Rantau
Asin garam yang kau kirim
Tak pernah sampai
Tak pernah kucium
Tahun-tahun menggores bening mataku
Mencuatkan gelembung dari baling-baling
Memaksaku berpaling dari laut biru
Telah kupersiapkan jala
Sudah kupahat anjungan:
Lukisan-lukisan pelayaran--
Sepasang matamu yang nanar--
Kekar tubuhmu saat mendayung perahu
Tangan keriput ibu
Kupancang jangkar di kedalaman batin
Agar segala dustaku kelak mampu kulunasi
Membawaku menyeberangi pulau impian
Juga tanah kelahiran
Asin garam yang kau kirim
Tak pernah sampai
Tak pernah kucium
Tak pernah sampai
Tak pernah kucium
Tahun-tahun menggores bening mataku
Mencuatkan gelembung dari baling-baling
Memaksaku berpaling dari laut biru
Telah kupersiapkan jala
Sudah kupahat anjungan:
Lukisan-lukisan pelayaran--
Sepasang matamu yang nanar--
Kekar tubuhmu saat mendayung perahu
Tangan keriput ibu
Sepasang matamu yang nanar--
Kekar tubuhmu saat mendayung perahu
Tangan keriput ibu
Kupancang jangkar di kedalaman batin
Agar segala dustaku kelak mampu kulunasi
Membawaku menyeberangi pulau impian
Juga tanah kelahiran
Agar segala dustaku kelak mampu kulunasi
Membawaku menyeberangi pulau impian
Juga tanah kelahiran
Sumber: Tanéyan (PT Komodo Books, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Rantau” karya Mahwi Air Tawar menghadirkan gambaran perjalanan batin seseorang yang berada jauh dari tanah kelahirannya. Dengan menggunakan simbol laut, pelayaran, dan keluarga, puisi ini menampilkan refleksi tentang kehidupan di perantauan serta kerinduan terhadap kampung halaman.
Bahasa yang digunakan dalam puisi ini penuh dengan simbol dan metafora yang kuat. Laut, jala, jangkar, hingga bayangan keluarga menjadi unsur penting yang membangun suasana emosional dalam puisi. Melalui simbol-simbol tersebut, penyair menggambarkan pergulatan batin seseorang yang hidup jauh dari asal-usulnya.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kehidupan perantauan dan kerinduan terhadap tanah kelahiran. Puisi ini menyoroti pengalaman seseorang yang meninggalkan rumah untuk menjalani kehidupan di tempat lain, namun tetap membawa kenangan dan ikatan emosional dengan keluarga serta kampung halaman.
Puisi ini bercerita tentang seorang perantau yang mengenang kampung halaman serta orang-orang yang ia tinggalkan. Garam yang dikirim dari rumah tidak pernah sampai, menjadi simbol komunikasi yang terputus atau jarak yang begitu jauh.
Dalam perjalanan hidupnya, penyair digambarkan seperti seorang pelaut yang menyiapkan jala dan perahu untuk berlayar. Ia juga mengingat sosok-sosok penting dalam hidupnya, seperti ibu dengan tangan yang telah keriput serta kenangan tentang seseorang yang mendayung perahu.
Akhirnya, penyair menancapkan jangkar di kedalaman batinnya sebagai bentuk tekad untuk suatu hari menyeberangi kembali lautan kehidupan dan kembali ke tanah kelahirannya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa kehidupan di rantau sering kali disertai dengan pergulatan batin, kerinduan, dan rasa tanggung jawab terhadap masa lalu.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa perjalanan hidup manusia tidak hanya berkaitan dengan pencarian keberhasilan, tetapi juga dengan upaya menebus kesalahan atau janji yang belum terpenuhi kepada keluarga dan kampung halaman.
Simbol jangkar yang dipancang di dalam batin menunjukkan tekad untuk tetap memiliki pegangan dalam menjalani perjalanan hidup yang panjang.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, reflektif, dan penuh kerinduan. Gambaran tentang laut, perjalanan, dan ingatan terhadap keluarga menciptakan nuansa yang emosional dan mendalam. Pembaca dapat merasakan kesunyian serta pergulatan batin yang dialami oleh seorang perantau.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipahami dari puisi ini adalah bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, ikatan dengan keluarga dan tanah kelahiran tidak pernah benar-benar terputus.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa perjalanan hidup hendaknya dijalani dengan kesadaran untuk kembali menghargai asal-usul serta orang-orang yang telah memberikan dasar kehidupan.
Puisi “Rantau” karya Mahwi Air Tawar menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan seorang perantau. Melalui simbol laut, pelayaran, dan kenangan keluarga, puisi ini menggambarkan perjalanan manusia yang dipenuhi kerinduan, harapan, dan tanggung jawab terhadap masa lalu.
Puisi ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang pergi jauh untuk mencari kehidupan yang lebih baik, ingatan tentang keluarga dan tanah kelahiran akan selalu menjadi bagian penting yang menuntun arah perjalanan hidupnya.
Karya: Mahwi Air Tawar
Biodata Mahwi Air Tawar:
- Mahwi Air Tawar lahir pada tanggal 28 Oktober 1983 di Pesisir Sumenep, Madura.