Puisi: Syair di Pematang (Karya Suminto A. Sayuti)

Puisi "Syair di Pematang" karya Suminto A. Sayuti mengekspresikan pemikiran mendalam tentang kehidupan, pertumbuhan, dan perjalanan manusia dalam ...
Syair di Pematang

seperti engkau lihat sendiri
segenggam benih sawi telah ditebar
lalu berkecambah di tanah gembur
dan akulah petani itu, menunggu dengan sabar
agar tumbuh dan berkembang, di sela-sela umur

berdiri di tengah pematang
kehidupan pun bermula
membaca bayang-bayang
diri pun tumpah di kubangan tanda

Kertodadi, 2004

Sumber: Bangsal Sri Manganti (2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Syair di Pematang" karya Suminto A. Sayuti adalah sebuah karya yang mengekspresikan pemikiran mendalam tentang kehidupan, pertumbuhan, dan perjalanan manusia dalam simbolisme seorang petani yang menanam benih sawi di sebuah pematang.

Benih Sawi sebagai Simbol Pertumbuhan: Benih sawi yang ditebar oleh petani mencerminkan simbol pertumbuhan dan perkembangan dalam kehidupan manusia. Seperti benih yang tumbuh menjadi tanaman yang kuat, manusia juga mengalami perkembangan fisik dan mental sepanjang hidupnya.

Kesabaran Petani: Dalam puisi ini, petani digambarkan sebagai sosok yang sabar, menunggu dengan sabar agar benih sawi tumbuh dan berkembang. Ini menggambarkan bahwa dalam kehidupan, kesabaran seringkali diperlukan dalam menghadapi perubahan dan perkembangan.

Tanah Gembur: Tanah gembur adalah metafora untuk lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Ini dapat diartikan sebagai lingkungan yang baik dan positif yang memungkinkan perkembangan seseorang.

Kehidupan Bermula: Baris "berdiri di tengah pematang, kehidupan pun bermula" mengindikasikan awal dari sebuah perjalanan. Pematang di sini dapat diartikan sebagai titik awal atau fase baru dalam kehidupan seseorang.

Membaca Bayang-Bayang: Frasa ini mengacu pada refleksi diri dan pemahaman yang mendalam tentang perjalanan kehidupan. Membaca bayang-bayang mencerminkan introspeksi dan pengenalan diri yang lebih dalam.

Kubangan Tanda: "Diri pun tumpah di kubangan tanda" adalah ungkapan yang bisa diartikan sebagai pemahaman diri yang lebih mendalam. Kubangan tanda mungkin menggambarkan proses pemikiran yang mendalam dan penuh makna.

Puisi "Syair di Pematang" mengajak pembaca untuk merenungkan perjalanan kehidupan, pertumbuhan, dan pemahaman diri. Melalui gambaran seorang petani dan benih sawi, puisi ini menyampaikan pesan tentang kesabaran, perkembangan, dan pemahaman tentang hidup yang terus berkembang sepanjang perjalanan manusia.

Suminto A. Sayuti
Puisi: Syair di Pematang
Karya: Suminto A. Sayuti

Biodata Suminto A. Sayuti:
  • Prof. Dr. Suminto A. Sayuti lahir pada tanggal 26 Oktober 1956 di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.