Sebelum Adam Turun ke Bumi
Ini Bumi,
Menampung sunyi yang sungguh
Pohon pandan, pohon kenari
Membiarkan melati mekar sendiri
Ini memang sehampas bumi
Tak ada jejak orang
Tak ada jejak anjing
Kerikil-kerikil kecil
Hanya diam tak mampu mengigil
Ini benar-benar bumi yang sepi
Konon di sana banyak binatang
Tapi di sana
Tak jelas di mana
Bukan di sini
Ini benar-benar bumi yang sepi
Menunggu kehadiran,
Lama sekali
Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari (2017)
Analisis Puisi:
Puisi “Sebelum Adam Turun ke Bumi” menghadirkan gambaran bumi dalam keadaan sunyi, hening, dan belum tersentuh kehadiran manusia. Dengan bahasa sederhana namun kuat secara atmosfer, D. Zawawi Imron membangun ruang purba—sebuah dunia yang ada, tetapi belum bermakna secara insani.
Puisi ini tidak panjang, tetapi menyimpan refleksi teologis dan eksistensial tentang manusia sebagai penghuni sekaligus pemberi makna bagi bumi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesunyian bumi sebelum kehadiran manusia dan makna eksistensi manusia di dunia. Selain itu, terdapat pula tema:
- Penciptaan dan awal kehidupan.
- Penantian kosmis.
- Relasi manusia dan alam.
- Kesendirian dan kehampaan.
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang keadaan bumi sebelum Nabi Adam diturunkan. Bumi digambarkan sebagai tempat yang:
- Menampung sunyi yang sungguh.
- Tidak memiliki jejak manusia maupun hewan.
- Penuh dengan pohon dan kerikil yang diam.
Walaupun disebutkan “Konon di sana banyak binatang”, lokasi itu tidak jelas dan ditegaskan “Bukan di sini”. Artinya, ruang yang digambarkan benar-benar kosong dari kehidupan sosial.
Pada bagian akhir, puisi menyatakan:
“Ini benar-benar bumi yang sepiMenunggu kehadiran,Lama sekali”
Bumi dipersonifikasikan seolah-olah sedang menanti sesuatu—yakni kehadiran manusia.
Makna Tersirat
Puisi ini cukup mendalam.
- Manusia adalah makhluk yang memberi makna pada bumi. Tanpa manusia, bumi hanyalah ruang sunyi.
- Kesunyian bukan hanya kondisi fisik, tetapi keadaan eksistensial.
- Kehadiran Adam melambangkan awal sejarah, budaya, dan peradaban.
- Puisi ini juga bisa dimaknai sebagai refleksi tentang hakikat manusia: apakah kita benar-benar mengisi bumi dengan makna, atau justru merusaknya?
Bumi yang “menunggu kehadiran” menunjukkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai khalifah—pengelola dan penjaga bumi.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa:
- Hening.
- Sunyi.
- Kosong.
- Kontemplatif.
- Sedikit mistis.
Pengulangan frasa “Ini benar-benar bumi yang sepi” mempertegas kesan kehampaan. Suasana ini membuat pembaca merasakan ruang luas tanpa suara, tanpa gerak, tanpa jejak kehidupan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini antara lain:
- Manusia memiliki peran penting dalam memberi makna pada dunia.
- Kehadiran manusia bukan sekadar fisik, tetapi membawa tanggung jawab moral.
- Kesunyian dapat menjadi ruang refleksi tentang asal-usul dan tujuan hidup.
- Jangan sia-siakan amanah sebagai penghuni bumi.
Puisi ini secara halus mengingatkan bahwa bumi yang dahulu sunyi kini telah dihuni manusia—pertanyaannya, apakah manusia mengisi bumi dengan kebaikan atau sebaliknya?
Puisi “Sebelum Adam Turun ke Bumi” karya D. Zawawi Imron adalah refleksi puitis tentang sunyi kosmis sebelum manusia hadir. Dengan bahasa sederhana namun penuh makna, penyair mengajak pembaca merenungkan posisi manusia dalam sejarah penciptaan.
Bumi yang dahulu sepi kini telah dipenuhi jejak manusia. Pertanyaannya, apakah kehadiran kita menjawab penantian itu dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab?

Puisi: Sebelum Adam Turun ke Bumi
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.