Puisi: Penunggang Kuda Hitam (Karya Nirwan Dewanto)

Puisi “Penunggang Kuda Hitam” karya Nirwan Dewanto menyiratkan bahwa seni bukan sekadar produksi objek, tetapi pencarian makna yang berisiko dan ...

Penunggang Kuda Hitam

(untuk Ugo Untoro)

Ia belum lulus dari sekolah fantasi ketika ia tiba-tiba sampai di depan rumah jagal di mana kuda-kuda bertaji mengantri untuk melihat genangan darah mereka sendiri. Setelah mencoba mengingat-ingat wajah mereka satu demi satu, ia segera lupa bahwa hari itu ia harus menempuh ujian menggambar.

Gurunya, yang biasa mengajari ia menggubah sosok lelaki penunggang kuda atau penjaga pintu kaum bendahara, entah kenapa sudah berada di sampingnya dan berkata, "Para pengantri itu sedang berbahagia. Dan hari ini engkau sudah dewasa. Marilah," dan segera menarik ia ke sebuah klinik, yang mirip ruang kelasnya sendiri,

di mana ia disudutkan oleh--entahlah, ia sungguh ragu siapa?--bapanya sendiri, dokter jaga, komandan kompi, atau si guru, "Berapa banyak yang engkau bunuh hari ini, anakku? Lekaslah gambarkan rupa para kekasih yang telanjur punah itu. Agar kami mampu memercayaimu."

Maka di layar raksasa yang dibentangkan untuknya di ruang terang-benderang itu ia melukis karung tinju, sedan Impala, boneka kain bekas, satria wayang kulit, daun anturium, sepatu hak tinggi, ular Warhol, benteng batako, sepeda Raleigh, sangkar burung balam, kolam renang, penyair mata pisau, penggemar ikan asin, sepur Mutiara, sapu ijuk Yu Sri?

sampai ia terjaga oleh pukulan di perutnya, yang tersusul teriakan sekerumun umat, "Wahai lelaki penunggang kuda, kenapa engkau hanya membawa kami berpacu dengan lautan benda belaka? Di mana kudamu, jantung hatimu, yang akan menghela kami menuju khazanah penuh hikmat kebijaksanaan dari kumpulan orang mati?"

Ia pun sadar bahwa ternyata tangannya sudah berlumur darah sejak pagi tadi, ketika ia mampu menyelamatkan hanya seekor kuda hitam, yang terpaksa disembunyikannya ke balik baju saat ia harus bergegas mengejar langkah gurunya ke arah matahari terbenam. Segera ia mendengar reringkik teramat akrab mendekat ke arahnya.

Maka dengan jemarinya belaka, hanya dengan warna darah yang mulai kusam--garing itu, ia menggoreskan seekor kuda terpantas, terpanas, terganas, kuda hitam, kuda andan, kuda Troya, kuda Kroya, kuda kepang, kuda dremolen, kuda bendi, kuda sembrani, kuda bertaji, kuda Larasati, kuda Kandinsky, atau kuda Umbu, dan ia berkata kepada kaum pemirsa yang kian dahaga itu, "Naikilah ia, wahai pemuja keindahan. Pergilah dalam damai, sebab kau sekalian sudah terlalu lama memeramku di tangsi serdadu atau klinik psikiatri ini."

Di lebuh menuju sekolah fantasi, di mana mereka yang merampas kudanya menghilang ke balik seribu raut rekaannya, ia mulai belajar menyimak suaranya sendiri, yang sepintas terdengar hanya seperti jerit lemah si guru ketika tenggelam di rumah jagal itu.

2008

Sumber: Buli-Buli Lima Kaki (2010)

Analisis Puisi:

Puisi “Penunggang Kuda Hitam” karya Nirwan Dewanto adalah puisi panjang yang kompleks, surealis, dan penuh simbol. Ia bergerak di antara ruang fantasi, rumah jagal, klinik, ruang kelas, hingga tangsi serdadu. Tokoh “ia” dalam puisi ini mengalami semacam pengadilan batin sekaligus sosial—dituntut untuk mempertanggungjawabkan imajinasi, karya, dan mungkin juga kekerasan yang melingkupinya.

Puisi ini memadukan dunia seni, kekuasaan, kekerasan, dan identitas kreator dalam satu lanskap simbolik yang padat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pergulatan seniman dengan kekuasaan dan kekerasan, serta krisis makna dalam dunia imajinasi. Ada pertanyaan tentang apa arti mencipta di tengah dunia yang brutal—di “rumah jagal” tempat darah menggenang dan kuda-kuda bertaji mengantre.

Tema lain yang kuat adalah kedewasaan yang dipaksakan. Tokoh “ia” disebut “sudah dewasa” justru ketika ia dihadapkan pada darah, pembunuhan, dan tuntutan untuk menggambarkan “rupa para kekasih yang telanjur punah”.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang belum lulus dari “sekolah fantasi”, tetapi tiba-tiba berada di depan rumah jagal. Ia berhadapan dengan guru, figur ayah, dokter, komandan—otoritas-otoritas yang menanyainya tentang pembunuhan dan menuntutnya menggambar.

Di ruang terang-benderang, ia melukis berbagai benda: dari karung tinju, sedan Impala, satria wayang kulit, hingga kuda Troya dan kuda Kandinsky. Namun massa mempertanyakan: mengapa hanya benda? Di mana kuda sejati—jantung hati yang membawa hikmat?

Pada akhirnya, ia sadar tangannya berlumur darah, dan ia hanya mampu menyelamatkan seekor kuda hitam. Dengan darahnya sendiri, ia menggambar kuda itu dan menyerukannya kepada para pemirsa untuk menaikinya dan pergi dalam damai.

Puisi ditutup dengan perjalanan kembali ke “sekolah fantasi”, sambil menyimak suaranya sendiri—yang terdengar seperti jerit guru yang tenggelam di rumah jagal.

Makna Tersirat

Rumah jagal dapat dimaknai sebagai simbol dunia yang brutal—tempat idealisme, imajinasi, dan makhluk hidup dipotong serta dipertontonkan. Kuda hitam bisa dimaknai sebagai simbol daya hidup, kebebasan, imajinasi murni, atau bahkan nurani.

Pertanyaan “Berapa banyak yang engkau bunuh hari ini?” dapat ditafsirkan sebagai gugatan terhadap seniman: apakah dalam berkarya ia mengkhianati sesuatu? Apakah ia membunuh makna demi estetika?

Deretan benda yang dilukis menggambarkan dunia konsumsi dan simbol budaya—dari wayang hingga Warhol. Namun massa menginginkan sesuatu yang lebih esensial: kuda sebagai jantung, bukan sekadar benda.

Kuda hitam yang disembunyikan di balik baju menyiratkan bahwa imajinasi sejati sering harus dilindungi dari sistem—baik itu tangsi serdadu maupun klinik psikiatri, dua simbol kontrol dan normalisasi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini gelap, ganjil, dan mencekam. Ada nuansa surealis dan absurd, tetapi juga ketegangan yang nyata. Rumah jagal, darah, klinik, tangsi serdadu—semuanya menciptakan atmosfer represi dan kekerasan.

Namun menjelang akhir, muncul semacam pembebasan simbolik ketika kuda hitam digoreskan dan ditawarkan kepada pemuja keindahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dimaknai sebagai seruan agar seniman setia pada inti imajinasinya. Di tengah tekanan kekuasaan, tuntutan massa, dan godaan benda-benda duniawi, ia harus menemukan dan menyelamatkan “kuda hitam”-nya—daya cipta yang paling otentik.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa seni bukan sekadar produksi objek, tetapi pencarian makna yang berisiko dan berdarah.

Puisi “Penunggang Kuda Hitam” karya Nirwan Dewanto menghadirkan refleksi tentang seni, kekuasaan, dan kebebasan batin. Kuda hitam pada akhirnya menjadi simbol inti yang harus diselamatkan—daya hidup kreatif yang hanya bisa digoreskan dengan keberanian, bahkan dengan darah sendiri.

Nirwan Dewanto
Puisi: Penunggang Kuda Hitam
Karya: Nirwan Dewanto

Biodata Nirwan Dewanto:
  • Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.