Puisi: Yang Maharahman (Karya Djamil Suherman)

Puisi “Yang Maharahman” karya Djamil Suherman menegaskan bahwa kehidupan manusia berada dalam sistem kosmis yang penuh rahmat dan keadilan.
Yang Maharahman
(Ar-Rahman, 1-23)

Yang maharahman
telah mengajarkan Qur'an
menitahkan insan
menjelaskan perkataan
beredar matahari bulan dengan aturan
rumput kekayuan tunduk pada Tuhan
ditinggikan langit diletakkan neraca keadilan
biar kamu tak curang dalam timbangan
tegakkan keadilan jangan kamu susutkan takaran
dijadikan bumi bagi manusia dan binatang
atasnya tumbuh buah dan kurma berseludang
juga bijian berbatang dan buah haruman
nikmat Tuhan manakah kalian dustakan?
ia jadikan manusia dari bagai tembikar
dan jadikan jin dari api pembakar
nikmat Tuhan manakah kalian dustakan?
dialah Tuhan pengatur timur dan barat yang kembar
nikmat Tuhan manakah kalian dustakan?
dialirkannya dua lautan bertemulah asin dan tawar
berdinding antaranya hingga terpencar
nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan?
dari keduanya terjelmalah mutiara dan merjan
nikmat Tuhan manakah kalian dustakan?

Sumber: Kabar dari Langit (1986)

Analisis Puisi:

Puisi “Yang Maharahman” karya Djamil Suherman merupakan puisi religius yang kuat, yang jelas terinspirasi oleh ayat-ayat awal Surah Ar-Rahman. Struktur repetitif “nikmat Tuhan manakah kalian dustakan?” menjadi poros retoris yang menghidupkan semangat pengingat (tazkirah) dalam puisi ini.

Puisi ini tidak sekadar memindahkan makna ayat ke dalam bentuk puitik, tetapi juga menegaskan kembali pesan tauhid, keadilan, dan kesadaran kosmis dalam bahasa yang padat dan ritmis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keagungan dan kasih sayang Tuhan (Ar-Rahman) serta kesadaran manusia atas nikmat-Nya. Selain itu, terdapat pula tema:
  • Keadilan sebagai hukum kosmis dan moral.
  • Keseimbangan alam semesta.
  • Peringatan terhadap manusia yang lalai dan ingkar.
Puisi ini menempatkan manusia dalam lanskap besar ciptaan Tuhan—matahari, bulan, laut, bumi, hingga mutiara—sebagai bagian dari sistem yang penuh rahmat dan keteraturan.

Makna Tersirat

Makna Tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Keseimbangan sebagai hukum ilahi. Neraca dan timbangan menjadi simbol bahwa kehidupan harus dijalani dengan keadilan dan kejujuran.
  • Manusia sebagai makhluk yang sering lalai. Pengulangan pertanyaan retoris menyiratkan kecenderungan manusia untuk lupa atau mengingkari nikmat yang melimpah.
  • Kesatuan antara alam dan wahyu. Pengajaran Qur’an disejajarkan dengan penciptaan alam semesta, menunjukkan bahwa wahyu dan alam sama-sama tanda (ayat) kebesaran Tuhan.
  • Rahmat sebagai fondasi penciptaan. Kata “maharahman” menegaskan bahwa seluruh sistem kosmos berdiri di atas kasih sayang Ilahi.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa khusyuk, agung, dan penuh kekhidmatan. Nada repetitifnya menciptakan irama seperti lantunan doa atau tilawah, menghadirkan atmosfer sakral yang mengajak pembaca merenung.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat utama puisi ini adalah agar manusia:
  • Mensyukuri nikmat Tuhan.
  • Menegakkan keadilan dan tidak curang dalam timbangan kehidupan.
  • Menyadari bahwa alam semesta adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan.
  • Tidak mengingkari rahmat yang telah dianugerahkan.
Puisi ini merupakan pengingat moral dan spiritual agar manusia hidup dalam kesadaran tauhid dan tanggung jawab etis.

Puisi “Yang Maharahman” karya Djamil Suherman adalah puisi religius yang menggugah kesadaran spiritual melalui penggambaran keagungan ciptaan Tuhan dan seruan untuk bersyukur. Dengan menggemakan pesan Surah Ar-Rahman, puisi ini menegaskan bahwa kehidupan manusia berada dalam sistem kosmis yang penuh rahmat dan keadilan.

Pertanyaan retoris yang terus berulang bukan sekadar pengingat, tetapi juga cermin bagi pembaca: sudahkah kita menyadari dan mensyukuri nikmat yang tak terhitung jumlahnya?

Puisi: Yang Maharahman
Puisi: Yang Maharahman
Karya: Djamil Suherman

Biodata Djamil Suherman:
  • Djamil Suherman lahir di Surabaya, pada tanggal 24 April 1924.
  • Djamil Suherman meninggal dunia di Bandung, pada tanggal 30 November 1985 (pada usia 61 tahun).
  • Djamil Suherman adalah salah satu sastrawan angkatan 1966-1970-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.