Puisi: Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan (Karya Frans Nadjira)

Puisi “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” karya Frans Nadjira menyiratkan pesan bahwa kehidupan adalah perjalanan menuju terang—bahwa dalam ...
Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan

Bulan. Jembatan basah
Pohon dari hutan
          rebah
menghubungkan tepi impian

Rindu kita. Suatu saat.
pohon tua di taman
      yang telah ditinggalkan
      tepi daun peraknya
dan malam ajaib burung merpati
berdiri di sisi ranjang
bersama orang-orang yang kita cintai:
Yang bertubuh kurus matanya
      seperti bintang rontok
Yang tak bertubuh membisikkan
      kata-kata hiburan mirip dengung
      suara lalat di sumur dalam

Sumur Alzheimer. Dan surat-surat simpati
yang ditulis dengan jari di jendela dingin.
      Kasihku
Bila saat itu tiba, ah
Pohon yang tinggi dekat dengan bulan
Dan tepi impian rindu kita
Membentang jalan ke titik paling terang
Paling terang            Paling terang

Sumber: Jendela Jadikan Sajak (2003)

Analisis Puisi:

Puisi “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” karya Frans Nadjira merupakan sajak kontemplatif yang memadukan simbol alam, rindu, ingatan, dan kematian dalam lanskap yang puitis dan sugestif. Dengan bahasa yang fragmentaris dan metaforis, penyair menghadirkan dunia antara nyata dan mimpi—antara ingatan yang memudar dan cahaya yang tetap menyala.

Puisi ini terasa seperti elegi: lembut, hening, tetapi menyimpan kedalaman emosional yang kuat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah rindu dan ingatan yang berkaitan dengan kefanaan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kehilangan, penyakit (ditandai dengan “Sumur Alzheimer”), serta harapan akan cahaya di ujung perjalanan.

Ada pula tema tentang jembatan antara dunia nyata dan dunia kenangan, antara hidup dan kemungkinan setelahnya.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang rindu yang menjembatani impian dan kenyataan. Di awal, gambaran “Bulan. Jembatan basah. Pohon dari hutan rebah” membentuk citra penghubung antara dua tepi—tepi impian dan mungkin tepi kehidupan.

Pohon tua di taman yang ditinggalkan menghadirkan kenangan masa lalu. Orang-orang yang dicintai muncul dalam bayangan: yang bertubuh kurus dengan mata seperti bintang rontok, dan yang tak bertubuh membisikkan kata-kata hiburan.

Istilah “Sumur Alzheimer” menjadi titik emosional yang kuat, menyiratkan ingatan yang perlahan tenggelam. Surat-surat simpati yang ditulis di jendela dingin menghadirkan suasana duka dan kesepian.

Namun di akhir, puisi ini mengarah pada harapan: pohon yang tinggi dekat dengan bulan membentangkan jalan ke titik paling terang—sebuah simbol cahaya dan kemungkinan keselamatan.

Makna Tersirat

Puisi ini berkaitan dengan perjalanan hidup menuju kehilangan dan ingatan yang memudar. “Sumur Alzheimer” dapat dimaknai sebagai metafora tentang pikiran yang tenggelam dalam kegelapan lupa.

Pohon yang tinggi dekat dengan bulan melambangkan harapan atau transendensi—sesuatu yang lebih tinggi, lebih terang, melampaui penderitaan duniawi.

“Titik paling terang” yang diulang-ulang menunjukkan kerinduan akan pencerahan, kedamaian, atau mungkin kehidupan setelah kematian.

Puisi ini seakan menyampaikan bahwa meskipun ingatan memudar dan tubuh melemah, cahaya rindu tetap membimbing ke arah terang.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini hening, melankolis, dan reflektif. Ada rasa duka yang lembut, bukan ledakan emosi, melainkan kesedihan yang mengendap.

Namun di bagian akhir, suasana berubah menjadi lebih harap dan transenden, ketika cahaya disebut sebagai “paling terang.”

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa rindu dan kasih sayang memiliki daya yang melampaui waktu dan penyakit. Meskipun ingatan bisa tenggelam, cinta tetap menjadi jembatan menuju cahaya.

Puisi ini juga menyiratkan pesan bahwa kehidupan adalah perjalanan menuju terang—bahwa dalam kehilangan sekalipun, manusia dapat menemukan makna dan harapan.

Puisi “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” karya Frans Nadjira adalah refleksi tentang rindu, kehilangan, dan cahaya harapan. Dengan simbol alam dan metafora yang mendalam, penyair menghadirkan perjalanan batin manusia menghadapi memudarnya ingatan dan kefanaan tubuh.

Namun di tengah kegelapan itu, puisi ini menegaskan satu hal: selalu ada jalan menuju titik paling terang. Dan di sanalah rindu dan cinta menemukan maknanya yang paling abadi.

Frans Nadjira
Puisi: Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira
  1. Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.