Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Taman (Karya Hijaz Yamani)

Puisi “Taman” karya Hijaz Yamani bercerita tentang pengembara dan “pemain-pemain yang letih” yang singgah di sebuah taman. Mereka datang tanpa ...
Taman

                Pengembara yang singgah dan pemain-pemain yang letih
datang tanpa salam, tanpa permusuhan, tapi juga tanpa
persahabatan dalam percakapan.
                Tidak tuan-tuan yakinkah akan kebenaran (kenangan yang
nyaman) dalam taman impian ini? kata suara.
                Seorang kakek sendiri yang sedih, mengapa bahagia tidak
sendiri juga, sedang anak-anak dan perempuan-perempuan
muda dilarang memetik bunga. Tapi petik kuncup-kuncup
kenangan, kata suara.
                Kakek, pernahkah muda? kata suara
                Tapi kau pun dulu pernah jadi anak-anak yang sudah tidak
musim kakek tua, kata suara-suara bersama.
                Tapi musim-musim kamu begitu mudah memetik bunga,
jawab kakek tua.
                Dan bunga-bunga pun selalu ada yang gugur sendiri
sepanjang zaman.
                Dan taman tetap mengharap bunga dan cahaya.
                Dan taman di pertemuan rahim bumi dan rasa kasih langit.
                Dan taman punya pengembara, pemain-pemain yang letih,
kakek, anak-anak dan perempuan-perempuan muda.
                Dan suara-suara.

1982

Sumber: Malam Hujan (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Taman” karya Hijaz Yamani merupakan puisi reflektif yang sarat dialog batin dan simbol-simbol kehidupan. Dengan latar sebuah “taman”, penyair menghadirkan percakapan antara generasi—kakek, anak-anak, perempuan muda, serta “suara-suara” yang tak kasatmata. Puisi ini tidak hanya menggambarkan ruang fisik, tetapi juga ruang waktu, kenangan, dan siklus kehidupan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah siklus kehidupan dan pertemuan antar generasi dalam ruang kenangan dan harapan. Taman menjadi simbol kehidupan yang terus berulang—tempat datang dan pergi, tempat muda dan tua saling berhadapan.

Selain itu, puisi ini juga memuat tema tentang kenangan, kehilangan masa muda, serta kerinduan pada kebahagiaan yang tak lagi utuh.

Puisi ini bercerita tentang pengembara dan “pemain-pemain yang letih” yang singgah di sebuah taman. Mereka datang tanpa permusuhan, tetapi juga tanpa keakraban. Di tengah suasana itu, muncul suara-suara yang mempertanyakan keyakinan akan “kenangan yang nyaman” dalam taman impian.

Ada sosok kakek tua yang sedih. Ia mempertanyakan mengapa kebahagiaan tidak datang sendirian. Anak-anak dan perempuan muda dilarang memetik bunga, tetapi mereka diminta “memetik kuncup-kuncup kenangan”.

Dialog berkembang: suara bertanya pada kakek apakah ia pernah muda. Suara lain mengingatkan bahwa kakek dahulu juga anak-anak. Kakek menjawab bahwa musim mereka dulu mudah memetik bunga—sebuah sindiran bahwa masa kini berbeda dari masa lalu.

Di akhir puisi, taman digambarkan tetap ada—ia mengharap bunga dan cahaya, berdiri di “pertemuan rahim bumi dan rasa kasih langit”, serta menaungi semua generasi dan suara.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung reflektif dan melankolis, terutama melalui sosok kakek yang sedih. Namun ada juga nuansa kontemplatif dan tenang. Dialog yang muncul bukanlah pertengkaran, melainkan percakapan batin yang halus.

Di bagian akhir, suasana menjadi lebih filosofis dan luas—seolah taman itu abadi meski manusia terus berganti.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap antara lain:
  • Kehidupan adalah persinggahan; manusia datang dan pergi seperti pengembara.
  • Masa muda dan masa tua adalah bagian dari satu siklus yang tak terpisahkan.
  • Kenangan menjadi kekayaan batin yang tidak bisa dirampas waktu.
  • Jangan serakah memetik “bunga” kehidupan; ada hukum alam yang menjaga keseimbangan.
  • Kehidupan harus dipahami sebagai pertemuan antara unsur duniawi dan spiritual.
Puisi “Taman” karya Hijaz Yamani adalah karya yang memadukan simbol alam dengan refleksi eksistensial. Puisi ini mengajak pembaca merenungi perjalanan hidupnya sendiri. Taman dalam puisi ini bukan sekadar ruang hijau, melainkan ruang batin—tempat manusia singgah, bertanya, mengenang, dan akhirnya menyadari bahwa kehidupan terus berputar, sementara suara-suara akan selalu ada.

Hijaz Yamani
Puisi: Taman
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.