Tukang Arang
kau lalu depanku, pardo
berbaju keringat dan hitam kemoceng
langkahmu gontai dihimpit beban
nasib memberat tanpa pengasihan
kau tetap berjalan pardo
walau matahari keras menggigit
himpitan hidup ikuti kau seperti bayangan
kau dan ia seperti mainan kejaran
ku takut, pardo
jika nanti kau terkalahkan
sedang di rumah banyak mulut ternganga menunggu.
Sumber: Gugur Merah (Merakesumba, 2008)
Analisis Puisi:
Puisi “Tukang Arang” karya F. L. Risakotta adalah sajak yang kuat dalam menggambarkan kehidupan rakyat kecil. Dengan bahasa yang lugas namun puitis, penyair menghadirkan sosok “Pardo”, seorang pekerja keras yang hidupnya dihimpit beban ekonomi dan nasib yang tak ramah. Puisi ini bukan hanya potret seorang tukang arang, tetapi juga gambaran tentang perjuangan manusia kecil di tengah kerasnya kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan hidup rakyat kecil. Puisi ini juga mengangkat tema tentang ketabahan, beban ekonomi, serta ketidakadilan nasib yang menimpa kaum pekerja kasar.
Puisi ini bercerita tentang seorang tukang arang bernama Pardo yang berjalan dengan tubuh penuh keringat dan hitam oleh arang. Langkahnya gontai karena beban berat yang dipikul, baik secara fisik maupun batin.
Matahari yang “keras menggigit” menggambarkan situasi kerja yang berat. Nasib dan himpitan hidup mengikuti Pardo seperti bayangan, tak pernah lepas. Penyair juga mengungkapkan kekhawatiran: jika Pardo kalah oleh kerasnya hidup, ada keluarga di rumah yang menunggu, dengan “mulut ternganga”, berharap pada hasil jerih payahnya.
Makna Tersirat
Beberapa makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Arang sebagai simbol kerasnya hidup. Hitam dan kotor, tetapi menjadi sumber penghidupan.
- Bayangan sebagai lambang beban yang tak terpisahkan. Himpitan hidup selalu mengikuti, tak memberi ruang untuk beristirahat.
- Mulut ternganga di rumah menyimbolkan tanggung jawab keluarga yang mendesak.
- Matahari yang menggigit bukan hanya panas fisik, tetapi simbol tekanan hidup yang menyakitkan.
Puisi ini menyiratkan kritik sosial terhadap realitas kehidupan masyarakat kecil yang terus bekerja tanpa jaminan kesejahteraan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa:
- Penuh empati dan iba, karena penyair memanggil nama Pardo secara langsung.
- Berat dan getir, menggambarkan tekanan hidup yang konstan.
- Cemas, terutama pada bagian akhir ketika muncul kekhawatiran tentang kemungkinan Pardo kalah oleh nasib.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini:
- Menghargai kerja keras rakyat kecil yang sering luput dari perhatian.
- Menyadari bahwa di balik pekerjaan kasar, ada tanggung jawab besar terhadap keluarga.
- Menumbuhkan empati sosial terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Puisi “Tukang Arang” karya F. L. Risakotta adalah potret menyentuh tentang perjuangan hidup seorang pekerja kecil. Melalui sosok Pardo, penyair menghadirkan gambaran nyata tentang kerasnya kehidupan dan tanggung jawab keluarga yang tak bisa dihindari. Sajak ini mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat—dan lebih peduli—pada mereka yang setiap hari berjuang di bawah panas matahari demi sesuap kehidupan.
Karya: F.L. Risakotta