. Risakotta)

Puisi “Pelaut” karya F.L. Risakotta menghadirkan gambaran kehidupan yang diibaratkan seperti pelayaran: penuh gejolak, pertarungan, dan ...

Pelaut

Sedatar dengan alun ia bernyanyi
bagai mimpi
kadang menukik di pucuk karang
di mana kasihnya membenam merangsang

Biduk di air menari membuai
dengan laguan alun meningkah
pulang sejemput hidup di diri

Bunga di pantai, bunga cumbuan
tempat pelaut canda berdendang
di pangkumu hidup menjiwa
sakarat merata di dada kasih kita

Bunga di pantai, kuntum membara
di nyala mentari sinar mengemas
pulang bertanding di laut mengganas
datang bercumbu di pantai dara

Nyanyi tiada terpaut di hati meluka
bunga sekuntum hampir gugur
pelaut belum tiba
ke mana canda hendak dibawa??

Nyanyian kian temaram
kepagian cumbu hampir selesai
tapi pelaut belum tiba
nanti bunga layu tiada berita.

Sumber: Majalah Kebudayaan Indonesia VI (Oktober-November-Desember, 1955)

Analisis Puisi:

Puisi “Pelaut” karya F.L. Risakotta menghadirkan gambaran puitik tentang kehidupan seorang pelaut yang terombang-ambing antara laut dan daratan, antara keberangkatan dan kepulangan, antara cinta dan kehilangan. Dengan diksi yang musikal serta simbol alam yang kuat, puisi ini membangun suasana romantik sekaligus melankolis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penantian dan cinta dalam bayang-bayang ketidakpastian hidup. Laut dan pantai menjadi latar simbolik yang menegaskan dua dunia: dunia perjuangan dan dunia kasih.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kefanaan, kesementaraan pertemuan, dan risiko kehidupan yang selalu mengintai.

Puisi ini bercerita tentang seorang pelaut yang hidupnya menyatu dengan alun dan ombak. Ia pergi mengarungi laut yang “mengganas”, lalu kembali ke pantai tempat cinta dan cumbu menanti.

Pantai digambarkan sebagai ruang kasih—“bunga cumbuan”, “pantai dara”—sementara laut menjadi arena pertarungan hidup. Namun dalam puisi ini, sang pelaut belum juga tiba. Penantian menjadi pusat emosi puisi. Bunga yang menjadi simbol kekasih atau cinta mulai layu karena waktu terus berjalan tanpa kepastian.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat ditafsirkan pada beberapa lapis:
  • Laut sebagai simbol kehidupan yang keras. “Pulang bertanding di laut mengganas” menunjukkan bahwa hidup adalah arena perjuangan yang penuh risiko.
  • Pantai sebagai simbol cinta dan ketenangan. Pantai menjadi tempat kembali, tempat jiwa beristirahat.
  • Bunga sebagai lambang kesetiaan dan harapan. Namun bunga juga bisa layu. Artinya, cinta dan harapan memiliki batas waktu.
  • Ketidakpastian nasib manusia. “Pelaut belum tiba” berulang kali ditegaskan, menandakan ketidakpastian yang menyakitkan.
Secara lebih dalam, puisi ini dapat dibaca sebagai alegori tentang manusia yang mengejar ambisi atau kewajiban hidup, sementara cinta menunggu dengan setia—tetapi waktu tidak selalu berpihak.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bergerak dinamis:
  • Awalnya terasa lirih dan musikal, dengan irama seperti alun laut.
  • Lalu berkembang menjadi romantik, penuh cumbu dan harapan.
  • Di bagian akhir, suasana berubah menjadi sendu dan cemas, ketika pelaut tak kunjung datang dan bunga hampir gugur.
Perubahan suasana ini memperkuat kesan bahwa penantian adalah inti emosional puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat ditarik dari puisi ini:
  • Hidup adalah perjalanan yang penuh risiko; tidak semua yang pergi pasti kembali.
  • Penantian memerlukan kesetiaan, tetapi waktu tetap berjalan.
  • Cinta perlu dijaga dan tidak ditunda terlalu lama, karena “bunga” bisa layu sebelum pertemuan terjadi.
Puisi “Pelaut” karya F.L. Risakotta menghadirkan gambaran kehidupan yang diibaratkan seperti pelayaran: penuh gejolak, pertarungan, dan ketidakpastian. Di sisi lain, cinta tetap setia menanti di pantai—meski waktu bisa membuatnya layu.

Melalui simbol laut dan bunga, puisi ini menyampaikan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup, risiko, serta arti sebuah kepulangan yang belum tentu terjadi.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Pelaut
Karya: F.L. Risakotta
© Sepenuhnya. All rights reserved.