Terdampar
//I//
di Peking aku berkaca, wajah seorang manusia
nyata membayang kemenangan
kulintasi Huang Ho dan Yang Tse
wajah tambah seribu kejayaan dan harapan
di Kunning cinta terpisah di batas nyata
terasa menenggelamkan dalam-dalam kasih seorang ibu
di Rangun cinta utama mati di arus peminta-minta
membangkitkan kepayahan dan kepedihan
ketika seika melintasi jalan berdebu
akau terisi di bumi begini amis
terpisah dari kasih dan cinta manusia
karena dahaga lapar teman keperihan ketika matahari dan bulan
di Peking bernapas cinta manusia abadi
di Rangun aku bernapas kematian hari
//II//
ya, burung-burung yang datang dan pergi di Rangun kini
Jakarta kaki di jendela dan pintu kamar ini
biar bahagia datang membenarkan hati
chigan datanglah di musim hampir tua
karena usia mengetuk dan bertanya
biarlah bahagia menemukan rupa di wajah hampa
andai puluhan pagoda sole mengemas atas hampa
seribu Budha di tiang batu menghadap barat
meminta cinta kedamaian umat
pada kebiruan hari setipis ini
biarkan seribu pagoda dan Budha ceritakan damai
dan chigan hidup di jendela beribu kali
tapi bila hati tiada meronta untuk mencari
damai tiada kekal jika hati tetap menanti
//III//
di Peking aku senyum menemukan hati sedamai ini
di Manila, Hongkong dan Rangun cintaku tak pernah kembali
terdampar di bumi hitam, hitamlah negeri jutaan tahun
hanya jika api terbakar di Peking atas lautan dan lembah
dan bila warnanya menjilat Mnila, Hongkong dan Rangun
pasti aku berkaca atas manusia abadi.
Rangun, 11-11-58
Sumber: Gugur Merah (Merakesumba, 2008)
Catatan:
- Seika = becak di Rangun.
- Chigan = burung alap-alap yang mendatangkan bahagia bila hingga di jendela dan pintu.
- Pagoda sole = pagoda mengemas yang besar di Rangun.
Analisis Puisi:
Puisi “Terdampar” karya F.L. Risakotta adalah sajak perjalanan yang sarat refleksi kemanusiaan, cinta, dan keterasingan. Dengan latar lintas kota—Peking, Rangun, Manila, Hongkong, hingga Jakarta—puisi ini memotret pengalaman batin seorang pengembara yang menyaksikan perbedaan wajah peradaban. Simbol-simbol lokal seperti seika (becak di Rangun), chigan (burung alap-alap pembawa bahagia), dan pagoda sole (pagoda emas besar di Rangun) memperkaya makna kultural dalam puisi ini.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan pencarian kedamaian di tengah perbedaan peradaban. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang cinta kemanusiaan, harapan akan kebahagiaan, dan kesadaran bahwa damai sejati tidak hanya bergantung pada simbol-simbol luar.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan seseorang melintasi berbagai kota Asia—Peking (Beijing), Huang Ho, Yang Tse, Kunning (Kunming), Rangun (Yangon), Manila, Hongkong, hingga Jakarta.
Di Peking, ia menemukan wajah manusia yang membayang kemenangan dan cinta yang terasa abadi. Namun di Rangun, suasana berubah: cinta mati di arus kemiskinan, peminta-minta, dan keperihan hidup. Ketika seika melintasi jalan berdebu, penyair merasakan bumi yang amis, terpisah dari kasih manusia.
Pada bagian kedua, muncul harapan melalui simbol chigan—burung pembawa bahagia. Juga simbol pagoda sole dan seribu Buddha yang memohon kedamaian. Namun penyair menegaskan: damai tidak akan kekal jika hati tidak bergerak mencarinya.
Bagian akhir mempertegas rasa “terdampar”—terasing di bumi hitam—meski masih ada harapan bahwa api kemanusiaan dapat menyala kembali.
Makna Tersirat
Makna Tersirat dalam puisi ini cukup luas dan filosofis:
- Peking sebagai simbol harapan dan peradaban yang memberi makna. Di sana, penyair “bernapas cinta manusia abadi.”
- Rangun sebagai simbol keterasingan dan kemiskinan. Cinta utama mati di arus peminta-minta, menggambarkan realitas sosial yang keras.
- Chigan sebagai simbol harapan kebahagiaan. Namun kebahagiaan tidak cukup hanya datang dari luar; hati harus siap menerimanya.
- Pagoda dan Buddha sebagai simbol spiritualitas. Tetapi simbol keagamaan tidak menjamin damai jika hati tetap kosong.
- Terdampar sebagai metafora eksistensial. Bukan sekadar tersesat secara geografis, tetapi terasing secara batin.
Puisi ini menyiratkan bahwa kedamaian sejati adalah kerja batin, bukan semata hasil lingkungan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini bergerak dinamis:
- Optimis dan penuh harapan di Peking.
- Muram dan getir di Rangun, dengan gambaran kemiskinan dan keperihan.
- Reflektif dan spiritual pada bagian tentang pagoda dan Buddha.
- Eksistensial dan kontemplatif di bagian akhir saat penyair merasa terdampar.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Beberapa amanat yang dapat ditarik:
- Kedamaian tidak cukup dicari di luar; ia harus tumbuh dari dalam hati.
- Simbol agama dan kemegahan fisik tidak menjamin kebahagiaan sejati.
- Cinta kemanusiaan adalah napas yang membuat hidup bermakna.
- Perjalanan geografis tidak selalu sejalan dengan kedamaian batin.
Puisi “Terdampar” karya F.L. Risakotta adalah refleksi mendalam tentang pencarian cinta dan kedamaian dalam perjalanan lintas budaya. Dengan simbol kota, burung, pagoda, dan api, penyair menunjukkan bahwa manusia bisa saja berkelana jauh, tetapi tetap merasa terdampar jika hati belum menemukan damai.
Sajak ini mengingatkan bahwa kedamaian bukan semata hasil lingkungan, melainkan hasil keberanian hati untuk mencari dan menyala dalam cinta kemanusiaan.
Karya: F.L. Risakotta