Syakban
Suaramukah yang terus berdengungDari pekarangan remangRuncing ayatmu memahat napaskuPada dinding retak kamarku? Masuklah,
Masuklah ke dalam rumah rindukuBiarlah aku menandai tapak jejakmuDan napasku menjadi bulir-bulir doaPaling sederhana atas setiap kehilanganYang tak pernah kita rencanakan
Bayanganmukah yang terusMemburuku hingga undakan rumahKilasan wajahmu tak pernah bisa kuterka?
Masuklah,
Masuklah lewat retak rusuk kirikuBiarkan remang cahaya kamarMengantar wujudmu ke liang ingatankuMengiring kelana sukmakuMeniti napas malamHingga fajar jadi tanda;Perjumpaan juga keterasinganMenjadi titik-titik embunTerpahat di kaca jendela
Suaramukah yang terus berdengung
Dari pekarangan remang
Runcing ayatmu memahat napasku
Pada dinding retak kamarku? Masuklah,
Masuklah ke dalam rumah rinduku
Biarlah aku menandai tapak jejakmu
Dan napasku menjadi bulir-bulir doa
Paling sederhana atas setiap kehilangan
Yang tak pernah kita rencanakan
Bayanganmukah yang terus
Memburuku hingga undakan rumah
Kilasan wajahmu tak pernah bisa kuterka?
Masuklah,
Masuklah lewat retak rusuk kiriku
Biarkan remang cahaya kamar
Mengantar wujudmu ke liang ingatanku
Mengiring kelana sukmaku
Meniti napas malam
Hingga fajar jadi tanda;
Perjumpaan juga keterasingan
Menjadi titik-titik embun
Terpahat di kaca jendela
Sumber: Tanéyan (PT Komodo Books, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Syakban” karya Mahwi Air Tawar menghadirkan nuansa spiritual yang lembut sekaligus reflektif. Judulnya merujuk pada bulan Sya’ban dalam tradisi Islam—sebuah masa yang sering dipahami sebagai waktu persiapan batin menjelang Ramadan. Melalui bahasa yang lirih dan simbolik, penyair membangun ruang batin yang dipenuhi kerinduan, doa, dan perenungan tentang kehilangan serta perjumpaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan spiritual dan pencarian makna batin. Kerinduan tersebut bisa dimaknai sebagai kerinduan kepada sosok yang dicintai, kepada kenangan masa lalu, atau bahkan kepada Tuhan.
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasakan kehadiran samar—entah itu kekasih, kenangan, atau sosok spiritual—yang seolah datang dari ruang sunyi.
Penyair mendengar suara yang “berdengung dari pekarangan remang”, melihat bayangan yang memburunya hingga ke undakan rumah, dan merasakan kehadiran itu masuk ke dalam ruang batinnya. Ia bahkan mengundang sosok tersebut masuk ke “rumah rindu”, sebuah metafora untuk hati yang dipenuhi kenangan.
Perjumpaan itu tidak sepenuhnya nyata. Ia terjadi di antara kenangan, doa, dan kesunyian malam hingga akhirnya fajar tiba sebagai penanda perjalanan batin tersebut.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan proses menerima kehilangan melalui refleksi spiritual. Ketika penyair menulis “napasku menjadi bulir-bulir doa paling sederhana atas setiap kehilangan”, terdapat pesan bahwa kehilangan bukan hanya penderitaan, tetapi juga kesempatan untuk mendekatkan diri kepada makna yang lebih dalam.
Puisi ini menunjukkan bahwa kesunyian dan kerinduan dapat menjadi ruang pertemuan antara manusia dengan kenangan, dengan dirinya sendiri, atau dengan dimensi spiritual.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa:
- Hening dan kontemplatif.
- Penuh kerinduan.
- Sedikit melankolis namun tetap hangat.
Nuansa malam, remang cahaya kamar, dan embun di kaca jendela memperkuat kesan sunyi yang reflektif.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menerima kehilangan dengan ketenangan dan doa.
Puisi ini mengingatkan bahwa:
- Kerinduan adalah bagian dari perjalanan batin manusia
- Kenangan tidak selalu harus dihapus, tetapi bisa diterima sebagai bagian dari hidup
- Kesunyian dapat menjadi ruang untuk mendekat pada makna spiritual
Dengan demikian, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat kehilangan bukan hanya sebagai luka, tetapi juga sebagai jalan menuju kedewasaan batin.
Puisi “Syakban” karya Mahwi Air Tawar merupakan puisi reflektif yang memadukan kerinduan, doa, dan kenangan dalam suasana sunyi yang puitis. Penyair menghadirkan perjalanan batin seseorang yang mencoba memahami kehilangan dan menerima kehadiran kenangan sebagai bagian dari kehidupan.
Kesunyian malam, remang cahaya kamar, dan embun di jendela menjadi simbol bahwa di dalam kesendirian manusia sering menemukan makna yang paling jujur tentang rindu, doa, dan dirinya sendiri.
Karya: Mahwi Air Tawar
Biodata Mahwi Air Tawar:
- Mahwi Air Tawar lahir pada tanggal 28 Oktober 1983 di Pesisir Sumenep, Madura.