Puisi: Ratap Biola (Karya Sitor Situmorang)

Puisi “Ratap Biola” karya Sitor Situmorang bercerita tentang seseorang yang mendengar ratap biola pada senja hari. Bunyi biola itu seakan menjadi ...
Ratap Biola

Pada getaran sinar senja
Lenyap dalam cahaya penghabisan
Kudengar ratap biola
Suara kekasih dari jauh
Bisik tersumbat dalam sedu
Ingin kata-kata bercumbu

Biola meratap........
Hati musafir mengendap
Pada senja malam gelap

31 Oktober 1948

Sumber: Majalah Siasat (No. 87, Th. II)

Analisis Puisi:

Puisi “Ratap Biola” karya Sitor Situmorang adalah puisi liris yang singkat tetapi sarat nuansa emosional. Dengan latar senja dan bunyi biola, Sitor menghadirkan kesedihan yang lembut sekaligus mendalam. Seperti banyak karya Sitor, puisi ini memadukan suasana alam dengan pengalaman batin yang intim.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan kesedihan dalam perpisahan. Biola menjadi simbol suara hati yang meratap, sementara senja melambangkan peralihan—akhir dari terang menuju gelap, atau akhir dari kebersamaan menuju keterpisahan.

Tema lain yang tampak adalah kesunyian seorang musafir, sosok yang berjalan dalam kehidupan dengan membawa luka batin.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mendengar ratap biola pada senja hari. Bunyi biola itu seakan menjadi suara kekasih dari kejauhan—suara yang tersumbat dalam sedu dan tak sepenuhnya terucap.

Ada kerinduan yang tak tersampaikan secara langsung. Kata-kata ingin “bercumbu,” tetapi terhambat oleh kesedihan. Di bagian akhir, biola terus meratap, sementara hati musafir mengendap dalam gelapnya malam.

Puisi ini menghadirkan perjalanan batin yang bergerak dari cahaya senja menuju malam gelap—simbol perjalanan dari harapan menuju kesunyian.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesedihan dan rindu sering kali tidak dapat diucapkan secara langsung. Ia hadir dalam bentuk lain—dalam musik, dalam getaran senja, dalam suasana.

“Ratap biola” dapat dimaknai sebagai simbol ekspresi batin yang paling jujur. Musik menjadi medium yang melampaui kata-kata. Ketika “ingin kata-kata bercumbu,” tetapi tak mampu terucap, bunyi biolalah yang berbicara.

Hati musafir yang “mengendap” menyiratkan perasaan yang dipendam. Musafir juga bisa dimaknai sebagai manusia yang menjalani hidup dalam perjalanan panjang, membawa luka dan rindu yang tak selalu terungkap.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini melankolis, sendu, dan hening. Senja menghadirkan nuansa peralihan yang lembut tetapi penuh kesedihan. Ketika malam datang, suasana menjadi lebih sunyi dan gelap. Nada puisi terasa seperti alunan biola itu sendiri—lirih, panjang, dan menyentuh.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa tidak semua perasaan harus diucapkan dengan kata-kata. Ada saat ketika kesedihan dan cinta lebih jujur terungkap melalui keheningan atau seni.

Puisi ini juga mengajak pembaca menerima kesedihan sebagai bagian dari perjalanan hidup. Seperti senja yang pasti menuju malam, perasaan kehilangan adalah bagian dari siklus kehidupan.

Puisi “Ratap Biola” karya Sitor Situmorang adalah ungkapan liris tentang kerinduan dan kesedihan yang mengalun seperti musik. Puisi ini menghadirkan suasana melankolis yang hening dan menyentuh.

Puisi Sitor Situmorang
Puisi: Ratap Biola
Karya: Sitor Situmorang

Biodata Sitor Situmorang:
  • Sitor Situmorang lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara.
  • Sitor Situmorang meninggal dunia pada tanggal 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda.
  • Sitor Situmorang adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45; yang juga menggeluti profesi sebagai wartawan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.