Puisi: Pertanyaan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Pertanyaan” karya Gunoto Saparie mengajak pembaca untuk tidak selalu mencari jawaban atas perasaan, melainkan belajar menerimanya sebagai ...
Pertanyaan

ada pertanyaan sederhana buatmu
namun justru tidak untuk kaujawab
ketika hujan deras dan menderu
mengapa mendadak rindu mengharu biru?

2022

Analisis Puisi:

Puisi “Pertanyaan” karya Gunoto Saparie merupakan sajak pendek yang sederhana secara struktur, tetapi dalam secara rasa. Dengan hanya empat larik, penyair berhasil merangkum pengalaman batin yang akrab bagi banyak orang: perasaan rindu yang datang tiba-tiba, terutama ketika hujan turun deras.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan yang hadir tanpa sebab yang jelas. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang misteri perasaan manusia—bahwa tidak semua pertanyaan batin membutuhkan jawaban logis. Hujan dalam puisi ini menjadi latar yang memperkuat tema emosional tersebut.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengajukan pertanyaan sederhana kepada “kamu”. Namun, pertanyaan itu bukan untuk dijawab, melainkan untuk direnungkan. Saat hujan turun deras dan menderu, tiba-tiba rasa rindu muncul dan mengharu biru.

Situasinya tampak sederhana: hujan dan rasa rindu. Namun, hubungan antara keduanya menghadirkan pengalaman batin yang kompleks. Hujan seolah menjadi pemantik memori dan perasaan yang selama ini tersembunyi.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah bahwa perasaan rindu sering kali tidak rasional. Ia datang tanpa diundang, tanpa sebab yang pasti, dan tidak selalu membutuhkan jawaban.

Kalimat “namun justru tidak untuk kaujawab” menunjukkan bahwa ada pertanyaan yang memang tidak ditujukan untuk mencari solusi, melainkan sebagai bentuk pengakuan perasaan. Rindu bukan untuk dijelaskan, melainkan untuk dirasakan.

Hujan deras bisa dimaknai sebagai simbol kesunyian, nostalgia, atau suasana yang memperkuat kepekaan batin. Dalam banyak tradisi sastra, hujan kerap diasosiasikan dengan kenangan dan kesedihan—dan puisi ini memanfaatkan asosiasi itu dengan efektif.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sendu, reflektif, dan intim. Dentuman hujan yang “deras dan menderu” membangun latar bunyi yang kuat, sementara kata “mengharu biru” mempertegas nuansa melankolis. Meski singkat, puisi ini menghadirkan atmosfer yang hening dan personal.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa tidak semua hal dalam hidup harus dijelaskan secara rasional. Perasaan—terutama rindu—adalah bagian dari kemanusiaan yang wajar.

Puisi ini juga mengisyaratkan bahwa terkadang, menerima perasaan apa adanya jauh lebih penting daripada berusaha mencari jawabannya.

Puisi “Pertanyaan” karya Gunoto Saparie menunjukkan bahwa kesederhanaan bisa menyimpan kedalaman makna. Dengan latar hujan dan satu pertanyaan retoris, penyair menghadirkan refleksi tentang rindu yang datang tanpa sebab.

Puisi ini mengajak pembaca untuk tidak selalu mencari jawaban atas perasaan, melainkan belajar menerimanya sebagai bagian dari pengalaman manusia yang paling personal dan jujur.

Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Pertanyaan
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.