Sungai
Sungai
dangkal
mengering
tanah rekah
ilalang menguning
telah sekian masa perahu ditambatkan
dayung menganggur
lumut garing
bau laut
menyengat
rindu sapa
gerak bakau dan kelapa
"aku datang dari ruang silam
dari sakit yang terpelihara bertahun lamanya
sekarang kutenggok, sungaiku
aku tak menemukanmu!"
menjelajah
rekahan tanah
rumah siput
kerang
jala
senar
umbria
semilir angin masih menyapa
telanjang kaki aku menutup janji
"aku mengaliri sungai dengan darahku
biarkan menggenang dan memberi hidup padamu."
Bocah-bocah berlarian
menjejak kaki di dasar kali
Jogja, 2006
Sumber: Imaji dari Batas Negeri (Isac Book, 2008)
Analisis Puisi:
Puisi “Sungai” karya Evi Idawati merupakan puisi yang sarat dengan simbol dan gambaran alam. Penyair menggunakan citraan tentang sungai yang dangkal dan mengering untuk menggambarkan perubahan, kehilangan, serta hubungan emosional manusia dengan alam dan masa lalu. Bahasa yang digunakan terasa fragmentaris, namun justru memperkuat kesan kerusakan dan kerinduan yang ingin disampaikan.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan terhadap alam yang berubah atau rusak. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini digambarkan mengering, dangkal, dan kehilangan fungsinya.
Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema hubungan manusia dengan lingkungan serta ingatan terhadap masa lalu yang hilang.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang kembali ke sungai yang pernah dikenalnya. Namun sungai tersebut telah berubah: airnya mengering, tanahnya rekah, ilalang menguning, dan perahu yang dahulu digunakan kini hanya ditambatkan tanpa aktivitas.
Penyair merasakan kehilangan ketika menyadari bahwa sungai yang dulu menjadi bagian penting dari kehidupannya kini hampir tidak dapat dikenali lagi. Ia bahkan berkata bahwa ia tidak menemukan sungainya.
Di bagian akhir puisi, terdapat pernyataan simbolik bahwa dirinya akan “mengaliri sungai dengan darahnya”. Ungkapan ini memperlihatkan tekad kuat untuk menghidupkan kembali sungai tersebut, atau setidaknya menjaga kenangan dan kehidupan yang pernah ada di sana.
Makna Tersirat
Beberapa makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Kerusakan lingkungan. Sungai yang dangkal dan mengering dapat dimaknai sebagai simbol rusaknya alam akibat waktu atau ulah manusia.
- Kerinduan pada masa lalu. Penyair datang dari “ruang silam”, menandakan adanya kenangan masa lalu yang masih tersimpan dan ingin dihidupkan kembali.
- Pengorbanan untuk kehidupan. Ungkapan “mengaliri sungai dengan darahku” melambangkan kesediaan berkorban demi menghidupkan kembali sesuatu yang telah hilang.
- Siklus kehidupan yang terus berjalan. Kehadiran bocah-bocah yang berlarian di dasar kali menunjukkan bahwa kehidupan tetap berlangsung meskipun alam mengalami perubahan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung melankolis dan reflektif. Pada awal puisi, pembaca merasakan kesunyian dan kekeringan alam. Namun menjelang akhir puisi muncul nuansa harapan melalui tekad penyair untuk menghidupkan kembali sungai tersebut.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menjaga hubungan dengan alam serta menghargai lingkungan yang menjadi sumber kehidupan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa perubahan alam dapat membawa rasa kehilangan yang mendalam bagi manusia.
Puisi “Sungai” karya Evi Idawati memperlihatkan bagaimana perubahan alam dapat menjadi cermin perubahan kehidupan manusia. Melalui gambaran sungai yang mengering, penyair menghadirkan perasaan kehilangan, kerinduan, sekaligus harapan.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga tentang ingatan, pengorbanan, dan keinginan manusia untuk menghidupkan kembali sesuatu yang pernah memberi makna dalam hidupnya.
Karya: Evi Idawati
Biodata Evi Idawati:
- Evi Idawati lahir pada tanggal 9 Desember 1973 di Demak, Jawa Tengah, Indonesia.