Suatu Kehadiran
– Kepada Arthum Artha
Mula-mula kita masih cari yang belum jumpa
Sampai pada malam-malam larut memendam rasa mimpi
Sekali terwujud guratan-guratan di satu daerah
Yang jajarnya membatas samar-samar
Terkadang kita masih tanya diri sendiri
Terkadang kita masih luka diri sendiri
Bila menekuni segala isi dan merata alam
Karena hati ini masih menggapai ke daratan jauh
Di balik sebuah bukit terjumpa padang yang mendatar
Di sana berdiri sebuah tugu putih
Dibungai senyum perempuan alam dadanya terbuka
Dan dicintainya sebuah jiwa yang terbakar
Tibalah malam purnama dan terlahirlah perpaduan
Dalam kehidupan cipta alam di kesunyian puja
Tetapi suatu rindu masih memantul diri
Terkenang malam-malam larut, sebuah malam mati
Oh! Suatu pagi yang dipecah tifa dalam diri
Memendarlah satu jiwa bersama napas pengharapan
Lagu-lagu hidup baru baringi kicau murai-murai pagi
Dan di sini darah pantulan jiwa memberi sebuah dunia
Banjarmasin, 26 Juli 1956
Sumber: Malam Hujan (2012)
Analisis Puisi:
Puisi “Suatu Kehadiran” karya Hijaz Yamani menghadirkan perjalanan batin yang bergerak dari pencarian, keraguan, luka, hingga kelahiran harapan baru. Ditulis pada 26 Juli 1956 di Banjarmasin, puisi ini terasa reflektif sekaligus simbolik. Penyair menggunakan lanskap alam—bukit, padang, tugu putih, malam purnama, pagi, murai—sebagai ruang metaforis untuk menggambarkan pergulatan jiwa manusia.
Puisi ini bukan sekadar kisah pertemuan, tetapi perjalanan menuju makna kehadiran itu sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian dan kelahiran kesadaran atau cinta yang baru. Ada proses panjang yang harus dilalui: dari “mencari yang belum jumpa”, luka batin, kerinduan, hingga akhirnya tercipta “perpaduan” dan “jiwa bersama napas pengharapan”.
Tema lain yang kuat adalah transformasi batin. Puisi ini menggambarkan perubahan dari kegelisahan menuju pencerahan, dari malam menuju pagi.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan “kita” yang pada awalnya masih mencari sesuatu yang belum ditemukan. Ada kegelisahan dan keraguan—bertanya pada diri sendiri, bahkan melukai diri sendiri dalam proses memahami kehidupan.
Perjalanan itu membawa mereka melewati bukit hingga menemukan padang mendatar dengan sebuah tugu putih yang dihiasi “senyum perempuan alam”. Gambaran ini seperti simbol pertemuan dengan cinta, kesucian, atau makna hidup.
Ketika malam purnama tiba, terjadilah “perpaduan” dalam kesunyian. Namun kerinduan tetap ada, seolah mengingatkan pada masa-masa gelap sebelumnya. Hingga akhirnya, pagi datang—dipecah oleh “tifa dalam diri”—dan lahirlah harapan serta kehidupan baru.
Makna Tersirat
Puisi ini berkaitan dengan proses spiritual atau emosional manusia dalam menemukan makna hidup dan cinta. “Tugu putih” dapat dimaknai sebagai simbol kesucian atau tujuan hidup. “Perempuan alam dadanya terbuka” bisa melambangkan keterbukaan, kehangatan, atau penerimaan semesta terhadap jiwa yang mencari.
“Malam mati” menyiratkan fase keputusasaan atau kehampaan. Namun dari situ, lahir pagi dan harapan baru. Ini menunjukkan bahwa kehadiran yang sejati sering kali lahir dari proses panjang yang penuh luka dan rindu.
Puisi ini juga dapat dibaca sebagai alegori kelahiran kesadaran baru—baik dalam cinta, iman, maupun kreativitas.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini bergerak dinamis. Pada bagian awal, suasana terasa murung, penuh pencarian dan luka. Bagian tengah menghadirkan suasana khidmat dan sakral, terutama saat malam purnama dan perpaduan terjadi dalam “kesunyian puja”.
Di bagian akhir, suasana berubah menjadi cerah dan penuh semangat. Pagi, kicau murai, dan napas pengharapan menciptakan nuansa optimistis dan segar.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah bahwa setiap kehadiran yang bermakna—baik cinta, harapan, maupun kesadaran—memerlukan proses pencarian dan pergulatan batin. Luka dan kerinduan bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kelahiran baru.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa setelah malam yang gelap, selalu ada pagi yang membawa kehidupan baru. Harapan akan selalu menemukan jalannya.
Puisi “Suatu Kehadiran” karya Hijaz Yamani menunjukkan bahwa setiap kehadiran yang sejati lahir dari proses panjang. Pada akhirnya, kehadiran itu menjadi sumber kehidupan baru—sebuah dunia yang lahir dari pantulan jiwa dan napas pengharapan.
