Puisi: Perpisahan (Karya Sitor Situmorang)

Puisi “Perpisahan” karya Sitor Situmorang mengajak pembaca merenungkan bahwa cinta bukan hanya pengalaman bersama, tetapi juga proses pembentukan ...
Perpisahan

Ketika berpisah malam itu
di pojok Broadway/Waverley Place
(seperti di Sanur-Bali saja)
ketika kau lenyap
di arus lalulintas
aku tak merasa berpisah

New York adalah kau.

Kau musim, kau laut
siap didatangi
di sela-sela kesibukan dan
di antara cinta bergantian
sesuai adat kosmopolitan,

sampai saat terkenang
seperti sekarang
dalam pelukan cintaku
teringat

kau dalam pelukan pacarmu

yang malam itu menanti
di kamarmu, sant kita
berpisah di pojok jalan

Heran — masih bisa cemburu —

terbakar api lebih ganas

dalam kenangan

Apakah kau masih kau
aku masih aku?
terbujur
di ranjang lama,

hangus terbakar api
yang sama?


Sumber: Rindu Kelana (Gramedia Widiasarana Indonesia, 1994)

Analisis Puisi:

Puisi “Perpisahan” karya Sitor Situmorang menghadirkan potret cinta dalam lanskap kosmopolitan yang kompleks. Latar kota besar—New York—menjadi ruang pertemuan sekaligus perpisahan, tetapi yang lebih penting adalah pergulatan batin tokoh liris terhadap kenangan, kecemburuan, dan identitas diri setelah hubungan berakhir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perpisahan dan kenangan cinta dalam konteks kehidupan modern yang kosmopolitan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kecemburuan, identitas, serta jejak emosional yang tidak mudah padam meski secara fisik telah berpisah.

Perpisahan dalam puisi ini bukan hanya jarak ruang, melainkan juga jarak batin yang terus menghantui.

Puisi ini bercerita tentang momen perpisahan dua kekasih di pojok jalan Broadway/Waverley Place, New York. Penyair menyaksikan kekasihnya lenyap dalam arus lalu lintas. Namun ia berkata, “aku tak merasa berpisah”.

Kota New York bahkan disamakan dengan sosok kekasih: “New York adalah kau.” Sosok “kau” menjadi bagian dari musim, laut, dan kesibukan kota. Hubungan mereka berada dalam adat kosmopolitan—cinta yang bisa datang dan pergi, bergantian.

Namun, ketika kenangan muncul kembali, penyair menyadari bahwa kekasihnya telah kembali ke pelukan pacarnya. Di sinilah kecemburuan menyala. Kenangan justru membakar lebih ganas daripada perpisahan itu sendiri.

Puisi diakhiri dengan pertanyaan eksistensial: apakah mereka masih menjadi diri yang sama setelah terbakar oleh api cinta yang sama?

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa perpisahan fisik tidak serta-merta menghapus keterikatan emosional. Penyair merasa tidak benar-benar berpisah karena kenangan masih melekat kuat.

Ungkapan “New York adalah kau” menyiratkan bahwa kekasih telah menyatu dengan ruang dan pengalaman hidupnya. Kota bukan sekadar latar, melainkan simbol kehadiran cinta itu sendiri.

Puisi ini juga menyiratkan ironi kehidupan kosmopolitan: relasi yang cair, cinta yang bergantian, dan kebebasan yang justru menyisakan kecemburuan. Meski terbiasa dengan dinamika kota besar, perasaan cemburu tetap membara.

Pertanyaan di akhir puisi menyinggung persoalan identitas. Cinta yang intens bisa mengubah seseorang. Setelah terbakar oleh api yang sama, apakah mereka masih diri yang dulu?

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini kompleks dan berubah-ubah:
  • Awalnya terasa tenang dan reflektif saat momen perpisahan digambarkan.
  • Lalu muncul nuansa nostalgia dan intim ketika kenangan dihadirkan.
  • Kemudian suasana berubah menjadi panas dan getir saat kecemburuan muncul.
  • Di bagian akhir, suasana menjadi kontemplatif dan eksistensial.
Perubahan suasana ini menunjukkan gejolak batin penyair .

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini dapat dimaknai sebagai kesadaran bahwa cinta meninggalkan jejak yang mendalam, bahkan setelah perpisahan terjadi. Manusia mungkin hidup dalam budaya yang bebas dan kosmopolitan, tetapi perasaan tetaplah manusiawi.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta bisa membentuk dan sekaligus membakar identitas seseorang. Oleh karena itu, hubungan tidak pernah benar-benar netral—ia selalu meninggalkan bekas.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, antara lain:
  • Imaji visual: pojok Broadway/Waverley Place, arus lalu lintas, ranjang lama.
  • Imaji gerak: “kau lenyap di arus lalulintas”.
  • Imaji perasaan: cemburu yang “terbakar api lebih ganas”.
  • Imaji panas/termal: “hangus terbakar api yang sama” memperkuat kesan intensitas emosi.
Imaji-imaji tersebut memperkuat suasana urban sekaligus batin yang membara.

Majas

Beberapa Majas yang menonjol dalam puisi ini:
  • Metafora: “New York adalah kau” menyamakan kota dengan sosok kekasih.
  • Personifikasi: musim dan laut seakan memiliki sifat yang dapat “didatangi”.
  • Hiperbola: api yang membakar kenangan menunjukkan intensitas emosi yang berlebihan.
  • Pertanyaan retoris: “Apakah kau masih kau / aku masih aku?” menegaskan kegelisahan eksistensial.
Penggunaan majas tersebut membuat puisi ini terasa padat, emosional, dan reflektif.

Puisi “Perpisahan” karya Sitor Situmorang adalah refleksi mendalam tentang cinta dan perpisahan dalam lanskap kota modern. Melalui latar New York dan pergulatan batin, penyair memperlihatkan bahwa kenangan bisa lebih membakar daripada momen berpisah itu sendiri.

Puisi ini mengajak pembaca merenungkan bahwa cinta bukan hanya pengalaman bersama, tetapi juga proses pembentukan diri—yang kadang menyisakan pertanyaan tentang siapa kita setelah api itu padam atau justru semakin menyala.

Puisi Sitor Situmorang
Puisi: Perpisahan
Karya: Sitor Situmorang

Biodata Sitor Situmorang:
  • Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
  • Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
  • Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.