Analisis Puisi:
Puisi “Selat Kamal, Mengupas Nostalgia” karya Ahmad Nurullah merupakan puisi yang memadukan kenangan personal, sejarah lokal, serta kritik sosial dalam satu lanskap geografis yang konkret: Selat Kamal. Melalui perjalanan menyeberang, penyair bukan hanya mengisahkan perpindahan ruang, tetapi juga perpindahan waktu—dari masa bocah hingga kedewasaan, dari romantisme pulau hingga kenyataan pembangunan.
Puisi ini kaya akan refleksi, ironi, dan pergulatan batin antara masa lalu dan masa depan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah nostalgia dan perubahan zaman. Selain itu, terdapat tema tentang identitas kampung halaman, sejarah, migrasi, dan kritik terhadap pembangunan yang kehilangan nilai moral.
Selat Kamal menjadi simbol perlintasan—bukan hanya perlintasan fisik antara Madura dan Jawa, tetapi juga perlintasan batin antara kenangan dan realitas.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang kembali melayari Selat Kamal. Ia sadar bahwa tak mungkin berlayar di laut yang sama—waktu telah mengubah angin dan ombak, meski matahari masih sama seperti masa kecilnya.
Ia mengenang suasana penyeberangan: orang-orang berdesakan, kendaraan, pedagang telur dan nasi bungkus, suara feri yang meraung sebelum berangkat. Kenangan masa bocah muncul, termasuk imajinasi tentang pulau yang digambarkan seperti “buntut naga”.
Namun kini segalanya berubah setelah berdirinya Jembatan Suramadu. Penyair menyelipkan kritik tajam—jembatan yang “sempat rubuh” bukan oleh gempa, tetapi mungkin oleh “moral yang keropos”. Ini sindiran terhadap kualitas pembangunan dan integritas.
Puisi juga mengangkat sejarah dan legenda: Adirasa, Jokotole, Trunojoyo, serta kisah kelam kekuasaan. Selat Kamal menjadi saksi perjalanan sejarah panjang.
Di sisi lain, ada kisah para perantau, nelayan, pedagang, hingga calon TKW yang menyeberang membawa impian. Selat menjadi ruang harapan sekaligus pengorbanan.
Pada akhirnya, penyair bertanya kepada Ayah dan Ibu—sebuah pertanyaan eksistensial tentang keberangkatan dan perpisahan. Ia pergi menuju “negeri kata-kata”, dunia kepenyairan atau perantauan intelektual, dengan tekad untuk tidak menangis demi kemerdekaannya.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini bercampur antara nostalgik, reflektif, dan kritis. Ada rasa ngilu saat mengenang masa kecil. Ada getir ketika menyinggung sejarah dan moral yang keropos. Namun di akhir, muncul nada tegar—sebuah penerimaan dan keberanian untuk melangkah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Beberapa amanat yang dapat ditangkap:
- Waktu mengubah segalanya; kenangan hanya bisa dikenang, tidak diulang.
- Pembangunan tanpa moral hanya akan rapuh.
- Setiap tempat menyimpan sejarah dan identitas yang harus dihargai.
- Merantau adalah bagian dari perjuangan hidup, meski penuh risiko.
- Kemerdekaan pribadi sering menuntut keberanian meninggalkan kampung halaman.
Puisi “Selat Kamal, Mengupas Nostalgia” karya Ahmad Nurullah adalah refleksi mendalam tentang perubahan, identitas, dan keberanian meninggalkan masa lalu. Puisi ini menghadirkan Selat Kamal bukan sekadar perairan, melainkan ruang kenangan dan pergulatan hidup.
Karya: Ahmad Nurullah
Biodata Ahmad Nurullah:
- Ahmad Nurullah (penulis puisi, cerpen, esai, dan kritik sastra) lahir pada tanggal 10 November 1964 di Sumenep, Madura, Indonesia.
