Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Setelah Hari Keenam (Karya Ahmad Nurullah)

Puisi “Setelah Hari Keenam” karya Ahmad Nurullah bergerak dari ruang sakral menuju ruang historis dan personal, dari mitos penciptaan menuju ...
Setelah Hari Keenam

Jika bumi, langit, dan seisinya dicipta selama
enam hari, apa yang dilakukan Tuhan sejak jauh
sebelum hari pertama, dan jauh setelah
hari keenam? "Aku tak hendak mengatakan:
Tuhan adalah pengangguran," katamu.

Aku coba tersenyum. Pedih. Lalu tengadah -
Bulan malas merekah. Langit irit bintang.

Pada malam dingin di sebuah negeri berkabut
awal November tahun ini, entah:
telah berapa jauh waktu berlalu
Berapa jauh jaraknya dari hari keenam -
usai penciptaan.

Pada hari puncak itu, "Setelah segala air di bawah langit
berkumpul pada satu tempat", dan menjelma lautan,
dan Tuhan mengalungkan nama pada tanah kering itu
"darat", Ia melihat: "Semuanya itu baik". Baik.

Tapi, tak tahukah Ia: apa yang akan terjadi
sesudah itu, jauh setelah hari keenam?
Apa lagi yang akan terjadi, misalnya:
setelah Semanggi, Sambas, Aceh, atau Jimbaran?

Malam larut. Bumi redup. Langit memercikkan gerimis
Sebentar lagi mungkin hujan akan mengguyur
kota-kota. Detik ini, apa yang dilakukan Tuhan?

Aku tak tahu. Seperti aku tak tahu nasibku,
dan nasib anak-anakku - esok, di negeri ini
setelah semua tangisku berakhir, dan kapalku berangkat
dalam debu.

Jakarta, 2005

Sumber: Setelah Hari Keenam (2011)

Analisis Puisi:

Puisi “Setelah Hari Keenam” karya Ahmad Nurullah adalah puisi reflektif yang memadukan narasi teologis dengan realitas sosial. Penyair memulai dengan merujuk pada kisah penciptaan—enam hari penciptaan alam semesta—lalu menggugat dengan pertanyaan eksistensial: apa yang terjadi setelahnya? Puisi ini bergerak dari ruang sakral menuju ruang historis dan personal, dari mitos penciptaan menuju tragedi kemanusiaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertanyaan tentang peran Tuhan dalam sejarah manusia, terutama setelah berbagai tragedi dan penderitaan terjadi. Puisi ini menghadirkan tema teologis sekaligus sosial: hubungan antara kehendak Ilahi dan kenyataan pahit kehidupan.

Selain itu, terdapat pula tema kegelisahan eksistensial. Penyair mempertanyakan bukan hanya nasib dunia, tetapi juga nasib dirinya dan anak-anaknya di masa depan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan kisah penciptaan dalam enam hari sebagaimana dikenal dalam tradisi kitab suci. Ia mempertanyakan apa yang dilakukan Tuhan sebelum penciptaan dan, terutama, setelah penciptaan selesai.

Renungan tersebut kemudian beralih pada realitas sejarah dan tragedi kemanusiaan seperti Semanggi, Sambas, Aceh, dan Jimbaran—peristiwa-peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia. Pertanyaan yang muncul menjadi lebih tajam: jika Tuhan menyatakan ciptaan-Nya “baik”, bagaimana dengan penderitaan yang terjadi setelahnya?

Di bagian akhir, puisi bergerak ke ranah personal: kegelisahan tentang nasib diri dan anak-anak di masa depan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kegelisahan manusia terhadap keadilan Ilahi di tengah penderitaan dunia. Penyair tidak secara langsung menyalahkan Tuhan, tetapi menghadirkan pertanyaan-pertanyaan retoris yang sarat keraguan dan luka.

Frasa “Tuhan adalah pengangguran” ditolak oleh suara dalam puisi, tetapi justru menegaskan kegamangan batin. Pertanyaan “Detik ini, apa yang dilakukan Tuhan?” menyiratkan rasa jarak antara langit dan bumi—antara Yang Mahakuasa dan manusia yang menderita.

Rujukan pada tragedi sejarah memperlihatkan bahwa penciptaan yang “baik” itu telah tercemar oleh kekerasan, konflik, dan darah. Puisi ini menyiratkan pergulatan iman: antara percaya dan mempertanyakan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, dingin, dan penuh kegelisahan. Gambaran “Bulan malas merekah” dan “Langit irit bintang” menciptakan atmosfer sunyi dan redup. Malam, gerimis, dan kabut awal November semakin memperkuat nuansa sendu.

Di balik suasana itu, terdapat kepedihan yang terpendam. Kata “Aku coba tersenyum. Pedih.” menunjukkan bahwa senyum hanyalah lapisan tipis di atas luka batin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk merenungi kembali makna kebaikan, penciptaan, dan tanggung jawab manusia dalam sejarah. Puisi ini tidak memberikan jawaban, tetapi membuka ruang pertanyaan.

Ada kemungkinan bahwa penyair hendak menyiratkan bahwa penderitaan bukan semata persoalan Ilahi, melainkan juga akibat tindakan manusia sendiri. Dengan menyebut tragedi konkret, puisi ini seperti mengingatkan bahwa sejarah kelam adalah hasil pilihan dan perbuatan manusia.

Puisi “Setelah Hari Keenam” karya Ahmad Nurullah menghadirkan pergulatan iman yang jujur. Puisi ini bukanlah gugatan semata, melainkan cermin kegelisahan manusia yang terus bertanya tentang makna hidup, sejarah, dan harapan di masa depan.

Ahmad Nurullah
Puisi: Setelah Hari Keenam
Karya: Ahmad Nurullah

Biodata Ahmad Nurullah:
  • Ahmad Nurullah (penulis puisi, cerpen, esai, dan kritik sastra) lahir pada tanggal 10 November 1964 di Sumenep, Madura, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.