Penulis di Tempatku
ada yang menulis lebih 40 tahun
tetapi karyanya tak tua-tua
seperti peribadi remajanya
seperti hatinya tak jemu-jemu bercinta
ada yang menulis sekitar 10 tahun
tetapi ciptaannya cepat ranum
dan buahnya selalu dikait orang.
ada yang berfalsafah di rimba tebal
tetapi falsafah itu sendiri menyesatkannya
bagai pemburu yang terperangkap di hutan.
ada yang menulis di lembah kecil
di kelilingi kata-kata sederhana
dan kata-kata itu mengangkat maknanya.
ada yang gila mengusung buku
ke hulu ke hilir mengisi jadual hariannya,
membaca tidak menulis jauh sekali.
ada yang kerjanya membeli buku,
itu saja kerja yang digemarinya
seperti kegemaran isterinya membeli
buku masakan penghias dapur.
ada yang memuncak nafsunya di kedai kopi
tetapi mati pucuk di majlis rasmi.
ada yang berkajang-kajang
membentang kertas kerja;
suaranya kadang-kadang meliar tanpa arah
bagai api mengunyah lalang kering.
ada yang diam-diam
menangkap suara itu;
menapis, menepis dan menyerahnya ke akal
bagai anak sungai mengenepikan sampah
menuju ke muka kuala
1993
Sumber: Petang Condong (1996)
Analisis Puisi:
Puisi “Penulis di Tempatku” menghadirkan potret beragam karakter penulis dengan segala kecenderungan, kelemahan, dan keunikannya. Melalui gaya pengucapan yang sederhana namun tajam, penyair seperti melakukan pengamatan sosial terhadap dunia kepenulisan. Puisi ini tidak sekadar berbicara tentang aktivitas menulis, melainkan juga tentang sikap, konsistensi, bahkan paradoks yang kerap menyertai para penulis.
Tema
Tema utama puisi ini adalah refleksi tentang dunia kepenulisan dan karakter para penulis. Penyair menyoroti berbagai tipe penulis: yang konsisten dan awet muda dalam berkarya, yang cepat matang, yang terjebak dalam filsafatnya sendiri, hingga yang gemar membaca namun tidak pernah benar-benar menulis.
Tema ini berkembang menjadi kritik sosial yang halus terhadap gaya hidup intelektual yang kadang hanya bersifat simbolik, bukan substansial.
Puisi ini bercerita tentang beragam sosok penulis yang hidup dalam satu ruang sosial yang sama. Ada yang telah menulis lebih dari 40 tahun tetapi karyanya tetap segar. Ada pula yang baru menulis 10 tahun tetapi cepat dikenal. Ada yang berfilsafat namun tersesat dalam pikirannya sendiri. Ada yang rajin menghadiri diskusi, membeli buku, atau membentangkan kertas kerja, tetapi substansi karyanya dipertanyakan.
Di sisi lain, ada sosok yang diam-diam menyaring suara-suara itu, mengolahnya dengan akal sehat, seperti anak sungai yang mengalir tenang menuju muara. Sosok ini tampak sebagai simbol penulis sejati—yang bekerja dalam keheningan, bukan dalam keramaian.
Makna Tersirat
Puisi ini adalah kritik terhadap sikap superfisial dalam dunia literasi. Penyair seolah ingin mengatakan bahwa menjadi penulis bukan soal lamanya berkarya, banyaknya buku yang dibeli, atau seringnya tampil di forum resmi. Yang lebih penting adalah kedalaman makna, ketekunan, dan kejujuran dalam mengolah kata.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa dunia kepenulisan tidak steril dari ego, ambisi, dan kepura-puraan. Ada yang tampak produktif, tetapi miskin kedalaman. Ada yang tampak biasa saja, tetapi justru memiliki kualitas yang tahan lama.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi cenderung reflektif dan satir. Nada sindiran terasa lembut namun mengena. Penyair tidak menyerang secara frontal, melainkan menggunakan perbandingan dan metafora untuk menggambarkan kekurangan dan kelebihan masing-masing tipe penulis.
Di bagian akhir, suasana berubah menjadi lebih tenang dan penuh harapan ketika digambarkan sosok yang “diam-diam menangkap suara itu; menapis, menepis dan menyerahnya ke akal”. Bagian ini menghadirkan kesan kontemplatif.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa kualitas seorang penulis tidak ditentukan oleh popularitas, usia berkarya, atau atribut intelektual semata. Yang utama adalah kesungguhan dalam berpikir, kejujuran dalam berkarya, dan kemampuan mengolah pengalaman menjadi makna.
Puisi ini juga mengajak pembaca—terutama yang berkecimpung di dunia literasi—untuk bercermin: sudahkah menulis dengan substansi, atau sekadar mengikuti arus?
Puisi “Penulis di Tempatku” adalah potret sosial dunia kepenulisan yang ditulis dengan nada reflektif dan satir. Melalui berbagai gambaran karakter, penyair mengajak pembaca memahami bahwa dunia literasi penuh dengan paradoks: ada yang tampak besar tetapi kosong, ada yang sederhana namun bermakna.
Puisi ini menjadi karya yang kaya tafsir dan relevan bagi siapa pun yang bergulat dengan dunia menulis.
Karya: T. Alias Taib
Biodata T. Alias Taib:
- T. Alias Taib lahir pada tanggal 20 Februari 1943 di Kuala Terengganu, Malaysia. Ia mulai menulis puisi dan cerpen pada tahun 1960.
- T. Alias Taib meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 2004 di Kuala Lumpur, Malaysia.
