Puisi: Sebentar Lagi Menyapa Senja (Karya Kang Thohir)

Puisi “Sebentar Lagi Menyapa Senja” karya Kang Thohir merupakan puisi yang sarat kritik sosial dan kegelisahan zaman. Dengan diksi simbolik dan ...

Sebentar Lagi Menyapa Senja


Sebentar lagi menyapa senja
Aku masih melambai angan
Belum ada yang tersampaikan
Di ujung tanduk peristiwa

Negeri hijau bersulap hitam
Bercak darah masih membekas di pakaian
Pertiwi berubah menjadi suram, kelam
Hanya sepercik harapan

Arunika enggan menyapa
Tertutup kabut payoda
Tercium bau patrikor
Tangis, sedih, merana diurus oleh koruptor

Senja di ujung tanduk
Aku takkan merunduk
Hanya sekadar duduk-duduk
Aku bukanlah rakyat pemabuk

Brebes, 1 Maret 2026

Analisis Puisi:

Puisi “Sebentar Lagi Menyapa Senja” karya Kang Thohir merupakan puisi yang sarat kritik sosial dan kegelisahan zaman. Dengan diksi simbolik dan nuansa metaforis, puisi ini memadukan gambaran alam—senja, arunika, kabut, petrikor—dengan realitas sosial-politik yang suram. Hasilnya adalah puisi reflektif yang sekaligus bernada perlawanan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kondisi bangsa yang dilanda krisis moral dan korupsi, disertai semangat perlawanan dan harapan.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kesadaran individu di tengah situasi sosial yang genting.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di ambang perubahan zaman—“sebentar lagi menyapa senja”—yang dapat dimaknai sebagai simbol fase akhir, kemunduran, atau masa genting.

Negeri yang dulu “hijau” kini “bersulap hitam”. Ada “bercak darah” dan suasana kelam. Pertiwi yang seharusnya menjadi tanah harapan berubah suram. Bahkan “tangis, sedih, merana diurus oleh koruptor”, sebuah sindiran tajam terhadap para pemegang kekuasaan yang justru memperparah penderitaan rakyat.

Namun di tengah situasi itu, penyair menegaskan sikap:

“Aku takkan merunduk”
“Aku bukanlah rakyat pemabuk”

Artinya, ia menolak pasrah dan memilih tetap sadar serta tegak.

Makna Tersirat

Puisi ini cukup kuat dan politis:
  • Senja sebagai simbol kemunduran atau krisis bangsa. Senja tidak hanya berarti waktu sore, tetapi fase menuju gelap.
  • Negeri hijau bersulap hitam melambangkan perubahan dari harapan menuju kehancuran moral.
  • Koruptor sebagai pengelola tangis rakyat menyiratkan ironi: mereka yang seharusnya menyejahterakan justru memperpanjang penderitaan.
  • Penolakan untuk merunduk adalah simbol kesadaran dan perlawanan.
Puisi ini menyuarakan bahwa meskipun situasi memburuk, masih ada individu yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bergerak dari:
  • Gelisah dan muram pada bagian awal dan tengah (negara yang suram, darah membekas).
  • Berubah menjadi tegas dan penuh perlawanan pada bagian akhir.
  • Perubahan suasana ini mencerminkan transisi dari keputusasaan menuju keteguhan sikap.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat ditarik dari puisi ini:
  • Jangan diam ketika negeri berada dalam kondisi kelam.
  • Kesadaran dan keberanian adalah bentuk perlawanan.
  • Rakyat tidak boleh apatis atau “merunduk” terhadap ketidakadilan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk tetap berpikir kritis dan tidak kehilangan harapan, meski hanya “sepercik”.

Puisi “Sebentar Lagi Menyapa Senja” karya Kang Thohir bukan sekadar puisi alam atau renungan waktu senja. Ini adalah suara kritik sosial yang dikemas dalam simbol-simbol puitik. Dengan bahasa yang lugas namun penuh metafora, penyair menyampaikan kegelisahan terhadap kondisi bangsa sekaligus menegaskan sikap: tidak merunduk, tidak apatis, dan tetap sadar di tengah kegelapan yang mengintai.

Kang Thohir
Puisi: Sebentar Lagi Menyapa Senja
Karya: Kang Thohir

Biodata Kang Thohir:

Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Kehidupan sehari-harinya bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang-sawahnya.

© Sepenuhnya. All rights reserved.