Puisi: Setindak-Setindak Lurus Jalan Bidak (Karya Ook Nugroho)

Puisi “Setindak-Setindak Lurus Jalan Bidak” karya Ook Nugroho bercerita tentang kekaguman seseorang terhadap bidak catur. Ia terpesona pada cara ...
Setindak-Setindak
Lurus Jalan Bidak

Aku suka pada bidak
Aku terpesona pada jalannya beringsut

Jalannya tak pernah terburu
Dari dulu sudah begitu
Setindak-setindak saja
Seakan ia mau bilang:
Saya ini pelan, tapi pasti

Ia memberi pemahaman
Paling kena soal ketabahan
Apa artinya merangsek maju
Dan hanya maju, sebab
Mundur adalah tabu

Lihatlah, sebuah bidak
Menyusur dan terus menyusur
Tak hirau ia pada persekongkolan
Busuk para perwira

Bidak itu serdadu tulen
Tiada muslihat, percayalah
Dalam lelangkahnya
Yang lurus-lurus saja

Aku terpesona pada bidak
Aku suka lelangkahnya lurus ke depan itu

Analisis Puisi:

Puisi “Setindak-Setindak Lurus Jalan Bidak” karya Ook Nugroho adalah refleksi simbolik tentang ketekunan, kesederhanaan, dan integritas. Dengan mengambil figur “bidak” dalam permainan catur, penyair menyampaikan pandangan filosofis tentang cara melangkah dalam kehidupan.

Puisi ini tampak sederhana, tetapi menyimpan perenungan mendalam tentang sikap hidup yang teguh dan konsisten.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketabahan dan konsistensi dalam menjalani kehidupan. Bidak menjadi simbol kesederhanaan yang teguh—tidak mencolok, tetapi memiliki daya juang.

Selain itu, terdapat tema tentang integritas dan kejujuran di tengah “persekongkolan busuk para perwira.” Puisi ini menyiratkan kritik terhadap kekuasaan yang manipulatif, dengan menempatkan bidak sebagai sosok yang lurus dan bersih.

Puisi ini bercerita tentang kekaguman seseorang terhadap bidak catur. Ia terpesona pada cara bidak berjalan—tidak tergesa, setindak-setindak, lurus ke depan.

Bidak digambarkan sebagai sosok yang pelan tetapi pasti. Ia tidak memiliki banyak pilihan langkah seperti perwira atau raja dalam catur. Namun justru dalam keterbatasannya, bidak memperlihatkan ketabahan dan konsistensi.

Penyair melihat bidak sebagai “serdadu tulen,” tanpa muslihat. Ia terus menyusur maju, tak peduli pada intrik para perwira.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kekuatan sejati tidak selalu terletak pada kekuasaan atau strategi rumit, melainkan pada ketekunan dan kelurusan hati.

Bidak dapat dimaknai sebagai rakyat biasa atau individu sederhana yang tidak memiliki kuasa besar, tetapi memiliki keteguhan prinsip. Sementara “persekongkolan busuk para perwira” bisa dibaca sebagai simbol elit atau kekuasaan yang penuh intrik.

Kalimat:

“Saya ini pelan, tapi pasti”

menyiratkan bahwa kemajuan tidak harus cepat atau spektakuler. Konsistensi lebih penting daripada ambisi yang terburu-buru.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini reflektif dan penuh kekaguman. Nada puisi tenang, tanpa kemarahan yang meledak, meski ada sindiran terhadap persekongkolan. Ada nuansa optimistis yang lahir dari keyakinan bahwa langkah kecil dan lurus memiliki makna besar.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk hidup dengan sabar, konsisten, dan lurus. Tidak perlu terlibat dalam muslihat atau intrik untuk mencapai tujuan. Puisi ini juga menegaskan bahwa kemajuan sejati dicapai melalui ketekunan langkah kecil yang berkesinambungan.

Puisi “Setindak-Setindak Lurus Jalan Bidak” karya Ook Nugroho adalah refleksi simbolik tentang ketabahan dan integritas. Puisi ini menghadirkan pelajaran hidup yang sederhana namun mendalam: pelan, lurus, dan pasti.

Ook Nugroho
Puisi: Setindak-Setindak Lurus Jalan Bidak
Karya: Ook Nugroho

Biodata Ook Nugroho:
  • Ook Nugroho lahir pada tanggal 7 April 1960 di Jakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.