Tentang Pohon dan Merpati
Anak-anak melepas tujuh merpati putih
Di tengah hari
Di rimbun dedaun
Angin mengantarkan pesan
Agar disampaikan kepada tahta semesta
Sayapnya membawa luka
Cengkeram kaki dibungkus kafan
Tatapan matanya menembus cakrawala
Bersama desah daun jati
Bumi yang tergali membuka diri
"Tancapkan akarmu, agar siap kubuahi"
Bisik bumi pada mahoni
Dan cerita tentang merpati siang itu
Disambut hujan dan nyanyian batu-batu
"Dengarkan khotbahku!"
Dihentak hujan
Digoyang pepohonan
"Dengarkan khotbahku!"
Lewat getar bumi
Dan desis ular di batu kali
"Dengarkan khotbahku!"
Lalu semuanya diam
Hanya terdengar petikan tangan
Burung yang terbang
Pohon yang telah tertanam
Menyiapkan diri menjadi saksi
Dari peradaban yang tercerabut dari akar
Imogiri, 1 Muharam 2007
Sumber: Imaji dari Batas Negeri (Isac Book, 2008)
Analisis Puisi:
Puisi “Tentang Pohon dan Merpati” karya Evi Idawati merupakan puisi yang kaya simbol dan sarat makna ekologis serta spiritual. Melalui gambaran merpati putih, pohon, bumi, hujan, dan batu-batu, penyair membangun suasana reflektif tentang hubungan manusia dengan alam dan peradaban.
Puisi ini tidak hanya menghadirkan panorama alam, tetapi juga menyuarakan peringatan yang kuat tentang akar kehidupan yang mulai tercerabut. Bahasa yang digunakan puitis dan simbolik, sehingga pembaca diajak menafsirkan lebih dalam setiap larik yang disampaikan.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah hubungan antara alam, kehidupan, dan peradaban manusia. Puisi ini menyoroti pentingnya akar—baik secara harfiah sebagai akar pohon maupun secara simbolik sebagai akar nilai dan peradaban. Alam digambarkan sebagai entitas yang hidup, berbicara, bahkan berkhotbah kepada manusia.
Puisi ini bercerita tentang anak-anak yang melepaskan tujuh merpati putih di tengah hari. Merpati tersebut membawa pesan kepada “tahta semesta”. Namun, sayapnya membawa luka dan kakinya dibungkus kafan, memberi kesan bahwa pesan yang dibawa bukanlah pesan ringan, melainkan pesan penderitaan.
Bumi kemudian digambarkan berbicara kepada pohon mahoni, memintanya menancapkan akar agar siap berbuah. Hujan, batu, dan pepohonan seakan menyuarakan khotbah yang sama: sebuah seruan agar manusia mendengarkan pesan alam.
Pada bagian akhir, semuanya menjadi diam. Pohon yang tertanam bersiap menjadi saksi atas peradaban yang tercerabut dari akar—sebuah gambaran kuat tentang krisis nilai atau kerusakan lingkungan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan kritik terhadap peradaban manusia yang melupakan akar nilai dan keseimbangan dengan alam.
Merpati putih yang biasanya melambangkan kedamaian digambarkan membawa luka dan dibungkus kafan, menyiratkan bahwa perdamaian atau kemurnian telah terluka.
Seruan “Dengarkan khotbahku!” yang diulang-ulang menegaskan bahwa alam sedang memberikan peringatan. Namun, pada akhirnya semua menjadi diam—sebuah simbol bahwa manusia mungkin telah mengabaikan pesan tersebut.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa alam akan tetap menjadi saksi, meskipun peradaban manusia berubah atau bahkan runtuh.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sakral, intens, dan penuh peringatan. Ada nuansa dramatik ketika hujan, bumi, dan pepohonan seolah bersuara lantang. Namun di akhir puisi, suasana berubah menjadi hening dan reflektif, meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa manusia harus kembali pada akar—baik akar moral, spiritual, maupun ekologis.
Puisi ini mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam dan tidak tercerabut dari nilai-nilai dasar kehidupan. Jika akar tercabut, maka peradaban akan kehilangan pijakan.
Puisi “Tentang Pohon dan Merpati” karya Evi Idawati merupakan refleksi mendalam tentang alam dan peradaban manusia. Melalui simbol-simbol alam yang hidup dan bersuara, penyair menghadirkan kritik sekaligus peringatan tentang pentingnya kembali pada akar kehidupan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam serta nilai-nilai yang menjadi fondasi peradaban. Dalam keheningan akhirnya, tersimpan pesan kuat bahwa alam akan selalu menjadi saksi atas pilihan-pilihan manusia.
Karya: Evi Idawati
Biodata Evi Idawati:
- Evi Idawati lahir pada tanggal 9 Desember 1973 di Demak, Jawa Tengah, Indonesia.