Tanah
tanah mestinya dibagi-bagi
jika cuma segelintir orang
yang menguasai
bagaimana hari esok kamu tani
tanah mestinya ditanami
sebab hidup tidak hanya hari ini
jika sawah diratakan
rimbun semak pohon dirubuhkan
apa yang kita harap
dari cerobong asap besi
hari ini aku mimpi buruk lagi
seekor burung kecil menanti induknya
di dalam sarangnya yang gemeretak
dimakan sapi
Solo, 1989
Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Tanah" karya Wiji Thukul membawa pesan-pesan sosial dan politik yang mendalam tentang hak-hak petani dan penguasaan tanah.
Isu Pertanahan: Puisi ini membahas isu penting tentang kepemilikan dan penggunaan tanah. Thukul menyoroti pentingnya mendistribusikan tanah secara adil kepada masyarakat, terutama para petani. Pemikiran ini mencerminkan perjuangan petani Indonesia yang sering kali mendapati diri mereka terjebak dalam sistem pertanahan yang tidak merata.
Hak Asasi Manusia: Dalam puisi ini, Thukul menegaskan hak asasi manusia mendasar, seperti hak atas tanah untuk mencukupi kehidupan. Dia merujuk pada pentingnya membagi tanah secara adil sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk bertani dan mencari nafkah.
Perjuangan dan Perubahan: Pernyataan bahwa "tanah mestinya ditanami" menunjukkan bahwa pemilik tanah seharusnya merawat dan memanfaatkannya dengan baik. Ini juga bisa diartikan sebagai ajakan untuk merawat alam dan lingkungan.
Gambaran Buruk tentang Masa Depan: Dalam bait terakhir puisi ini, Thukul menggunakan imaji burung kecil yang menanti induknya di sarang yang gemeretak dan dimakan oleh sapi. Ini bisa diinterpretasikan sebagai gambaran tentang masa depan yang tidak menentu atau ketidakpastian yang dihadapi oleh petani yang kehilangan hak-hak mereka atas tanah.
Puisi "Tanah" menggambarkan pentingnya keadilan dalam kepemilikan tanah dan hak petani atas tanah. Thukul mengkritik penguasaan tanah oleh segelintir orang yang mengabaikan hak-hak masyarakat luas. Puisi ini juga merayakan perjuangan untuk perubahan dan hak asasi manusia yang mendasar.
Karya: Wiji Thukul
Biodata Wiji Thukul:
- Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
- Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
- Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
