Puisi: Tanéyan (Karya Mahwi Air Tawar)

Puisi “Tanéyan” karya Mahwi Air Tawar mengangkat tema perjalanan hidup yang diibaratkan seperti sebuah pelayaran di laut yang tidak selalu tenang.

Tanéyan

Di ranjang pasirmu
Aku terus meronta
Waktu merangkak
Menyeberangkan hidupku
ke laut kelam

Dari ranjang pasirmu
Kudengar dengung panjang luruh,
Sumbu damar perahu
Setengah karam memberi tahu:

Mungkin malam akan menunda lagi
Kedatangan pagi

Tetapi angin sakal datang tiba-tiba
Mengoyak layar, mematahkan anjungan
Melaburkan asin keringatku
Pada buritan setengah terkubur

Engkaukah topan penghabisan
Memberangkatkan perahu hidupku?

Matahari melintangkan garis tipis
Ranjang pasirmu semakin amis.

Semakin amis.

Sumber: Tanéyan (PT Komodo Books, 2015)

Analisis Puisi:

Puisi “Tanéyan” karya Mahwi Air Tawar menghadirkan gambaran puitis yang kuat tentang pergulatan hidup, perjalanan batin, serta hubungan manusia dengan ruang yang penuh kenangan. Melalui simbol laut, perahu, angin, dan pasir, penyair membangun suasana yang reflektif sekaligus penuh ketegangan emosional.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah perjuangan hidup dan pergulatan batin manusia dalam menghadapi ketidakpastian nasib. Penyair tampak berada dalam situasi yang sulit, seolah-olah hidupnya sedang berada di ambang perubahan atau bahkan kehancuran.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema perjalanan hidup yang diibaratkan seperti sebuah pelayaran di laut yang tidak selalu tenang.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di “ranjang pasir”, sebuah metafora yang dapat dimaknai sebagai tempat persinggahan, kenangan, atau bahkan batas antara kehidupan dan kehampaan. Dari tempat tersebut ia merasakan waktu berjalan perlahan, sementara hidupnya seperti sedang diseberangkan menuju “laut kelam”.

Penyair mendengar tanda-tanda dari alam—dengung yang luruh, perahu yang setengah karam, serta sumbu damar yang hampir padam. Semua itu seolah memberi isyarat bahwa perjalanan hidupnya sedang berada dalam kondisi genting.

Ketika angin datang secara tiba-tiba dan merusak layar serta anjungan perahu, situasi menjadi semakin dramatis. Penyair kemudian mempertanyakan apakah badai tersebut adalah akhir dari perjalanan hidupnya.

Makna Tersirat

Beberapa Makna Tersirat yang dapat ditemukan dalam puisi ini antara lain:
  • Kehidupan sebagai perjalanan yang rapuh. Perahu yang setengah karam menggambarkan kehidupan manusia yang mudah goyah oleh berbagai peristiwa.
  • Pergulatan menghadapi nasib. Angin sakal dan topan melambangkan cobaan hidup yang datang secara tiba-tiba dan dapat mengubah arah perjalanan seseorang.
  • Kesadaran akan keterbatasan manusia. Penyair tampak tidak mampu sepenuhnya mengendalikan keadaan, sehingga hanya dapat bertanya dan merenungi apa yang sedang terjadi.
  • Kehilangan atau perubahan yang tidak terhindarkan. Gambaran pagi yang mungkin tertunda menandakan harapan yang tertahan atau masa depan yang tidak pasti.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tegang, muram, dan penuh perenungan. Pembaca dapat merasakan kegelisahan penyair yang menghadapi situasi tidak menentu di tengah simbol-simbol laut dan badai.

Di bagian akhir puisi, suasana menjadi semakin berat ketika digambarkan bahwa “ranjang pasir” semakin amis, seolah menandakan adanya penderitaan atau luka yang semakin terasa.

Puisi “Tanéyan” karya Mahwi Air Tawar memperlihatkan bagaimana perjalanan hidup manusia dapat digambarkan melalui simbol-simbol alam, khususnya laut dan perahu. Dengan bahasa yang padat dan penuh metafora, penyair menghadirkan gambaran tentang kegelisahan, perjuangan, dan ketidakpastian yang sering menyertai kehidupan manusia.

Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa hidup ibarat pelayaran panjang: terkadang tenang, tetapi sering pula dihadapkan pada badai yang tidak terduga.

Mahwi Air Tawar
Puisi: Tanéyan
Karya: Mahwi Air Tawar

Biodata  Mahwi Air Tawar:
  •  Mahwi Air Tawar lahir pada tanggal 28 Oktober 1983 di Pesisir Sumenep, Madura.
© Sepenuhnya. All rights reserved.