Puisi: Sungai yang Lain (Karya Abrar Yusra)

Puisi "Sungai yang Lain" karya Abrar Yusra merupakan karya yang sarat dengan semangat
Sungai yang Lain

        Kualirkan sungai ini ke malam khayal
dalam hujan badai yang menghalau dan membenamkan
dunia yang sedang ambrol

        Kubuka sungai ini
dan hanyutlah!

Sungai ini sungai yang lain di bawah
bulan yang lain malam yang lain. Sebuah sungai yang menyindir
dan menerkam segala sungai.

        Sungai-sungai palsu yang bermuara ke laut kematian!

        Sungai ini ke laut langit yang lain
laut langit lebar laut langit hatimu yang mengembang
laut langit lebar laut langit hati kita yang mengembang:

        Kutelanjangi kau maka kautelan
segala kemarahan dan kemarau, kautelan kehangatan matahari
dan kegelapan maut yang membuat abad 20 hanya duka
        Kautelan aku!
        Kautelan aku yang terikat pada pohon penderitaan
        zaman penderitaan
        dan matahari penderitaan!

        Kautelan aku habis-habis, telanlah aku habis-habis
sampai tinggal bangkai, hanyutkan, kita hanyutkan
bersama segala bangkai segala sampah segala sepah!

        Kubuka sungai ini, sungai besar yang menghanyutkan
segala kepalsuan, persetan!
        Persetan segala akal yang menjirat
        Segala rumus yang sesat
        Rumus politik yang menyikat
        Rumus ekonomi yang membuatku jadi gelandangan
        Rumus kemanusiaan yang membuatku ingin membunuh orang
        Ilmu agama yang menuhankan benda-benda

        Kubuka sungai besar ini sungai panjang ini
Sungai tetap menuju mimpi-mimpi abadi, mimpi-mimpi sungai
mengalir pasti, mengalir, tak henti-henti......!

Jakarta, 18 April 1987

Sumber: Horison (Juli, 1989)

Analisis Puisi:

Puisi "Sungai yang Lain" karya Abrar Yusra merupakan karya yang sarat dengan semangat pemberontakan, kritik sosial, dan pencarian spiritual. Sungai dijadikan metafora sentral yang mewakili arus perubahan, kesadaran, dan pembersihan dari kepalsuan zaman.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perlawanan terhadap kepalsuan sistem sosial, politik, ekonomi, dan bahkan agama yang menyimpang dari nilai kemanusiaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema pembebasan diri dan pencarian jalan baru menuju makna hidup yang lebih autentik. “Sungai yang lain” menjadi simbol alternatif terhadap arus kehidupan yang dianggap sesat.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang “membuka” sungai—sebuah arus kesadaran baru—di tengah dunia yang ambrol dan badai yang membenamkan realitas.

Sungai ini bukan sungai biasa. Ia adalah “sungai yang lain”, yang menyindir dan menerkam sungai-sungai palsu—yakni arus kehidupan yang bermuara pada “laut kematian”. Sungai tersebut diarahkan ke “laut langit hati kita yang mengembang”, simbol keluasan batin dan kebebasan spiritual.

Dalam arus sungai ini, segala kemarahan, penderitaan, dan kepalsuan hendak ditelan dan dihanyutkan. Penyair menyebut berbagai “rumus” yang menjebak manusia: rumus politik, ekonomi, kemanusiaan, bahkan agama yang materialistis. Semua itu hendak dibersihkan oleh sungai besar yang mengalir menuju “mimpi-mimpi abadi”.

Makna Tersirat

Puisi ini adalah kritik tajam terhadap sistem modern yang kehilangan nilai kemanusiaan. “Sungai-sungai palsu” melambangkan arus pemikiran dan ideologi yang menyesatkan, yang membawa manusia pada kehancuran moral dan eksistensial.

“Laut langit hati” menyiratkan dimensi spiritual yang lebih tinggi—ruang batin yang luas, bebas dari kepalsuan dan manipulasi.

Ajakan untuk menghanyutkan “segala bangkai, segala sampah” mengandung makna purifikasi: keinginan untuk membersihkan diri dan dunia dari kerusakan struktural maupun batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini penuh gejolak, intens, dan revolusioner. Ada kemarahan, frustrasi, sekaligus semangat pembebasan. Nada puisi bersifat deklaratif dan konfrontatif, terutama ketika penyair menyebut berbagai “rumus” yang dianggap menyesatkan.

Namun di balik kemarahan itu, terdapat harapan akan arus baru yang lebih murni dan abadi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk berani keluar dari arus kepalsuan dan menciptakan jalan baru yang lebih jujur dan manusiawi. Penyair mengingatkan bahwa sistem yang tidak berpihak pada kemanusiaan harus dikritik dan ditinggalkan. Puisi ini juga menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran batin—dari “laut langit hati” yang mengembang.

Puisi "Sungai yang Lain" adalah puisi yang menggambarkan arus perlawanan terhadap dunia yang dianggap rusak oleh rumus-rumus palsu. Abrar Yusra menghadirkan sungai sebagai metafora pembebasan dan pembersihan.

Dengan bahasa yang eksplosif dan simbolik, puisi ini mengajak pembaca untuk menolak kepalsuan, menghanyutkan penderitaan, dan mengalir menuju mimpi-mimpi abadi yang lebih autentik dan bermakna.

Abrar Yusra
Puisi: Sungai yang Lain
Karya: Abrar Yusra

Biodata Abrar Yusra:
  • Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
  • Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.