Puisi: Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar (Karya Syafrial Arifin)

Puisi "Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar" karya Syafrial Arifin bercerita tentang seseorang yang menulis “surat terbuka” karena merasakan ...
Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar

Dari sebuah teratak:

Seorang kekasih menelantarkan pacarnya
jadi sepi
Seorang anak melupakan ibunya jadi
jadi sepi
Seorang kakak melalaikan adiknya
jadi sepi
Seorang pemuda membohongi dirinya
jadi sepi
Seorang sahabat membatalkan janjinya
jadi sepi

Kepada yang merasa kenal sebagai sahabat, atau sebagai anak pungut,
atau sebagai saudara angkat, atau sebagai pacar barunya
Atau juga yang merasa dirinya sebagai tersebut di atas:

        Harap segera berihwal
        agar semua tidak merasa sepi

                (nama dan alamat penulis surat
                ada sama redaksi)

1975

Sumber: Penyair Muda di Depan Forum (1976)

Analisis Puisi:

Puisi "Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar" karya Syafrial Arifin adalah salah satu karya yang dengan lugas dan menyentuh menggambarkan kondisi batin manusia urban dan relasi sosial yang renggang. Dengan format yang menyerupai surat pembaca, puisi ini menyampaikan keresahan yang terasa akrab dan nyata bagi banyak orang: kesepian yang timbul dari pengkhianatan atau pengabaian dalam hubungan-hubungan paling mendasar dalam hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian yang muncul akibat pengkhianatan atau kelalaian dalam hubungan antarmanusia. Penyair mengeksplorasi bagaimana ketika satu individu tidak menjalankan perannya dalam relasi—baik sebagai kekasih, anak, saudara, sahabat, maupun diri sendiri—maka dampaknya bukan hanya pada orang lain, tetapi juga pada iklim batin yang sunyi dan kosong.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menulis “surat terbuka” karena merasakan kesepian akibat ditinggalkan atau diabaikan oleh orang-orang terdekat. Tiap bait mencerminkan satu relasi sosial yang rusak: pacar yang meninggalkan, anak yang lupa ibu, kakak yang tidak peduli adik, sahabat yang tidak menepati janji, bahkan diri sendiri yang tidak jujur pada dirinya. Kesemua tindakan itu berujung pada satu konsekuensi yang sama: jadi sepi. Puisi ini mencerminkan keresahan kolektif, yang dituliskan secara personal namun berdampak sosial.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa kesepian bukanlah sekadar kondisi pribadi, tetapi merupakan hasil dari keretakan relasi dan kelalaian emosional antarindividu. Di balik pernyataan lugas "jadi sepi", tersembunyi kritik sosial: bahwa masyarakat modern penuh dengan relasi yang rapuh, janji yang mudah diingkari, dan kedekatan semu. Bahkan hubungan yang semestinya menjadi sumber kehangatan—keluarga, sahabat, pasangan—justru bisa menjadi sumber luka dan keterasingan jika tidak dijaga dengan empati dan tanggung jawab.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini melankolis, getir, dan reflektif, meskipun disampaikan dengan nada yang formal dan struktural. Ada rasa perih yang ditulis dengan tenang, seperti seseorang yang sudah terlalu lama memendam kecewa dan memilih menyampaikannya lewat media publik sebagai jalan terakhir.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat dari puisi ini adalah bahwa relasi sosial membutuhkan komitmen, tanggung jawab, dan kepekaan. Mengabaikan orang-orang yang mencintai dan mempercayai kita akan melahirkan kesepian—bukan hanya bagi mereka, tapi juga untuk diri kita sendiri. Puisi ini mengajak pembacanya untuk berintrospeksi, mempertanyakan peran kita dalam relasi yang kita jalin, dan mendesak kita untuk “berihwal”, yaitu melakukan klarifikasi, rekonsiliasi, atau setidaknya menyadari dampak dari kelalaian kita terhadap orang lain.

Imaji

Puisi ini menggunakan imaji yang sederhana tapi sangat nyata, terutama karena mengangkat situasi yang akrab dalam kehidupan sehari-hari:
  • “Seorang anak melupakan ibunya” — membangkitkan gambaran pilu seorang ibu yang ditinggal.
  • “Seorang sahabat membatalkan janjinya” — menghadirkan visual seseorang yang menunggu dengan kecewa.
  • “Seorang pemuda membohongi dirinya” — mengajak pembaca masuk ke ruang batin seseorang yang kehilangan integritas diri.
Semua imaji itu berujung pada frasa “jadi sepi” yang berulang seperti mantra, memperkuat suasana emosional puisi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi: Pengulangan frasa “jadi sepi” pada akhir setiap bait memperkuat dampak emosional dan mempertegas bahwa semua bentuk kelalaian memiliki konsekuensi yang sama.
  • Paralelisme: Struktur bait-bait yang seragam, dimulai dengan “Seorang…” menciptakan ritme dan pola yang mempertegas sistematisnya kesepian ini—seolah menjadi epidemi sosial.
  • Ironi: Dalam bagian penutup, sang penulis menyampaikan imbauan dengan bahasa formal dan administratif seperti dalam surat kabar, padahal isinya sarat dengan luka batin. Ini menciptakan kontras emosional yang kuat.
Puisi "Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar" karya Syafrial Arifin adalah karya yang menyentuh secara emosional sekaligus tajam secara sosial. Ia menyampaikan bahwa kesepian bukan hanya akibat nasib, melainkan hasil dari keretakan dalam relasi manusia yang dibiarkan tanpa perbaikan. Lewat gaya yang sederhana, jujur, dan repetitif, puisi ini menyampaikan seruan lirih namun tegas: jika kita tidak menjaga hubungan, maka kesepian akan menjadi takdir kolektif kita semua.

Syafrial Arifin
Puisi: Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar
Karya: Syafrial Arifin

Biodata Syafrial Arifin:
  • Nama lengkapnya adalah Marah Syafrial Arifin.
  • Syafrial Arifin lahir pada tanggal 31 Agustus 1949 di Bukittinggi, Sumatra Barat.
  • Syafrial Arifin lulus SMOA (Sekolah Menengah Olahraga Atas) Negeri Padang pada tahun 1970.
  • Syafrial Arifin meninggal dunia pada tanggal 14 Januari 2016.
© Sepenuhnya. All rights reserved.